Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
X-CHAP 3: Was Was


__ADS_3

...“Ancamannya, membuat kita cemas....


...Walau tertutupi oleh senyuman, karena kehadiran raga baru.”...


Masih di lantai dasar perusahaan Techsophistic Farm,


Jaro menyerahkan kertas dan batu tersebut kepada salah satu karyawan. "Tolong semuanya tetap waspada! Karena kertas itu berisi ancaman dari anak pak Widagda!"


Setelah itu, Ayah Hardi muncul di hadapan mereka semua. Beliau terlihat cemas dan langsung merangkul pundak Ansa.


"Jaro, siapa yang merusak kaca itu?" tanya ayah.


Karyawan tersebut memberikan batu dan kertas kepada Ayah Hardi. Sejenak semuanya hening.


"Ranu masih berkeliaran di sekitar sini, Pa," ucap Jaro.


"Iya. Karena dia telah hafal lingkungan perusahaan ini," balas ayah.


"Dulu mas Ranu pernah mengajakku berkeliling ladang, Ro. Dia sangat hafal dengan tata letak perusahaan ini," sambung Ansa.


"Papa, Ansa hamil."


Ucapan Jaro seakan menjadi alasan ayah untuk tersenyum walaupun dalam keadaan panik seperti ini.


"Pa. Sementara ini, Ansa dan saya akan pergi ke desa. Saya--"


"Mau apa, Ro?" ucap Ansa.


"Kamu lagi hamil, Sa. Aku ngga mau dia menyakiti mu."

__ADS_1


"Benar, Jaro. Setidaknya, seminggu kalian pergi ke sana. Dan di sini Papa akan mengurus si Ranu itu!" kata ayah.


"Ngga mau. Biarin aja dia mendatangiku. Nanti aku akan melemparnya dengan pupuk kandang!"


"Ya ampun. Serius loh, Sa. Kamu harus jaga anak kita."


"Papa dan Jaro khawatir denganmu, sayang. Anggap aja, kamu lagi cuti hamil. Ya kan?"


"Eh? Kehamilanku baru beberapa bulan, Pa. Masih belum mempengaruhi fisikku," dalih Ansa.


"Hm." Ayah mengerutkan dahinya. "Sekarang kalian pulang ke rumah pak Awi ya? Jangan pulang ke rumah, karena mungkin si Ranu bisa datang kapan saja ke rumah," titah ayah.


Jaro mengangguk, Ansa menggeleng.


"Tapi Pa, aku mau bertemu mama Ais dan memberitahu kabar kehamilan ku ini."


"Nanti Papa dan Mama akan ke rumah ayah Awi. Oke? Sekarang turuti Papa dan ikut pulang bersama Jaro ya?" Ayah mengelus pucuk kepala Ansa.



Mereka berdua disambut oleh kakak ipar mereka, Oriza. Ansa duduk di ruang keluarga sembari mengelus perutnya. Sedangkan Jaro pergi menuju kamar untuk berganti baju.


"Ansa! Mau aku ambilkan minum?" tanya Oriza.


"Eh? Boleh Mbak Ori."


Setelah meneguk segelas air, Oriza memulai obrolan dengan Ansa. Beberapa menit kemudian, Jaro menghampiri mereka yang sedang haha hihi.


"Mbak Ori! Aku titip Ansa di desa ya?"

__ADS_1


Ansa memanyunkan mulutnya. "Ngga mau! Aku mau di sini aja~" rayunya.


Sebelumnya,


Di kamar, Jaro menghubungi kakaknya, Deniz. Dirinya bercerita tentang ancaman dari si buaya danau saat tadi di perusahaan.


Lalu jawaban Deniz membuat Jaro tersenyum. Ternyata esok hari, Deniz dan Oriza berencana untuk pergi ke desa. Sehingga Jaro memiliki rencana untuk menitipkan Ansa di sana.


Kembali ke hari ini,


"Aku bisa pergi ke pesantren, Ro. Apakah kamu masih ingat, dulu mas Ranu pernah ke desa itu untuk membakar sawah," dalih Ansa.


"Huff." Jaro memilih bungkam dan pergi.


"Sa, memang ada masalah apa sih?" bisik Oriza.


Ansa mulai bercerita kejadian saat dirinya dan Jaro di perusahaan ayahnya. Cerita Ansa tersebut, membuat Oriza menyetujui saran dari Jaro.


"Ngga apa, Sa. Kamu ikut aku dan Deniz pergi ke rumah nenek di desa."


"Tapi Mbak, aku bisa pergi ke--"


Tiba-tiba ucapan Ansa terhenti. Dirinya mulai merasa bersalah dan khawatir karena keluarga Jaro juga terlibat oleh kejahatan Ranu.


Satu hal yang Ansa pikirkan, bahkan dirinya ingin cepat-cepat ke sana.


"JARO!! JARO!!" pekik Ansa.


Oriza langsung ikut berdiri dan menenangkan Ansa. "Ada apa, Sa?!"

__ADS_1


***


__ADS_2