
Malam hari,
Setelah berganti baju di kamar, Ansa bertemu langsung dengan Ibu Liana, ibunya Jaro di ruang keluarga. Suasana perang dingin mulai mencair. Bukan menjadi hangat, tapi mulai mendidih.
"Kamu ... mirip seperti ibumu. Si wanita penggoda itu." Ibu menatap lekat wajah Ansa.
Namun di mata Ansa, beliau terlihat tak senang dengan kehadiran dirinya. "Saya Ansa, Bu."
"Kamu ngapain ke sini? Mau menggoda anak-anak saya?!" Suara ibu mulai meninggi.
"Sa-saya tadi diantar Jaro ke sin—"
"JARO!!" teriak ibu.
Beberapa menit kemudian, Jaro telah berada di hadapan dua wanita kesayangannya. "Ada apa sih, Bu? Aku masih ganti baju di kamar."
"Kenapa kamu membawa anak wanita penggoda itu ke sini?! Sekarang usir dia dari rumah ini!"
"Aku ngga mau." Jaro menatap wajah beliau. "Dia adalah istriku," lirihnya.
"Oh gitu! Jadi kamu sedang berhalusinasi menjadi suami dari wanita ngga benar kayak dia gitu? Lihat aja bajunya! Robek sana sini!"
"Jangan lupa! Ibu juga seperti itu!" protes Jaro.
"Ngga!! Ibu bukan penggoda! Karena ibu yang telah menghabisi penggoda itu!" ujar ibu dengan suara serak. "Rupanya ia ingin menghantuiku dengan mendatangkan anaknya ke sini ya?"
"Berarti anaknya juga harus lenyap!!" teriak beliau.
Ibu langsung bergerak maju, mengulurkan kedua telapak tangan dan mengarahkannya ke leher Ansa. "Dia akan menyusul ibunya!!"
Ansa tak bisa melawan. Kekuatan ibu sangat besar dari dirinya. "A-akh ukh ...."
Namun Jaro memekik, "BU!! Lepaskan tangan Ibu!!"
Saat berusaha melepaskan tangan ibunya, dia memanggil kakaknya. "MAS DENIZ!! TOLONG BANTU AKU!"
Jaro berhasil melepas kedua tangan ibunya. Deniz segera memeluk ibu dari belakang. Sedangkan Jaro langsung memeluk Ansa yang menangis.
"Ngga, ngga apa. Sudah sayang, cup cup. Maaf, maaf, Sa," bisik Jaro.
__ADS_1
"Dia harus m*ti! Ibu ngga suka melihat wajahnya! Hah, hah, harghh!!"
Ibu kembali berusaha melepaskan diri dari pelukan Deniz. Dengan sigap, para pelayan segera membawa ibu ke kamar di lantai satu, diantar oleh Deniz.
"Kalian tak perlu menengok ibu, Sa, Ro. Aku khawatir ibu akan melukai Ansa lagi. Kalian di dalam kamar saja ya?" pinta Deniz.
Jaro mengangguk dan menuntun Ansa ke kamar mereka. Ansa menggenggam kuat pegangannya kepada suaminya.
Di kamar,
Jaro menyuruh Ansa untuk berbaring di atas kasur. Dia menatap sendu wajah hingga leher Ansa yang terdapat bekas merah dari ibu.
Jaro mengecup punggung tangan Ansa. "Maafkan ibuku, Sa. Dia menjadi emosi saat melihatmu yang menurutnya mungkin seperti mamamu."
Ansa membuang pandangannya dari Jaro. "Kamu su-sudah dengar sendiri, 'kan? Atau sebenarnya kamu dan mas Deniz sudah tahu?"
"Tahu apa?" Jaro mendekatkan wajahnya.
Ansa menoleh, dan kini wajah mereka saling berdekatan. "Tadi ibu bilang, Ro. Kamu benar-benar ngga mendengarnya?"
"A-apa? Maksudmu dengar apa? Alasan ibuku marah? Iya—"
"Aku sudah tahu, Sa .... "
"Kapan kamu baru mengetahuinya?"
"Saat aku dan mas Deniz pergi ke rumahmu 3 tahun yang lalu. Aku menemukan cincin di bawah kasur. Setelah dibawa ke toko perhiasan, ternyata cincin itu milik ibu."
Ansa mencengkeram kedua bahu Jaro. "Ke-kenapa kamu baru bilang?! Aa!!" Dia memukul-mukul dada Jaro.
"Kenapa, kenapa Ro?! Jawab!!"
"Karena mas Deniz menganggap kalau bukti cincin itu masih kurang kuat untuk—"
"Terus kenapa justru ayahmu yang masuk penjara?" tanya Ansa dengan tatapan nanar.
"Waktu kita berkunjung ke rumahmu, papa sempat menanyakan alasan aku dan mas Deniz ke sana, 'kan? Setelah itu, papa bilang kalau pengadilan sudah menuruti kemauan beliau." Jaro berhenti bicara, membiarkan istrinya berpikir.
"Papa memang sempat membenci ayah dan kamu, Ro. Karena aku cerita tentang kamu yang ingin mengeluarkan aku dari sekolah," balas Ansa.
__ADS_1
"Ta-tapi apa ini?! Apa sekarang kamu menyalahkan papa? Hah?!"
"Sa, tenang dulu." Jaro mengusap pipi Ansa.
"Semuanya salah. Ayah dan mama berselingkuh, papa menyuap pengadilan supaya menangkap ayah, dan ... ibu yang mendorong mama. Semua itu salah," tutur Jaro.
"Kita juga salah." Ansa membuang wajahnya.
"Ngga ... ngga, Sa. Kita berusaha memperbaikinya, dengan menikah. Sedangkan orang tua kita, mereka belum memperbaikinya," tutur Jaro.
"Jadi, sebentar lagi ibu akan menggantikan posisi ayah. Entah kapan, tapi sebentar lagi kita akan mendengar kabar itu dari pengadilan."
Ansa menggeleng. "Aku bukan sedih karena pelakunya adalah ibu, Ro. Tapi kamu, kamu yang ngga jujur."
"Aku, aku takut kamu bakal pergi."
"Oh ya? Kamu bisa mencegahku! Waktu aku mau loncat dari balkon, kamu menangkap ku, 'kan?"
"Iya, maaf." Jaro mencium lagi punggung tangan istrinya.
"Ro. Sebaiknya jangan. Cabut aja laporan tentang kesalahan ibu, Ro." Tiba-tiba Ansa mengatakan itu, membuat Jaro heran.
"Kenapa, Sa? Ngga apa, biarkan ibu mendapat hukuman atas perbuatannya."
"Ini yang anak kandung dari ibu, siapa ya? Aku atau kamu? Kenapa kamu tega banget sih, Ro?"
"Ngga bisa, Sa. Ibu tetap harus menggantikan ayah!"
"Biarkan ayahmu yang berada di sana!"
"Jangan libatkan gender, Sa! Tapi lihatlah kejahatan apa yang sudah ibu lakukan!" Jaro mengatur nafasnya. Dirinya tersulut emosi.
Ansa merapatkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya. Kamu tega, Ro!!
"Kalau ibu ngga dihukum, kamu sudah tahu apa yang akan terjadi. Kayak tadi itu, ya kan? Kamu dicekik oleh ibu!"
Air mata menetes dari kedua mata Ansa. "Terserah! Aku capek memikirkan itu semua!"
Ansa memunggungi Jaro, karena dirinya masih kesal. Jaro dengan kepintarannya dalam hal membujuk rayu, tak butuh waktu lama untuk membuat istrinya melupakan perdebatan mereka. Dengan cara meraih puncak bersama.
__ADS_1