
..."Sebenarnya, ini biskuit apa?...
...Fortune cookies atau Poisonous cookies?”...
Di kamar Ansa,
“Bu! Tolong ambilkan obatku!" pinta Ansa dengan suara paraunya.
“Jangan, Non. Lebih baik saya ambilkan susu hangat saja ya? Supaya Non Ansa lebih tenang," tolak pembantunya dengan lembut.
“Ngga mau, Bu! Aku ingin tidur! Aku—” balasnya dengan bentakan.
Bukk!
Sayup-sayup terdengar suara benda terbanting, disusul oleh suara teriakan dari luar kamarnya. Sepertinya, suara tersebut adalah milik orang tuanya yang memecah keheningan rumah istana ini.
"Bu!! Cepat ambilkan obatku!" pekik Ansa kembali, disertai tangisnya yang pecah.
Pembantunya segera ke luar dari kamar Ansa untuk mengambil obat. Di dalam kamar berdinding biru, Ansa terduduk lemas dan pikirannya masih tertuju dengan kejadian tadi sore.
Ah sial! Handphone-ku masih dipegang papa! Padahal aku ingin memberitahu ini semua kepada mas Deniz dan Jaro. Ya sudah, besok saja aku langsung menemui mereka! pikirnya.
Hari Selasa, di meja makan.
Jaro mengecek grup percakapan mereka bertiga, berharap ada pesan dari Ansa. Namun nihil dan hanya terlihat pesan yang telah terkirim tadi malam.
Akhirnya dia mengetahui secara langsung, bahwa ibunya adalah wanita penggoda. Aku yakin sekali, kalau itu bukanlah Ayah! batinnya sembari mengunyah.
__ADS_1
Tadi malam, Jaro dan Deniz membahas foto yang dikirim oleh Ansa. Mereka terus berdebat mengenai warna dan model jas, celana, sepatu, hingga jam tangan yang digunakan oleh pria dalam foto tersebut.
Hampir satu jam mereka membahas hal tersebut. Tiba-tiba Deniz berbisik, "Lihat tanggal dan waktu foto ini diambil, Ro! Untunglah si angsa itu tidak mematikan pengaturan tanggal dan waktu di kameranya."
Jaro melihatnya, dan waktu tersebut bertepatan dengan mereka berdua yang baru keluar dari sekolah saat sore hari. Dan tanpa mereka sangka, ayah menjemput mereka. Alasannya karena beliau ingin bertanya-tanya mengenai hari pertama sekolah mereka.
Lamunan Jaro dibuyarkan oleh panggilan Deniz kepadanya. "Ro, ada apa?" bisik Deniz.
Jaro segera menggelengkan kepalanya, dan kembali menyuapkan makanannya. Beberapa menit kemudian, dirinya hampir tersedak karena mendengarkan cerita dari ibu.
"Kemarin sore, Ibu melihat anaknya bu Roro lari ke luar dari perusahaan modelling sambil nangis loh. Pas aku tanya ke bu Roro, 'Anaknya kenapa Bu?' Dia langsung jawab, 'Dia sedang salah paham. Mungkin tentang sekolah barunya.' Terus dia pergi gitu aja, huh. Padahal aku ingin bertanya ada masalah apa di sekolah kita," tutur Ibu yang lumayan panjang.
"Setahuku ya, Yah. Belum pernah ada tuh, masalah sampai anak didik kita menangis seperti anaknya itu. Hah, pasti anaknya itu yang cengeng!" lanjut beliau.
"Ya, benar Bu. Saat ospek, para senior mereka sudah menanyakan alasan masuk ke sekolah kita tuh apa, masukan dan kritikan untuk sekolah kita, bahkan bakat dan minat mereka masing-masing tuh apa. Biar mereka semua tuh menjadi betah di sekolah kita. Haduh, masa' aku mengurus satu anak yang cengeng seperti itu sih?! Hm," balas ayah dengan sejelas-jelasnya.
"Syukurlah," lirih ibu sembari mengelus dadanya.
"Oh bagus! Segera tanyakan masalahnya di sekolah ini. Nanti malam, langsung ceritakan semuanya kepada ayah ya?"
Jaro mengangguk dan tersenyum, tapi sedetik kemudian handphone-nya bergetar.
Di sisi lain,
Keluarga Hardiyata sedang menikmati sarapan dan lamunan masing-masing di meja makan. Suasana pagi di sini masih mencekam, terutama ayah dan ibu Ansa yang sibuk dengan mengunyah makanan.
"Sa ...," panggilannya membuat Ansa segera menoleh. "Ini handphone-mu. Itu sudah Papa pasang dengan alat pelacak. Jadi kamu akan selalu tahu keberadaan kita semua," tutur ayah.
"Terima ka-sih, Pa," jawabnya dengan pelan.
__ADS_1
"Papa mau berangkat sekarang. Permisi," ucap beliau yang bangkit dan melangkah pergi dari meja makan.
Ansa dan ibunya hanya menatap sendu ke arah ayah yang berlalu tanpa senyuman. Hm, rumah ini semakin kosong dan dingin. Mas Ranu, kapan kamu kembali? Huhu! ucap Ansa dalam hati.
"Sa, lain kali kamu jangan seperti itu lagi ya?" lirih ibu.
Maksudnya apa, Ma? Apanya yang jangan aku lakukan? Melaporkan tindak kecurangan Mama? Haha! batin Ansa.
"Kalau aku menyontek saat ujian, apakah Mama ngga akan melaporkanku ke guruku? Kalau ngga, berarti Mama menyayangi anak Mama yang suka melakukan kesalahan, 'kan?" dalih Ansa.
"Bukan gitu, Sa. Setiap orang pasti melakukan kesalahan. Dan setiap orang yang salah pasti akan mendapatkan hukuman, serta ampunan. Iya, Mama akui kalau tindakan kemarin memang salah. Tapi itu bukan salah Mama semua, Sa. Sehingga tadi malam, papa langsung memberi Mama kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan Mama," jawab ibu dengan lugas.
"Dan saat ini, papa sedang menuju perusahaan pria yang kamu lihat kemarin, namanya pak Roi. Beliau dari perusahaan kosmetik. Kebetulan pak Roi sedang membahas produk kosmetiknya yang akan bekerja sama dengan Mama," lanjutnya.
Ansa hanya menunduk, dan pikirannya masih teringat jelas dengan suara ibunya yang mirip seperti suara dirinya yang sedang disentuh oleh Ranu. Ansa mengetik sesuatu di layar handphone-nya. Maaf Ma, tapi aku mulai meragukan Mama.
"Mas! Cek grup!" bisik Jaro kepada kakaknya.
Jaro dan Deniz sama-sama berhenti sarapan dan fokus menatap layar handphone mereka masing-masing. Sejenak mereka membaca pesan dari Ansa, lalu saling menatap.
"Dia berani sekali, Mas. Ya ampun!" bisik Jaro.
"Haduh, temanmu itu sangat gegabah, Ro. Kalau sudah ketahuan seperti ini, ibunya maupun ayah kita semakin berhati-hati dalam bersembunyi!" balas Deniz yang juga berbisik.
Jaro hanya mengangguk dengan wajah sendunya. Benar kata Mas Deniz, huf, batinnya.
Jaro kembali mengetik pesan balasan untuk Ansa di grup De Rosa. "Sa, nanti pulang sekolah, kita ketemuan lagi ya? Di taman kayak kemarin," ketiknya.
__ADS_1