Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Epilog_3


__ADS_3


Tiga bulan kemudian,


Ansa dan Jaro tengah disibukkan oleh urusan pekerjaan masing-masing.


Jaro membantu pekerjaan Ayah Awi di sekolah, sembari melanjutkan kuliah magister di kampus Intence. Sedangkan Ansa membantu pekerjaan Ayah Hardi di bagian penanaman dan perawatan tanaman di kebun.


Selama itu, Ansa terus mengenalkan dan mengajari Jaro tentang agama Islam. Dia menggunakan bahasa yang lembut dan mudah dipahami oleh Jaro.


Membuat hidup mereka mulai terarah dan menjadi satu tujuan : mencari ampunan dan pahala dari Allah SWT.


Sore hari, Ansa membawa pulang sekantung jeruk oranye ke rumah Daghiawi. Dirinya sangat doyan memakan jeruk tersebut.


"Ini, Yah, Mas, Ro. Kalau mau, ambil aja di kulkas."


Lalu dirinya menutup kulkas dan duduk di ruang makan.


"Kamu dari kemarin makan banyak jeruk terus loh, Sa. Perutmu ngga mules?" tanya Jaro sembari mengusap pucuk kepala istrinya.


"Ngga. Ini enak banget loh. Cobain nih."


"Ansa ... besok acara pernikahan Deniz loh. Kami semua mengkhawatirkan mu," ujar ayah.


"Itu kecut loh, Sa. Warnanya masih agak kuning. Aku ambil yang warna oranye aja deh!" kata Jaro.


Jika ada Ibu Liana ataupun Ibu Roro, mungkin mereka akan langsung mengerti dengan tingkah aneh Ansa. Namun di sini dirinya tinggal bersama tiga pria, yang tak terlalu paham tentang wanita.



Esok harinya, pukul sepuluh pagi.


Saat ini berlangsung acara pengantin yang sedang melakukan tradisi dari keluarga pihak wanita. Semua anggota keluarga dan juga pengantin menggunakan pakaian berwarna cokelat.


Awalnya Ansa dan Jaro fokus memperhatikan, tapi sesaat kemudian Ansa pamit pergi.


"Mau ke mana?" bisik Jaro.


"Aku mau ke mama, Ro. Mau minta obat."


"Masih sakit kepalamu?" Jaro mulai cemas. "Mungkin kamu terlalu serius kerjanya. Ayo, aku antar ke mama, Sa."


Ansa mengangguk dan menurut. Dirinya menggandeng lengan Jaro dan berjalan perlahan keluar dari ruang utama.


Di salah satu kamar,


Mereka bertemu Bu Aisyah dan menceritakan apa yang terjadi dengan Ansa. Membuat kedua netra Bu Aisyah melebar.


"Oh ya? Ya sudah, Ansa istirahat di sini aja. Jaro kembali ke ruang utama ya? Kan keluarga Jaro yang punya hajatan di sini."

__ADS_1


"Iya, Ma. Aku balik ke sana ya." Jaro beralih ke Ansa. "Kamu istirahat, jangan mikirin apa-apa dulu ya?"


Ansa mengangguk, supaya suaminya menjadi tenang.


Malam harinya,


Jaro melihat Ansa yang semakin pucat, membuatnya semakin cemas. "Aku panggilkan dokter ke sini, ya?"


"Ngga mau, besok aja."


"Sayang. Mukamu pucat loh!" Jaro memeluknya. "Ada yang mengganggu pikiranmu kah?"


Ansa menggeleng dan memejamkan matanya.


"Ya sudah. Tidur aja ya," lirih Jaro.



Esok hari,


Mereka berdua telah selesai salat subuh berjamaah. Ansa menyalami Jaro. Lalu Jaro mencium kedua pipi gembil, kening, dan bibir Ansa.


"Jaro! Aku punya kabar. Entah kamu akan senang atau biasa aja."


"Apa?"


"Bentar ya."


Jaro menerimanya dan melihat dua benda tersebut. "Ini ... testpack?" tanyanya.


"Yup! Ternyata dari kemarin tuh, katanya mama Ais sih, kalau tiba-tiba aku suka makanan kecut, bisa jadi aku lagi hamil. Terus mama beliin aku ini, Ro."


"Eh tadi sebelum ngambil wudu', aku coba tes tuh. Ternyata muncul dua garis!"


"Kok bisa?" tanya Jaro dengan dahi berkerut.


Ansa yang tersenyum, langsung berubah menjadi terkejut. "A-apa maksudmu?"


Jaro menyengir dan memeluk istrinya. "Alhamdulillah, akhirnya ya."


"Jaro jahat ih! Kaget aku tuh!" Ansa menepuk pundaknya.


"Iya, iya maaf."


Jaro menatap wajah Ansa. "Habis ini, kita ke perusahaan papa ya? Aku masuk kuliahnya siang kok!"


"Hu'um. Terus kita ke rumahku dan bilang ke mama Ais ya?"


"Siap, Nyonya!"

__ADS_1


Di perusahaan Techsophistic Farm,


Jaro dan Ansa memasuki perusahaan tersebut. Saat ini mereka menunggu pintu lift terbuka. Tangan mereka saling bergandengan.


"Gimana ya, reaksi papa? Menurutmu gimana? Apa mungkin juga mirip seperti ayah?" tanya Ansa.


"Iya, mungkin," jawab Jaro sembari tersenyum.


Mereka berdua sepertinya memang ditakdirkan untuk membuat kisah cinta yang hebat!


Saat mereka bersama, semua rintangan maupun ujian mampu mereka hadapi. Segala tawa dan tangis telah mereka rasakan bersama.


Ansa seperti setengah hati yang Tuhan satukan dengan setengah hati jodohnya, yaitu Jaro.


Saling mengerti, memahami, dan menerima. Turunkan ego. Jika tidak, itu hanya akan menyakiti diri sendiri.


Saling mendukung dan mengingatkan, tanpa menghakimi. Itu akan membuat orang lain lebih menghormatimu sebagai figur yang baik, bijak dan lembut.


Jika menghakimi maka hanya akan ada balasan tatapan tajam, sumpah serapah, ketidakpedulian, kebencian. Tak ada segan, yang ada malah enyah.


Pyarr!


Salah satu kaca pecah di dekat meja administrasi. Semua orang yang di sana segera menuju tempat tersebut.


Jaro refleks memeluk Ansa yang berada di sampingnya. Namun pandangan mereka mengarah ke kerumunan para karyawan perusahaan ini.


"A-ada apa itu, Ro?" Suara Ansa bergetar.


"Ngga sayang. Ngga ada apa-apa. Kamu tunggu di sini ya? Aku yang ke sana untuk mengecek."


Jaro melangkah maju, tapi tangannya ditahan oleh Ansa. "Aku ikut," lirih Ansa.


"Tetap di belakangku ya?"


Mereka melangkah dan membuka kerumunan tersebut. "Ada apa ini?!" Suara Jaro menggema keras.


"Ini, Pak, Bu." Salah seorang karyawan menyerah batu dan secarik kertas.


"Apakah batu ini yang tadi memecahkan kaca?"


"I-iya, Pak."


Jaro dan Ansa membaca tulisan di kertas tersebut.


^^^Aku akan kembali merebut perusahaan kalian. Dan juga Ansa akan menjadi milikku. Tunggu aku ya.^^^


^^^Tertanda,^^^


^^^Ranu.^^^

__ADS_1


...***** TAMAT *****...


__ADS_2