Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Slam Dunk_2


__ADS_3

Di toilet,


Ansa terus saja berkumur-kumur di wastafel. Di depan kaca, dirinya menunjukkan wajah penuh emosi. Mulutnya manyun dan otaknya menyumpah serapah pelaku yang menyosor bibirnya.


Mei telah keluar dari kamar mandi, dengan berpakaian rapi. Dia melihat temannya yang terus di depan wastafel.


"Sa. Kamu kenapa? Ayo segera ganti baju, Sa."


Ansa mengangguk, tapi tatapannya mengarah ke pantulan wajahnya di cermin.


"Mei. Jaro pacaran dengan Sari sejak SD, 'kan?"


"Kayaknya sih, iya. Aku ngga tahu, Sa. Lagipula, fans-nya Jaro tuh banyak! Ngga cuma Sari," balas Mei.


"Kamu juga fans-nya Jaro?"


"Eh? Dulu aku sempat nge-fans sih. Tapi sekarang ngga. Aku lebih nge-fans sama pundi-pundi uang, haha!" jelas Mei.


Ansa memegang kedua pipinya, melihat kulitnya yang mulai kusam. Sejak kepergian ibunya, tak ada lagi yang mengingatkannya untuk merawat diri ataupun rutin pergi ke klinik kecantikan. Namun, mungkin nanti asistennya yang akan mengingatkan dirinya.


Ansa masih bingung. Sebenarnya, dia benci atau cinta?


Lalu suara Mei terdengar lagi. "Jaro tuh ramah ke semua orang, Sa."


__ADS_1


Pulang sekolah,


Ansa melangkahkan kakinya menuju gedung SD. Perasaan was-was masih menyelimutinya. Ditambah lagi saat ada yang memanggil dirinya.


"Ansa!"


Itu suara siapa? Ansa membalikkan badannya. Kedua netranya melihat sosok yang memiliki wajah mirip Jaro. Dia tersenyum dan membiarkan sosok tersebut menghampirinya. "Ya, Mas?"


"Sudah lama kita ngga bertemu ya. Grup chatting De Rosa juga sudah mati ya?" tanya Deniz, kakaknya Jaro.


"I-iya. Maaf Mas. Itu karena Jaro dan aku sedang ada salah paham." Ansa tak berani menatap mata Deniz.


"Huf, anak itu memang–" Deniz memutus ucapannya, dan memijat keningnya. "Dia bahkan menganggap aku sebagai pelakunya, Sa. Ya ampun."


Ansa terkejut mendengar apa yang Deniz katakan. Bocah itu benar-benar seperti ayahnya. Kewarasannya sudah habis.


"Dia ngga bisa menjaga mulutnya, Mas. Dari kemarin, aku terus diejek."


"Hm ... dia memang terus membela ayah, Sa. Beberapa hari kemarin, aku dan dia sudah ngga saling mengobrol. Karena di rumah, dia sangat suka mengurung diri di kamar."


Oh ya? Jadi dia seperti itu sekarang, batin Ansa.


Deniz memberitahu Ansa tentang penyelidikannya terhadap Orbifly. Mereka terus mengobrol sembari tersenyum maupun mengerutkan dahi. Hingga di akhir cerita Deniz, Ansa meluapkan emosinya.


"Mas Deniz!! Semua bukti sudah mengarah ke ayah kalian! Terus mau membuktikan apa lagi, Mas?!"

__ADS_1


"Tapi ini aneh, Sa. Saat itu, ayahku benar-benar terus bersama Jaro."


Saat mereka saling berdebat, tiba-tiba salah satu murid berseragam SMP menyenggol Ansa dari belakang. Bak domino, tubuh Ansa menabrak Deniz. Untunglah Deniz segera menahan kedua pundak Ansa dengan kedua tangannya.


Walaupun begitu, mereka tetap cukup dekat dan terlihat seperti berpelukan. Ansa melangkah mundur, sembari menoleh ke belakang.


"Eh! Maaf, maaf ya," ucap seseorang yang baru menyenggol Ansa. Dia menoleh ke arah Ansa dan langsung pergi.


Ansa mencoba mengingat orang yang tadi menabraknya. Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi, di mana? batinnya.


"Sa. Kalau tingkah Jaro mulai ngga waras, langsung hubungi aku ya?" pinta Deniz.


"Jaro sudah ngga waras, Mas. Dia dengan teman wanitanya kemarin menyiramku dengan air comberan," ucapnya.


Deniz menghembuskan nafas dengan kasar. Dia juga mengacak rambutnya. "Itu sudah kelewatan, Sa. Kenapa kamu ngga bilang ke aku sih?"


"Aku kira, Mas Deniz juga mendukungnya."


Deniz meminta maaf atas kelakuan adiknya. Lalu dirinya pamit dan pergi meninggalkan Ansa yang masih berdiri di dekat gedung SD.


Gitu ya jadi kakak. Adik yang salah dan kakak ikut merasa salah, ucap Ansa dalam hati.


Beberapa menit kemudian,


Pikiran Ansa masih fokus mengingat seseorang yang tadi menyenggol dirinya. Tak lama, dia membelalakkan kedua matanya.

__ADS_1


Wajah itu ... dia teman satu gengnya Sari, 'kan?


***


__ADS_2