Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 16 Live, Love, Lie


__ADS_3

...“Selamat datang di planet bumi!...


...Dimana kehidupan penuh cinta, pasti ada kebohongan yang mengiringi!”...


Esok hari,


Kabar kematian salah satu model yang terkenal di kota Metropolitan ini mulai tersebar luas. Karangan bunga bela sungkawa mulai berdatangan dan memenuhi tepi halaman rumah.


Di dalam rumah, Ansa dan ayahnya menunggu kedatangan ambulance. Namun yang datang memasuki rumah adalah Bibi Ning beserta suami dan anak tunggalnya.


Ya! Bibi Ning adalah kakak ipar dari ayahnya Ansa. Suami dan anaknya adalah paman dan kakak sepupu Ansa.


"Bibi!!" Dia memeluk Bibi Ning, dan kakak sepupunya juga ikut memeluk Ansa. Tangis mereka berdua pecah, kecuali kakak sepupunya.


"Sabar, Dik. Sabar." Tangannya sembari mengusap kepala Ansa.


Ansa hanya bungkam dan terus mengeluarkan air matanya saat di dalam dekapan Bibi Ning. Sesaat kemudian, Ansa melepas pelukannya dan mengajak mereka untuk duduk di atas tikar.


"Ansa ... kemarin itu gimana kejadiannya?" lirih Bibi Ning.


"Bu," bisik Paman Pradipta sembari menggelengkan kepalanya.


"Kemarin itu ...." Ansa mulai mengatur nafasnya. Lalu dirinya menceritakan semua apa yang terjadi. Dan diakhiri oleh jawaban ayahnya, karena suara parau Ansa telah habis.


"Polisi sedang menyelidiki apa yang terjadi di kamar kami, melalui CCTV. Mungkin saja ... ini hanya kasus bunuh diri," jawab ayah.

__ADS_1


"Ngga, Pa ...," tukas Ansa. "Mama ngga mungkin bunuh diri. Karena, mama sedang hamil." Dirinya menunduk, takut jika amarah ayahnya meledak.


"Hamil? Ta-tapi aku–" ucap ayah yang tersendat. Mungkin beliau merasa bahwa istrinya hamil bukanlah karena kelakuannya.


Tiba-tiba, aparat kepolisian menuruni tangga dan melangkah menuju ke arah mereka berlima. Semua menampakkan senyum tipis dan menganggukkan kepalanya, dengan mengerutkan dahi.


"Permisi Pak Hardi. Penyelidikan terhadap CCTV telah kami lakukan. Dan ternyata pelakunya telah merusak CCTV di setiap jalan yang ia lewati. Kemungkinan rute yang pelakunya lewati adalah : Dari atap di dekat Orbifly, lalu dia pergi menuju kamar anda, dan akhirnya mendorong istri anda dari balkon kamar,” tutur salah seorang polisi.


“Lalu setelah kami mengecek kamar anda, kami melihat jejak sepatu berukuran laki-laki dewasa memenuhi lantai di dekat ranjang. Anehnya, barang-barang berharga di dalam kamar anda tidak ada yang hilang, Pak.” Ucapan polisi tersebut membuat semuanya terperangah.


“Kami juga mengecek data kunjungan Orbifly milik anda. Kemarin rumah ini menerima kunjungan sekitar pukul dua siang. Nak, apakah kamu masih ingat pukul berapa kamu melihat ibumu jatuh?” lanjut salah seorang polisi.


“I-iya. Kebetulan saat itu saya sedang menelpon kakak saya. Ini buktinya.” Tangan Ansa menyerahkan handphone-nya kepada polisi tersebut.


“Itu anak dari teman saya, Pak. Anak saya memanggilnya dengan sebutan kakak, karena saat ini kakaknya itu sedang kuliah di luar negeri,” jelas ayah.


“Oh begitu. Pak Hardi, sepertinya ini memanglah kasus pembunuhan. Pelaku kemungkinan adalah musuh dari Anda maupun istri Anda.” Polisi tersebut fokus sejenak menatap handphone miliknya, dan mulutnya bersuara.


“Musuh anda sepertinya tidak suka dengan kehamilan istri anda. Karena dari hasil autopsi di rumah sakit, istri anda meninggal dalam kondisi hamil.”


“Saya tidak tahu bahwa istri saya sedang hamil, Pak. Dia merahasiakan ini dari saya,” balas ayah.


“Pa-pa ….” Ansa mengeluarkan suara paraunya. “Mama bersama si bapak pemilik sekolah Mandraguna. Mama bilang kalau mama mencintainya. Dan, dan yang di dalam perut mama itu adalah adikku dengan Jaro. Aku dan Jaro membahasnya di grup chatting.”


Polisi tersebut segera mengecek handphone Ansa yang masih berada di genggamannya. Raut wajahnya terlihat cemas, berbeda dengan raut wajah ayah yang terlihat sedang menahan emosi.

__ADS_1


“Ansa. Kenapa kamu ngga pernah menceritakan ini semua kepada Papa?”


“Sudah Pa! Tapi … waktu itu aku mendapat foto mama dengan bapak penjual kosmetik, bukan bersama ayahnya Jaro yang pemilik sekolah!” bentaknya.


"Oh maaf Pak Hardi. Jadi ... ini masalah istri Anda yang berselingkuh ya? Sejak kapan Anda mulai merasa tingkah istri Anda terlihat aneh?" tanya polisi.


"Saya tidak tahu," balas ayah.


Ansa kembali meneteskan air mata, karena pikirannya kembali melayang menuju obrolan dirinya dengan Jaro dan Deniz. "Pak. Tolong tangkap pemilik sekolah Mandraguna. Dia pasti sudah membunuh mama!"


"Iya, Nak. Kami akan segera pergi ke sekolah Mandraguna, untuk menemui pemilik sekolah tersebut."


Tiba-tiba Ansa merasa ada yang menggenggam tangannya. Alhasil dia mendongakkan kepala, ternyata kakak sepupunya yang melakukan hal itu sembari tersenyum.


"Mas Ding," panggil Ansa.


"Iya, Dik." Dingga mengusap pucuk kepala adik sepupunya tersebut. "Setelah ini, aku bakal sering mampir ke rumah sanggar ya? Supaya rumah itu menjadi agak ramai oleh kehadiranku dan bibi Ning! Oke?"


Ansa mengangguk dan tersenyum kepada kakak sepupunya yang pandai menghibur dirinya. "Mas kok masih suka botakin rambut sih?" olok Ansa.


"Bukan suka, Dik. Tapi wajib. Hm, jadi gitu ya, sekarang berani mengolok aku. Sini! Aku akan membuatmu geli!"


Mas Ding ngga berubah. Dia tetap menjadi sepupu yang humoris, walaupun telah sekolah militer untuk menggapai impiannya menjadi tentara. Hehe, batin Ansa dalam hati.


__ADS_1


__ADS_2