
Kalian kira kang nyindir kena writers block ya?
Ya engga lah! 😋
Banyak kejadian yg bisa dijadikan cerita. kalau ingin nyindir, ya lewat bercerita 🙃
Cuma masalah manajemen waktu kang nyindir aja sih 😅
Punten 🙏
.
.
.
...“Aku mencari ke segala penjuru....
...Kamu milikku....
...Tak boleh ada yang menyakiti bulu indahmu!”...
Menjelang sore, masih di vila TechFarm.
Jaro terpaksa mendobrak pintu vila tersebut, walau gagal. Mana mungkin bisa satu bahu cukup untuk mendobrak pintu yang terkunci?
Dia mencari orang-orang yang berada di perkampungan, berbatasan dengan pagar kebun TechFarm. Langkah seribunya disertai dengan teriakannya meminta tolong.
"Tolong!! Adakah yang tahu tentang pemegang kunci vila di tengah kebun itu?!"
Tak lama, satu pria mendekat ke Jaro. Seorang pria dengan pakaian hijau muda yang lusuh keluar dari rumah yang terlihat sederhana. Iya, rumah. Bukan gubuk.
Di sini sudah tak ada gubuk. Tapi, penampilan mereka tetap terlihat seperti kekurangan pakaian ganti. Ish! Mungkin saja mereka baru selesai bekerja di kebun, dan sedang istirahat! batin Jaro.
"Ada apa ya, Pak?"
"Ada yang terkunci di dalam vila! Bapak tahu siapa juru kunci vila atau ahli kunci di sekitar sini?" tanya Jaro.
"Saya juru kuncinya. Ayo, Pak!" balas pria berbaju hijau muda tersebut.
Beberapa menit kemudian,
Pintu dapat terbuka, dan Mei segera jatuh terduduk di lantai. Wajah Mei pucat dan terus menangis. Membuat kedua pria tersebut merasa cemas dan iba.
"Mei! Mei! Ansa kemana?" Jaro memegang kedua bahu sahabatnya tersebut.
"Ta-tadi, tadi kami mau pulang. Terus aku biarkan Ansa masuk ke mobil terlebih dahulu. Huhuhu! Aku salah! Aku yang salah!!" pekik Mei.
"A-apa? Terus apa?!" Jaro agak membentaknya.
"Aku ke toilet. Terus mau keluar, aku justru dikunci di vila ini. Ansa, dia dibawa oleh si sopir baj*ng*n itu!"
__ADS_1
"Apa alasannya Mei? Apa kamu tahu?"
Mei menggeleng sembari sesegukan. "Sopir itu, ku dapat dari pelanggan setiaku."
"Ya sudah. Aku tahu pelanggan setiamu itu berkomplot dengan si buaya danau itu, Mei!"
Jaro menuntun Mei memasuki mobilnya yang terparkir di depan teras. Lalu dirinya berterima kasih kepada juru kunci vila tersebut.
"Kalau ada orang yang mencurigakan kemari ... Oh salah. Maksud saya, kalau ada orang asing yang mendekati tempat ini, tolong langsung hubungi saya ya, Pak."
Jaro menyerahkan kartu namanya kepada juru kunci tersebut. "Saya mohon bantuannya. Karena istri saya, yang juga adalah anak tunggal pemilik perusahaan ini sedang diculik."
"I-iya, Pak. Apakah Bapak sudah menghubungi pak Hardi?" tanya juru kunci tersebut.
"Nanti saya hubungi. Saya akan berusaha mencarinya terlebih dahulu."
Selama perjalanan, Mei berusaha menghubungi si angsa menggunakan handphone miliknya dan milik Jaro secara bergantian. "Ansa. Ansa. Angkat dong Sa!" protesnya.
"Tadi aku engga bisa menghubunginya, Mei. Coba kamu hubungi bibi Ning."
"Menurutmu, Ansa dibawa ke sana?"
"Mungkin. Mungkin aja pelakunya adalah Ranu, si buaya itu! Dia tak akan menyerah untuk--"
"Ro! Jadi ayahnya mas Ranu itu namanya pak Roi?!" sergah Mei.
"Bukan, Mei. Namanya pak Widagda."
"Oh ya?!" Pandangan Jaro tak lepas dari jalanan dan kemudinya. "Ngga apa. Kita coba datangi si Ranu itu!"
Di sisi lain,
"Turunkan aku!! Tolong!! Tolong!!"
"Nyonya, tolong kerja samanya ya. Saya ngga akan menyakiti Nyonya. Saya hanya mengikuti perintah," ucap sopir tersebut.
"Perintah siapa?!"
"Nyonya Mei."
"Pembohong!! Mei ngga akan memaksa aku pergi seperti ini!" pekik Ansa.
Semua pintu mobil dikunci. Andai dirinya tak sedang hamil, mungkin dirinya akan nekat untuk mengambil alih kemudi. Walau dirinya tak bisa menyetir.
Handphone? Sopir tersebut telah membuang handphone Ansa dari jendela mobil selama perjalanan.
Di sanggar,
__ADS_1
Jaro menekan klakson mobil beberapa kali supaya semua orang bisa memperhatikan dan memaki dirinya. Tak apa, supaya Ranu melihatku dan merasa cemas!
"RANU! KELUAR LU!"
Karena tak sabar, bahkan ombak mulai meninggi, Jaro berlari meninggalkan Mei menuju studio musik. "RANU!"
Orang-orang yang masih mengingat dirinya, salah satunya adalah Tris, segera menahan Jaro yang akan membuat keributan.
"Bro, Bro. Sabar Bro. Tenang dulu."
"Ngga bisa! Gua ngga bisa tenang! Pasti dia pelakunya! Ranu!! Sini lo!"
"Ranu masih di kamar mandi, Ro. Sabar dikit yaelah." Tris menenangkan Jaro, yang mungkin terdengar seperti meremehkan.
"Kagak bisa, Tris! Istri gua hilang! Ansa hilang! Ansa diculik!"
Semuanya menganga, termasuk Bibi Ning yang baru saja berdiri di pelataran yang tak jauh dari pintu masuk studio musik. Ditambah lagi Ranu yang muncul dari balik pintu.
"Woi! Sini lo!"
Tangan Jaro menyambar kerah baju Ranu. "Di mana Ansa?! Jawab!"
"Akh! Gua kagak tau! Apa-apaan sih lu!" balas Ranu.
"Bohong! Lu 'kan yang culik--"
"Ro! Dari tadi Ranu di sini. Dia ngga kemana-mana kok!" balas Tris.
Buk!
Jaro tak tahan lagi, hingga kepalan tangannya pun melayang. Ranu tak terima, dan membalas pukulan dari Jaro. Adu jotos pun terjadi.
"Sudah Jaro, Ranu!" bentak Bibi Ning.
Kedua netra mereka memerah. Nafas mereka berderu kencang. Mungkin menurut mereka, peleraian tersebut hanya sebagai istirahat. Karena setelah itu, mereka kembali maju dan mulai melayangkan tangan mereka.
"Eh eh eh! Sudah Bro!" para penghuni studio musik menengahi mereka berdua.
"Di mana Ansa?! Aa!!"
"Gua kagak tahu!" protes Ranu. Serius, kali ini bukan aku yang mengganggu Ansa, batinnya.
Sekelebat ingatan mulai memenuhi pikiran Jaro. Apakah si penggoda itu adalah pelakunya?!
"Hei!" Panggilan Ranu diikuti oleh telunjuknya yang diarahkan ke Jaro. "Seharusnya dari awal kamu urus saja sekolah itu, dan memberikan Ansa kepada ku. Aku akan menjaganya sepenuh hatiku, ngga sepertimu yang tebar pesona ke anak-anak sekolah!" oloknya.
Kurang aj*r! Ternyata bukan dirinya. Jaro memutuskan untuk melangkah kembali ke mobil.
Panggilan dari Bibi Ning tak dirinya hiraukan. Perkataan Mei tak dirinya dengarkan. Karena dirinya saat ini sedang kehilangan separuh hatinya.
Ya Allah, kuatkan pundak kami. Beri aku tahu lokasi Ansa saat ini, Ya Rabb
__ADS_1
***