Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 26 Bloody Heart


__ADS_3

...“Mengapa kesedihan bertubi-tubi datang kepadaku?...


...Apakah kebahagiaan yang aku dapatkan terlalu banyak?”...


Keesokan harinya,


Hari ini warga Metropolitan sedang merayakan hari lahirnya kota Metropolitan. Sehingga perkantoran dan sekolahan meliburkan para pekerja dan para muridnya.


Di kamar,


Ansa merasa ada yang memeluknya. Indra penciumannya juga turut andil mencium bau parfum yang tak asing baginya.


Akhirnya, ia memutuskan untuk membuka kedua netranya. Mas ....


Ansa menyentuh pipi yang telah tumbuh cambang tipis. Sepertinya semalam, Ranu menemani dirinya yang terlelap tidur.


"Mas. Mas kok ngga pakai selimut?" Ansa menepuk pelan pipi Ranu.


"Hm?" Mata Ranu perlahan membuka. "Hoamm. Ngga, Sa. Jaket aja sudah cukup."


Ranu melihat senyuman Ansa, membuatnya segera mencuri kecupan selamat pagi. Ansa terbelalak kaget dengan tingkahnya.


"Mas, ih!"


"Apa? Hihi." Ranu terlihat senang karena berhasil menggoda Ansa.


Ansa segera melingkarkan kedua lengannya dan menarik tengkuk Ranu. Dia membalas kecupan sekilas Ranu dengan menganggap bahwa dirinya sedang memakan permen.


Sejam kemudian,


Di meja makan, Ansa meminta izin kepada Bibi Ning dan Paman Dipta untuk pergi ke suatu tempat. Tentunya ia mengajak Ranu.


"Hati-hati di jalan ya," ujar paman.


"Nanti beli bunganya di dekat pasar itu, Sa," tutur bibi.


"Saya tahu tempatnya, Bi," balas Ranu.


Hari ini Ansa kembali menggunakan mantel pemberian Ranu. Di balik mantel, pakaian yang dikenakan tak terlalu modis. Hanya kaos hijau polos dan jeans, serta sepatu kelabunya.


Di rumah Jaro,

__ADS_1


Deniz mengajak Jaro untuk pergi menemui ayahnya. Dia meminta izin kepada ibunya. "Bu, kita mau ke kantor polisi. Menemui ayah. Ibu mau ikut?"


"Jadi kalian mau meminta Ibu menggantikan posisi ayah?!" balas ibu.


Deniz terkejut dengan jawaban ibunya. Tak lama, Jaro muncul dan membantu Deniz. "Kalau Ibu ingin seperti itu, kami persilakan~"


"Jaro!"


"Kenapa sih, Bu? Ya sudah kalau ngga mau. Ayo, Mas!"


Mereka segera pergi, meninggalkan ibunya yang berdiri mematung di ruang keluarga.



Tiga puluh menit kemudian,


Ansa dan Ranu telah sampai di sebuah pemakaman. Ansa melangkah maju, diikuti oleh Ranu. Sepanjang mata memandang, di sana hanya terlihat kuburan-kuburan dengan nisan di kedua sisi.


Langkah Ansa terhenti, dan dirinya segera berjongkok di depan gundukan tanah. Lalu tangannya mencabuti rerumputan liar yang tumbuh di atas gundukan tanah tersebut.


Ranu melihat tulisan di nisan tersebut. Ya! Inilah kuburan Ibu Roro Kinanti. Saat Ansa menaburkan bunga di atas kuburan ibunya, Ranu juga ikut membantunya.


Jaro dan Deniz berhadapan dengan ayah mereka, tapi dibatasi oleh tembok dan kaca. Hanya ada lubang kecil untuk dapat mendengar suara masing-masing.


"Yah. Sebentar lagi aku akan mendapatkan informasi tentang Orbifly di rumah bu Roro. Terus apa boleh aku menggunakannya untuk menukar ayah dengan ibu?" tanya Deniz dengan suara pelan.


"Jangan, Niz. Biarkan saja," balas ayah.


"Ngga, Yah! Ayah ngga salah. Kalau Ayah melarang kami memasukkan ibu ke sini, berarti Ayah harus siap melihat ibu dihukum dengan cara lain!"


"Ro! Maksudmu apa?! Kalian ingin menghukum ibu dengan mendorongnya juga?!"


"Kita ngga seberani ibu, Yah. Maksud Jaro, mungkin orang lain yang akan melakukan hal yang sama seperti yang ibu lakukan kepada bu Roro," tutur Deniz.


"Ngga, Niz, Ro. Dia adalah ibu kalian. Biarkan dia merawat kalian sendiri, itu sudah cukup sebagai hukumannya."


"Mas Deniz akan tetap terus mencari buktinya, Yah! Ini bukan tentang kesalahan ibu, tapi juga kesalahan ayahnya Ansa!" bentak Jaro.


"Bisa ngga sih, kamu pelankan suaramu? Kontrol emosimu, Ro!" protes Deniz.


"Ngga bisa! Aku ngga akan biarkan Ayah melindungi ibu!"

__ADS_1


"Maumu apa sih?! Kenapa kamu ingin ibumu masuk ke sini?" tanya ayah.


"Karena ibu terus saja menyuruhku untuk mengeluarkan Ansa dari sekolah! Dan akhirnya apa? aku mendapat skors. Jadi ibu juga harus masuk ke sini! Atau akan ada yang menghukumnya dengan cara lain." Suara Jaro semakin lirih.


Jaro mengatakan hal itu, karena dirinya sudah merasakan hukuman dari apa yang telah diperbuatnya kepada Ansa. Namun dia baru sadar satu hal.


Kemarin aku baru membakar sanggar. Nantinya aku akan mendapat balasan apa dari Ansa ya?


Tentu saja Deniz dan Ayah Awi melotot ke arah Jaro. Anggota termuda di keluarga Daghiawi ternyata sudah memalukan nama sekolah dan ayahnya.


"Jaro!! Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu malu-maluin nama baik Ayah sih?!!" Emosi ayah memuncak.



Esok hari, Sabtu pagi di sanggar.


Semua melihat pelataran yang kini kehilangan atapnya. Ukiran-ukiran kayu yang indah telah berubah menjadi abu. Namun Ansa berusaha membuat semuanya untuk menerima ini sebagai pelajaran ke depannya.


"Mungkin suatu saat, atap pelataran yang baru akan dibuat dari bahan tahan api. Jadi untuk sekarang, kita tetap latihan di sini. Tapi kalau hujan, kita terpaksa berhenti—" tutur Ansa.


"Ansa! Para penari bisa latihan di tempat seni lukis," ujar Oura.


Ansa tersenyum ke arah Oura yang membawa pasukan pelukisnya. "Ayo semuanya! Kita ke sana untuk melihat tempat yang sudah kami siapkan!" seru Oura.


Semua orang yang berada di sanggar mulai membubarkan diri, termasuk Jaro. Namun langkahnya terhenti saat ada yang menarik paksa lengannya.


Mata Jaro menangkap sosok Ansa. "Ayo ikut aku!" bisik Ansa.


Di atap,


Ansa tak mau berbasa-basi dan langsung menanyakan alasan Jaro membakar pelataran. Jaro menyeringai sembari membuka suaranya.


"Aku membakarnya karena kemarin kamu sudah berani menantang ku, Sa. Itu masih belum seberapa. Kalau kamu lebih berani lagi, aku bisa lebih dari yang kemarin," jawab Jaro.


Ansa terdiam, bingung menyelimutinya. Lalu lirihan suaranya terdengar. "Oh gitu. Ya sudah. Aku ngga akan mengganggumu."


Jaro melihatnya yang menunduk. Dia justru menyerah? Dasar lemah!


Lalu Ansa pergi meninggalkan Jaro, tanpa ba-bi-bu. Namun hatinya berbisik, sama seperti 3 tahun yang lalu, aku tak mengganggu dan kamu juga melakukannya.


__ADS_1


__ADS_2