Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Penyatuan Visi & Misi_3


__ADS_3

Minggu depan, Jumat siang.


Bibi Ning bersama Paman Dipta membawa Ansa dan Jaro pergi menuju KUA. Mereka akan menikahkan kedua anak muda tersebut di sana.


Namun bibi dan paman tidak memberitahukan perihal pernikahan ini kepada orang tua mereka masing-masing. Karena berkaitan dengan masalah di antara dua keluarga yang masih belum selesai. Para saksi pernikahan Ansa dan Jaro adalah Paman Dipta, Bibi Ning, Deniz, Paman Lovi, dan Dingga.


Lalu bagaimana hubungan Ansa dengan Ranu?


Esok pagi, di salah satu kamar sanggar.


Ansa menuruni kasurnya, meninggalkan Jaro yang masih terlelap dalam alam mimpi. Namun ternyata Jaro menarik tubuh Ansa dan kembali dalam dekapannya.


"Ish! Ayo bangun pemalas!" protes Ansa.


Jaro mempererat pelukannya di balik selimut. "Ngga mau!"


"Ayo, Ro. Habis ini band-mu tampil di pelataran!"


"Ngga peduli," jawab Jaro yang masih memejamkan matanya.


Ansa mengelus pipi Jaro dan mencubit hidungnya. "Kamu ... kamu ngga seperti mas Ranu, 'kan?" Sekelebat ingatan tentang Ranu mulai mengisi pikirannya.


Jaro membuka matanya, sembari dahinya berkerut. "Aku sama seperti dirinya. Bentar lagi aku akan meninggalkan mu."


"Mulut kalau kebanyakan cabai yaa kayak gini! Pedas banget!" Ansa mencium bibir pedas Jaro.


Lalu Ansa melepasnya. "Yah dilepas. Lagi dong! Chu~" goda Jaro.


"Ngga mau, ngga peduli!" balas Ansa.

__ADS_1


"Ish, mengulangi perkataan ku yang tadi, hm. Memangnya Ranu sering menghubungimu? Ngga ada, 'kan?"


"Iya, ngga ada. Dia sibuk membuat rencana untuk menjatuhkan papaku! Huf ...." Ansa merasa tubuhnya semakin ditarik oleh Jaro.


Jaro mulai mendekatkan wajahnya dan mengulum seperti bayi yang menyusu ke ibunya.


"Aku mau mandi! Minggir!" Dia segera turun dengan tak memakai sehelai benang.


"Ih! Aku belum selesai!" protes Jaro, walaupun Ansa tak peduli.


Jaro kembali memejamkan matanya. Menurutnya, pertarungan tadi malam dimenangkan oleh Ansa. Jurus mematuknya sangat luar biasa!



Minggu pagi, di rumah Ansa.


“Mas Ranu benar-benar sibuk ya?” tanya Ansa.


“Iya, Sa. Ternyata aku masih disuruh magang di perusahaan itu. Barulah setelah itu aku menjadi karyawan tetap.” Ranu semakin mendekat kepadanya.


Ansa sadar dengan tingkah Ranu. “Mas! A-aku haus. Bentar ya!” Dia segera melangkah pergi.


Di dapur, Ansa menghubungi Jaro. Dia menjelaskan tentang Ranu yang sedang berkunjung ke rumahnya.


“Coba takuti dia dengan cerita tentang perusahaan, Sa. Dan besok, aku akan mengirimkan berita mengejutkan kepadanya,” ujar Jaro.


Lalu Ansa kembali ke ruang tamu dan duduk di dekat Ranu. Dia memaksakan senyumannya kepada Ranu.


“Mas ….”

__ADS_1


“Iya sayang?”


“Papa pernah cerita ke aku, Mas. Kalau papa sudah pensiun, aku akan mendapatkan jabatan tertinggi di perusahaan papa. Memangnya beneran bakal kayak gitu, Mas?” dusta Ansa.


“Tapi … kok Mas Ranu masih ikut magang dan ngga langsung dapat jabatan om Widagda ya?” lanjutnya.


Ranu terlihat memandang ke arah lain, seakan butuh waktu untuk berpikir dan menjawab pertanyaan Ansa.


“Mas?”


“Om Hardi beneran bilang gitu ke kamu, Sa? Hm … mungkin beliau hanya ingin menyemangati mu supaya kamu bisa melanjutkan mengurus perusahaan TechFarm.”


“Sebenarnya, aturan supaya diterima menjadi karyawan tetap adalah dengan mengikuti magang terlebih dahulu, Sa. Setelah itu, masih ada tahapan-tahapan lain hingga akhirnya sampai di jabatan seperti om Hardi dan ayahku,” jelas Ranu.


“Terus Mas, kalau aku sudah mendapatkan jabatan tertinggi di perusahaan papa, lalu jabatan ku yang lebih tinggi dari Mas … apa Mas akan menjatuhkan ku? Supaya Mas mendapat jabatan tertinggi di perusahaan,” ucap Ansa.


Ranu bungkam sejenak. Semenit kemudian ia membuka suaranya.


“Aku akan melakukan itu, saat perusahaan mulai bermasalah karena kinerja karyawannya. Sebenarnya bukan untuk kamu aja, Sa … tapi itu berlaku untuk semua orang yang bekerja namun ngga bisa meng-handle dengan baik.”


Pintar berdalih juga ya, batin Ansa. Kepalanya hanya mengangguk dan memberi senyuman paksa.


Lalu Ranu mendekat kepada Ansa, bahkan menggenggam tangannya. Wajah Ranu semakin mendekat, dengan niat ingin mencium Ansa.


“Sa!” panggil ayah.


Ranu mundur karena Ansa mendorongnya perlahan. “Ya, Pa!”


***

__ADS_1


__ADS_2