Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Support System_2


__ADS_3

Esok hari, pagi di kelas 11-F.


Ansa mendapat pesan di grup percakapan, sembari membelalakkan kedua matanya. Mas Deniz mengirim sesuatu di grup De Rosa! Ansa membaca isi pesan tersebut.


"Jaro, tadi pagi pak Hardi menghubungi ku. Aku mendengar di telepon, kalau Ranu mengancamnya dengan menyebut nama sekolah kita. Selain itu juga menyebut salah satu geng berand*lan yang akan datang datang bersamanya ke sekolah. Tolong kamu jaga sekolah kita ya? Sekarang aku sedang menghubungi aparat kepolisian."


Ternyata Jaro baru saja membalas pesan dari Deniz. "Haduh! Orang itu masih saja berulah ya! Iya, Mas. Habis ini aku langsung ke ruang kepala sekolah."


Ansa mengetikkan pesan di grup tersebut. "Perlu aku temani, Ro?"


"Ngga perlu, Sa," balas Jaro.


Dua jam kemudian,


Ansa membuka lagi grup De Rosa. Dirinya mulai cemas dengan suami dan kakak iparnya. Mereka kenapa mau menolong papa ya?


Saat membukanya, mata dan mulutnya juga ikut terbuka lebar. Jaro!!!


Sebelumnya,


Jaro meminta izin untuk menemui kepala sekolah kepada gurunya yang sedang berada di kelas 11-A. Setelah mendapat izin, dirinya segera berlari.


Beberapa menit kemudian, Jaro telah berkoordinasi dengan kepala sekolah. Tentu saja kepala sekolah berusaha mempersiapkan keamanan menggunakan para satpam untuk mengantisipasi jika perkataan Jaro memanglah benar.


Akhirnya Jaro kembali melangkah menuju kelasnya. Tiba-tiba, handphone-nya berdering.


"Oh ya? Mas! Jemput aku sekarang!" pekiknya.


Jaro berlari ke parkiran motor dan mengambil helmnya. Dia tak bisa mengeluarkan motornya yang berada di antara ratusan motor milik warga sekolah ini. Sehingga ia meminta Deniz untuk menjemput dirinya.

__ADS_1


Lalu sampailah mereka berdua di perusahaan Techsophistic Farm. Jaro dan Deniz berlari masuk ke sana.


Jaro menatap nanar suasana kacau di perusahaan ayah mertuanya. Mereka benar-benar ingin dihukum berat!


"Kamu tahu di lantai berapa ruangan pak Hardi?"


Jaro menggeleng. "Tapi aku yakin, papa ada di lantai paling atas."


Namun langkah mereka terhenti untuk menemui Pak Hardi. Karena muncullah sosok Ranu dan para anak buahnya yang menghadang mereka.


"Kalian di sini? Wah, berani sekali!" olok Ranu.


Jaro mengepalkan tangannya. Ingin sekali melayangkan kepalannya kepada Ranu.


"Kalian mencari dia, 'kan?" Ranu menunjuk ke arah seorang pria yang terkulai lemas.


Paman Lovi?! batin Jaro.


Tentunya Ranu bisa menahan tangan Jaro. "Cepat pergi dari sini! Sebelum aku membuatmu babak belur!"


Deniz menarik paksa adiknya supaya mundur. Dia memberi isyarat supaya tak boleh maju. Setelah itu, Deniz menatap Ranu.


"Sebenarnya, apa mau mu? Perusahaan ini? Memangnya kamu bisa mengurusnya dengan baik? Kalau kamu dan ayahmu sampai menjabat di sini, aku yakin perusahaan ini akan bangkrut!!" olok Deniz.


"Kamu hanya anak kecil! Ngga perlu sok pintar menasihati ku!!" balas Ranu.


"Di mana pak Hardi?!" teriak Jaro.


"Dia sedang bersama ayahku. Dan akan terus bersama ayahku hingga dia mau menyerahkan perusahaan ini! Haha!" Suasana menjadi gaduh oleh suara tawa Ranu dan anak buahnya.

__ADS_1


"Mas," lirih Jaro. "Aku akan melawan mereka, supaya bisa menaiki lift itu," bisiknya.


"Hei!! Kalian sedang berencana apa? Mau melawan kami? Coba ngaca dulu! Kalian cuma berdua!"


Ucapan Ranu membuat mereka kembali menatap tajam ke arahnya. Kedua tangannya diletakkan di pinggang, seakan menantang Jaro dan Deniz.


"Kalian hanya ber-20!! Tapi kami ber-2000!!" ujar Deniz dengan lantang.


"Bisanya cuma bermimpi. Heh! Bangun anak kecil!!" balas Ranu.


Tiba-tiba muncullah beberapa orang dari semua pintu masuk. Di antara mereka semua, hanya Deniz yang senang dan menyeringai.


"Lari, Ro. Sekarang!" seru Deniz.


Bukan hanya Jaro, tapi pekikannya juga membuat pendukung mereka berdua bergerak maju. Para pendukung tersebut berlari ke arah pasukan Ranu yang parasnya mulai memucat.


Tentu saja, Jaro langsung dikejar oleh salah satu anak buah Ranu. Sehingga dirinya sejenak harus menghadapi orang tersebut.


Bukk!


Orang tersebut berhasil meninju perut Jaro. "Hah! Hah! Ad-duh!"


Namun Jaro langsung menendang dan mengarahkan kepalannya ke dagu.


Jaro kembali berlari menuju lift. Dia memencet lantai teratas dari gedung ini. Entah mengapa, pintu lift tak juga tertutup. Justru muncul lagi dua orang yang ingin menghentikan dirinya.


"AAA!!" Jaro mendorong dua orang tersebut, dengan kaki dan tangannya.


"PERGI!"

__ADS_1



__ADS_2