Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
X-CHAP 6: Lebih Penting


__ADS_3

Yah pada pergi ya?


Maaf ya, baru bisa update sekarang. Mana udah hampir 3 hari 😅



.


.


.


...“Prioritas ku, ya cuma kamu. ...


...Yang lain, hanya untuk menyatukan kita.”...


Malam hari, di rumah keluarga Hardiyata.


Di meja makan, lima anggota keluarga sedang menyantap makan malam. Di sana, Ansa dan Jaro telah memberitahu kabar kehamilan Ansa kepada Bu Aisyah dan saudara tiri Ansa, Yono.


"Ansa di sini aja ya? Tiap bulan Mama akan antar kamu buat periksa ke dokter," ujar Bu Aisyah.


Ansa mengangguk. "Terus, Pa ... aku boleh tinggal di rumah aja, atau aku tetap kerja?"


"Tinggal di rumah aja. Atau ikut Yono ke pesantren aja ya?" jawab Ayah Hardi.


"Aku di rumah aja--"


Huek huek!


Ansa bangkit perlahan, dan dituntun oleh Jaro menuju kamar mandi. Di sana, Jaro mengusap punggung istrinya.


"Sudah baikan?"


"A-aku mau tidur," lirihnya.



Pukul 5 pagi,


Aroma minyak oles menyeruak dan memenuhi kamar pengantin yang umur pernikahannya telah berjalan 7 tahun. Ternyata Jaro telah mengoleskan minyak ke seluruh badan istrinya.


"Sabar ya. Memang gitu sayang," ujar Jaro. Dirinya mengecup pipi istrinya.


"Iya. Ngga tahu gimana ke depannya." Ansa kembali memejamkan kedua netranya.


Jaro perlahan turun, lalu pergi menuju ruang keluarga. Di sana, dirinya menceritakan kondisi Ansa kepada ibu mertuanya.


"Sebaiknya memang dia di rumah aja. Mama bakal bantu dia melewati masa hamilnya."


"Oh ya, papa di mana? Sudah berangkat, Ma?"

__ADS_1


"Belum. Nanti jam tujuh, katanya ada rapat pagi."


"Oh oke." Jaro melangkah kembali ke kamarnya dan bersiap-siap. Aku akan berangkat bersama papa, supaya aku bisa menceritakan tentang Ranu!


Pukul enam pagi,


"Ansa ... Turun yuk," bisik Jaro.


"Iya. Sudah ngga mual lagi kok!"


Jaro menuntun Ansa melangkah keluar dari kamar. Diam-diam, Ansa tersenyum saat melihat tampilan Jaro yang sangat segar dan rapi.


Pukul tujuh pagi, Ayah Hardi dan Jaro telah berangkat kerja. Tentunya sesuai dengan ekspektasi Jaro yang ingin berangkat bersama ayah mertuanya. Di dalam mobil, Jaro mengobrol dengan ayah mengenai Ranu yang berada di sanggar.



Di sekolah Mandraguna,


Jaro mendapat kabar bahwa ayahnya sedang berkunjung ke perusahaan Paperita. Dirinya mengangguk, dan segera keluar dari ruang kepala sekolah.


Di dalam mobil, Jaro mencoba menghubungi kakaknya. "Mas! Mas Deniz lagi bersama ayah?"


"Iya! Sini, Ro!"


"Oke! Ini lagi perjalanan ke sana, Mas!"



Jaro telah berdiri bersama kakak dan ayahnya. Ya! Deniz dan Ayah Awi!


Perusahaan ini memproduksi kertas daur ulang. Mengapa? Karena di zaman ini, kertas sudah tak terlalu dibutuhkan dan tergantikan oleh teknologi si kotak pipih.


Dia adalah yang tadi digunakan oleh Jaro untuk menghubungi kakaknya. Zaman sekarang, handphone maupun laptop telah digunakan untuk menulis. Ah salah. Telah digunakan untuk mengetik.


Tapi lagi-lagi, teknologi buatan manusia memanglah bak pisau bermata dua. Kertas tak mengeluarkan cahaya, tapi gadget mengeluarkan cahaya yang jika terus ditatap akan menggangu kenormalan mata.


Bahkan mata Jaro seharusnya meminta bantuan kacamata untuk melihat jelas benda maupun tulisan yang jauh. Namun dirinya masih kurang nyaman memakai kacamata. Padahal zaman sekarang telah ada teknologi filter ultraviolet.


Ayah Awi masih mendukung perusahaan Paperita ini. Selain karena daur ulang, juga pekerjanya hanya sedikit. Karena tergantikan oleh mesin-mesin bak manusia.


Jaro melihat ke sekelilingnya. Dirinya melihat cacahan kertas yang diaduk, dicetak dan dipotong. Yang semuanya secara otomatis tanpa sentuhan manusia.


"Kami sudah memakai mesin-mesin ini, dan hanya mempekerjakan setiap divisi berisi 5 orang. Sisanya menjadi salesman untuk membantu divisi pemasaran," ujar direktur perusahaan tersebut.


Jaro hanya mendengar itu saja, karena setelah itu dirinya menatap seseorang yang dirinya kenal. Sosok tersebut tersenyum kepadanya.


Netra Jaro lupa untuk berkedip, karena sosok tersebut semakin mendekat kepadanya. Dengan langkah bak model di atas panggung dan dress yang memamerkan kedua bahunya, sosok tersebut memanggil Jaro.


"Jaro?"


Jaro tersenyum dan mengangguk. "Sari."

__ADS_1


Sari, teman sekolah Jaro dari sekolah dasar hingga sekolah tingkat akhir. Hati Jaro pernah untuknya, walaupun sekarang tidak lagi.


"Kamu ke sini sendirian?"


"Ngga, Sari. Aku bersama ayahku." Jaro berusaha supaya tak canggung.


"Oh gitu."


"Kalau kamu, kamu kerja di sini?"


"Iya. Aku di bagian marketing. Karena aku bisa menggambar, jadi aku memasarkan kertas-kertas itu dengan bantuan gambarku."


Jaro mengangguk. Sedetik kemudian, bau harum menusuk hidungnya. Spontan dia menoleh ke arah Sari. Ya ampun! Dia ke sini membawa parfum?!


Sari menyemprotkan parfum ke lehernya, tepat di samping Jaro. Membuat Jaro melangkah pergi tanpa pamit.


"Jaro!" Sari menahan lengan berkemeja merah tersebut.


Jaro melotot ke arah Sari. "Sari?! Ada apa?"


"Aku minta tolong, boleh ngga?"


Jaro menggeleng. "Aku sibuk!"


Sari tak diam. Tangannya menarik bahu Jaro dan membiarkan mereka terlihat seperti sedang berpelukan.


Ombak mulai meninggi, tapi perlahan surut. Jaro tak bisa membentak Sari di dalam perusahaan ini. Tanpa pamit, dirinya mendorong Sari dan melangkah pergi.


"Jaro! Jaro!" Panggilan Sari tak digubris oleh Jaro.


Ternyata sekarang sudah terlihat, siapa yang menjadi si penggoda, batin Jaro.


Baru saja Jaro kembali berdiri di samping ayahnya dan kembali sibuk mendengarkan penjelasan direktur, handphone-nya berdering.


"Halo?"


"Jaro! Ansa lagi bareng kamu?" tanya Yono.


"Oh! Ngga dong! Kan Ansa lagi di--"


"Tadi terakhir, mama Ais kedatangan tamu yang ngaku kalau dia tuh temannya Ansa. Dia bilangnya sih, mau mengantar Ansa ke sekolahmu."


"Serius, Yon?! Waduh!"


Jaro berpamitan kepada ayahnya. Lalu berlari keluar dari perusahaan. Pikirannya sangat kacau. Ombak amarah mulai terpancar dari kerutan dahi dan kedua rahang yang merapat kuat.


Kalau tentang istrinya, Jaro tak bisa diam. Pekerjaan pun akan dirinya tinggalkan untuk menemui istrinya.


Pasti Ranu lagi!! Aaa!


***

__ADS_1


__ADS_2