Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 13 Bakat yang Memikat


__ADS_3

...“Mari mengejar ambisi dan mengasah bakat!...


...Hingga kita bisa mencapai langit lebih cepat!”...


"Ini urusan cewek, Ro!" bentak Sari melalui pesan online.


Ansa tak mau kalah. "Itu urusanmu! Bukan urusanku. Jaro, dia duluan yang mulai. Mangkanya aku bilang ke mamaku biar lapor ke ayahnya kalau anaknya suka nge-bully!"


"Eh anak manja, bisa ya kan ngga usah bawa orang tua? Kalau kamu berani, sini langsung bicarain denganku!" balas Sari.


"Lah kamu kasar banget! Aku ngga mau ya, nanti para fans-ku menyerang mu karena kamu menyerang ku!" dusta Ansa.


"Oh ya? Tenang aja, aku punya geng yang bakal melindungi ku!"


Percakapan mereka berdua membuat Deniz risih dan Jaro cemas. Setelah Jaro membujuk kakaknya, dia kembali ke meja belajar dan melihat layar handphone-nya.


Waduh ternyata mereka berantem di grup. Tapi, masalah apa yang sedang mereka bahas? batin Jaro.


"Aku ngga suka berantem atau punya masalah yang dibesar-besarin oleh ratu drama kayak lu! Jadi, aku minta maaf karena sudah lapor ke ayahmu," jawab Ansa di grup.


"Serius, Sar. Ngga guna berantem kayak gini. Lebih baik kalau kita belajar bareng buat olimpiade. Ya, kita bertiga. Supaya sama-sama bisa menang!" Ansa tersenyum saat mengetik pesan seperti itu.


Mengapa?


Karena Ansa mendapat bisikan dari Mei tadi siang saat di sekolah. Kamu ajak saja Sari dan Jaro untuk belajar bersama. Kayaknya kalau dalam hal membujuk, kamu nomor satu deh! Itulah perkataan Mei yang masih memenuhi ruang kepala Ansa.


"Nah gitu dong! Anak manja ini akhirnya mengaku salah. Oke, aku mau belajar bersama kalian. Hansaria harus banyak belajar dariku," balas Sari.

__ADS_1


Syukurlah, mereka bisa berdamai, ucap Jaro dalam hati.



Dua hari kemudian,


Ansa sedang duduk manis dan menopangkan dagunya di pagar kayu pelataran. Angin sepoi-sepoi melewati wajahnya, membawa kesejukan dan kedua netranya terpejam. Saat ini dirinya menunggu Mei untuk menepati janjinya bertemu di sanggar ini.


Pukul 9 pagi,


Beberapa menit kemudian, terlihat Mei yang memasuki sanggar dengan langkah pelan. Ansa melihatnya dan memanggilnya, "Mei! Sini!"


Mei berlari ke arahnya, dan langsung memeluknya. "Ansa!" pekiknya dengan riang.


Dari jauh, Jaro melihat tingkah mereka berdua dengan ekspresi heran. Dirinya berjalan santai, dan pergi menuju tempat latihannya.


"Ayo Mei! Kita pergi ke tempat melukis!" ajak Ansa dan menarik tangan temannya supaya mengikuti dirinya.


Ansa dan Mei melihat beberapa orang sedang duduk di depan kanvas, sibuk menyapukan kuas yang telah diberi cat air. Mereka tengah melukis di atas kanvas.


"Itu yang sudah lama di sanggar ini, Mei. Mereka sudah ahli melukis dan lukisan-lukisan mereka sudah memenangkan perlombaan."


Lalu mereka menuju ruangan lain dari gedung tempat melukis tersebut. Sampai di sana, Ansa kembali menjelaskan kepada sahabatnya.


"Kalau yang ini, masih pemula di atas kanvas. Kalau yang itu, masih latihan menggambar di atas kertas. Yang paling pemula adalah yang di atas kertas, menggunakan pensil. Sekarang, kamu ingin masuk ke mana, itu terserah sih, Mei."


Terlihat kedua mata Mei yang fokus menatap orang-orang dengan kuas maupun pensil di tangan mereka. Ansa mengerti bahwa temannya tersebut sepertinya merasa bingung.

__ADS_1


"Kak Oura!" panggil Ansa dengan lambaian tangannya.


Seorang wanita menoleh kepada Ansa, dan langsung tersenyum ramah. Dia langsung menghampiri mereka berdua.


"Hai, Sa. Orang baru nih? Aku belum pernah lihat, hehe." Ucapannya disertai dengan gerakan menggaruk tengkuknya.


Ansa mengangguk, dan membiarkan mereka berdua saling berkenalan. Kemudian dia berpamitan kepada Mei dan Oura karena dirinya harus kembali ke pelataran.


Di studio musik,


Rasa bahagianya, Jaro lampiaskan dengan memetik senar-senar gitar, tanpa khawatir senarnya akan putus. Dirinya sedang menghafal kunci-kunci di tiap senar untuk sebuah lagu.


"Jaro! Yakin nih, kamu ngga mau join dalam band?" tanya Nick.


Jaro mengangguk dan tetap fokus memainkan gitar yang dipangkunya. Tiba-tiba, Tris membuat dirinya terkejut dengan memukul gamelan secara cepat. Ditambah suara pukulan drum oleh Nick. Membuat studio musik ini seketika menjadi gaduh.


"Hei! Kalian kenapa sih?" pekik Jaro sembari melotot ke arah Tris.


"Hahaha!" Mereka berdua justru tertawa mendengar perkataan Jaro.


"Sorry, Ro. Kami sudah sering melakukan ini! Memadukan suara alat musik tradisional dengan modern. Arti band itu bukan hanya untuk musik modern, tapi bisa juga dicampur dengan musik tradisional. Ayo ikutan, Ro!" tutur Nick.


"Kak Nick, aku lagi ngga bisa latihan di sini setiap minggunya. Aku khawatir bakal jadi penghambat kalian semua. Aku main solo aja, Kak." Jaro menunduk dan tangannya kembali bergerak.


"Solo atau jomblo? Hahaha!" seloroh Tris.


Kali ini, Jaro mengangkat gitarnya dan membidiknya ke arah Tris. Dia bangkit dan berlari mengejar Tris yang juga telah berlari.

__ADS_1


Mereka semua tengah mengasah bakat di dalam sanggar ini. Seakan sanggar ini memiliki magnet yang menarik mereka semua untuk datang lagi dan lagi. Ibaratnya sanggar ini seperti gula, yang dapat mengundang para semut untuk mencicipinya.



__ADS_2