
Di danau,
Ansa dan Ranu sedang asyik duduk di pinggir danau sembari memakan buah jeruk. Mereka saling terdiam untuk beberapa menit. Namun, giliran Ansa yang memulai pembicaraan.
"Mas Ranu. Kenapa Mas ngga bilang tentang hubungan kita ke orang tua Mas?"
Ranu telah selesai mengunyah sepotong jeruk, lalu dirinya mulai menjawab. "Aku ngga mau fokus kita terhadap meraih cita-cita menjadi terganggu. Saat kita di bilang cocok sebagai kakak beradik, sebenarnya itu bagus loh! Karena artinya, aku bisa melindungi mu, hingga mungkin sampai kita menua bersama."
"Ngga ngerti, Mas. Hehe," balas Ansa.
"Aku ingin kita sama-sama meyakinkan kedua orang tua kita, kalau kita itu memang hebat. Tapi jika dipersatukan, akan jauh lebih hebat lagi. Jadi, kamu tetap harus mengejar ambisimu, dan aku mengejar ambisiku. Baru setelah itu, kita bersatu dan membuat cerita hebat kita bersama," jelas Ranu.
Ansa hanya menunduk dan tersenyum tipis. Pantas saja, mas Ranu di bilang sebagai sosok kakak untukku yang masih manja dan berharap terus akan kehadiran mama, batin Ansa.
Sore hari,
Ansa dan Ranu telah kembali ke vila. Saat ini Ranu sedang duduk bersantai di depan televisi. Ansa telah berganti pakaian, dengan rok sepaha dan kaos tanpa lengan. Dia ikut duduk di samping Ranu.
"Mas," panggilnya sembari mengubah posisi duduknya menjadi di atas pangkuan Ranu.
"Hei, Sa. Aku sedang menonton acara itu. Tolonglah," pinta Ranu.
Ansa mengalah dan minggir dari hadapan Ranu. Namun dia kembali mengganggu kakak tercintanya tersebut dengan melingkarkan lengannya di leher Ranu. Dia terus mengelus kaki Ranu dengan menggerakkan posisi duduknya.
"Ansa ... Geli," protes Ranu.
Fokus Ranu akhirnya hilang, dirinya justru memfokuskan dirinya di hadapan Ansa. Tangannya bergerilya di balik rok.
"Sa, kamu hanya memakai rok?!" bisik Ranu.
"Iya. Mas suka sama yang basah, 'kan?" godanya.
Tok tok!
Tiba-tiba muncullah sosok Ibu Roro dari balik pintu. Ansa mengubah posisinya menjadi duduk di samping Ranu. Jantung mereka berdua berdegup sangat kencang.
"Sa! Mama di sini. Oh hai Ranu! Jadi kalian berdua sudah di sini," sapa ibu.
__ADS_1
"I-iya Ma! Seharian ini Mas Ranu sudah menjadi tour guide-ku menyusuri ladang di tempat ini," balas Ansa.
"Mama ke kamar dulu ya, capek banget, hehe."
Ansa maupun Ranu hanya mengangguk kepada Ibu Roro. Mereka kembali terdiam dan membiarkan televisi terdengar ramai.
Malam hari,
Ansa dan Jaro telah sama-sama selesai makan malam. Lalu mereka kembali berkumpul bersama keluarganya. Ansa berada vila bersama ayah, ibu, dan Ranu. Sedangkan Jaro berada di rumah nenek bersama Deniz, nenek, paman, bibi, dan Tirta kecil.
Diam-diam, Deniz mengajak Jaro ke dalam kamarnya. Dia mengatakan sesuatu yang penting. "Ayah sedang tidak di rumah, Ro!" bisiknya.
"Oh ya? Oke bentar, aku mau menghubunginya," balas Jaro.
Di sisi lain,
Ansa dan Ranu masih berada di depan televisi. Ayah telah berpamitan untuk tidur lebih awal, sedangkan ibu masih asyik berselancar dalam sosial medianya. Sehingga Ansa masih bisa bermanja-manja ria dengan duduk di pangkuan Ranu, bahkan memeluknya.
Ranu membalas pelukan Ansa dengan kecupan di leher Ansa, ditambah usapan kedua tangannya ke punggung Ansa. Mungkin mereka terlihat seperti kakak beradik yang saling menyayangi. Namun, Ansa bangkit dan memilih pergi ke kamarnya.
Ansa bersiap untuk berangkat ke alam mimpinya. Dia telah melangkah naik ke kasurnya. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintunya.
"Sa, aku masuk ya?" tanya Ranu dari depan pintu.
"Ya, Mas!"
Ranu masuk ke kamar Ansa, sembari tersenyum. Tak lupa, dia menutup pintu kamar. Ansa menatapnya dengan heran.
"Ada apa, Mas? Mama sudah tidur?"
"Belum sih. Tapi aku sudah pamit untuk mengobrol denganmu di sini," jawab Ranu.
"Sini sini, Mas!" sahut Ansa dengan riang.
Ranu segera duduk di samping Ansa, lalu memulai merasakan bibir indah milik wanitanya. Semakin lama, semakin dalam.
Malam penuh kehangatan, kini dibubarkan oleh suara telepon milik Ansa. Seketika setan dalam Ansa langsung ke luar dan menyadarkannya.
__ADS_1
Ansa segera mendorong Ranu, dan bangkit untuk mengambil handphone-nya. Saat menelpon, Ansa memeluk bantal untuk menutupi bagian atasnya yang polos.
"Halo? Iya, Ro?" tanya Ansa.
Tok tok!
Pintu kamar Ansa diketuk oleh seseorang, membuat mereka berdua merasa cemas. Namun hal tersebut segera diatasi oleh Ranu.
"Ansa?" panggil ibu sembari membuka pintu. "Oh, kalian berdua masih belum tidur?" lanjutnya.
"Iya, Tante. Kami masih asyik mengobrol," sahut Ranu sembari memunggungi Ansa dengan tubuh kekarnya.
Ansa juga menoleh ke arah ibunya. Untunglah ada Mas Ranu, huf, batinnya.
"Oh, ya sudah. Segera tidur ya, Sa, Nu," titah ibu dan menutup pintu.
"Ibuku sedang di sini, Ro. Lagi pula ini sudah malam, setelah ini ibuku akan tidur. Mungkin ayahmu bersama wanita lain," bisik Ansa.
"Oh gitu, Sa. Ya sudah. Selamat malam," ucap Jaro dan memutus sambungan teleponnya bersama Ansa.
Ansa meletakkan handphone-nya kembali, dan melihat ke arah Ranu.
"A-aku mau tidur, Sa. Selamat malam ya!" kata Ranu yang segera melangkah pergi dari kamar Ansa.
"Iya, Mas. Selamat malam!" balasnya. Hm, ngga jadi deh, huhu. Rasanya memang nyaman, pikirnya dalam hati.
Jaro mengatakan bahwa Ibu Roro saat ini telah tidur kepada kakaknya. Deniz mengernyitkan dahinya.
"Ini semakin sulit. Berarti ba*ingan itu sudah sering bersama dengan para wanita. Bukan hanya dengan bu Roro."
"Kalau gitu, coba Mas Deniz hubungi sopir ayah. Ck! Apakah ayah tidak kasihan dengan sopirnya, hingga menyuruh bekerja sampai malam?" keluh Jaro.
Setelah Deniz selesai menelpon,
"Saat ini ayah sedang di kantornya. Sepertinya ayah sedang mempersiapkan penerimaan para murid baru di sekolah kita. Mungkin kita baru bisa mengintainya lagi, saat kembali masuk sekolah Ro," jelas Deniz.
"Iya, Mas. Kalau gitu, kita liburan dulu ya!" balasnya sembari tersenyum.
***
__ADS_1