
Keesokan harinya, Sabtu pagi.
Ansa mendapat pesan dari Jaro yang mengatakan bahwa dirinya izin tidak menghadiri latihan band. Dengan segera, Ansa melangkah pergi menuju studio musik dan menemui Richard, pembimbing musik modern.
Setelah itu, barulah dirinya pergi ke tempat lukis. Kebetulan sekali, ia bertemu dengan Mei.
"Ansa!!" Mei memeluknya dengan erat. Dan Ansa pun membalas pelukannya.
"Kangen banget ya?" goda Ansa.
"Ya iyalah! Ih, dasar!" protes Mei.
"Maaf~" Ansa mencubit pipi sahabatnya tersebut. "Kemarin aku kurang enak badan, Mei."
"Mangkanya jangan dipaksa, Sa. Kalau capek, langsung istirahat," tuturnya dengan tatapan sendu.
"I-ya."
Mei menggenggam kedua tangan Ansa. "Kamu lagi mikirin ayahmu dan ibunya Yono, 'kan?" bisiknya.
Ansa membulatkan kedua netranya. "Kok kamu tahu?"
"Yono yang cerita ke aku, Sa. Dia marah ke kamu karena menurutnya, tingkah mu ngga sopan saat mereka bertamu ke rumahmu."
"Hah ... iya, Mei. Aku lagi kepikiran itu sih. Anggota keluarga baru, bahkan ada kakak baru yang itu adalah temanku sendiri." Kepalanya tertunduk.
"Sudah, sudah. Lupakan aja. Ah maksudku, coba bicarakan itu dengan ayahmu, Sa. Tanyakan ke beliau, apa yang membuat ayahmu memilihnya. Atau, tanyakan ke Yono. Sekalian kamu meminta maaf kepadanya."
"Yono benar-benar marah ya?" tanya Ansa.
"Ngga sih. Cuma kesal aja ke kamu. Tahu sendiri, 'kan? Yono tuh orangnya sabar banget, halus ucapannya."
Ansa mengangguk dan mengukir senyum di wajahnya. Aku akan coba membicarakannya dengan papa dan Yono. Tapi, aku butuh bantuan mu, Ro.
__ADS_1
Di kantor polisi,
Deniz dan Jaro menemui salah seorang polisi, lalu menyerahkan bukti yang mereka dapatkan. Beberapa menit kemudian, pengacara ayah mereka pun ikut hadir dan mendengarkan penjelasan Deniz mengenai bukti.
"Jadi maksud Anda, selama ini kami salah menangkap pelakunya?" tanya polisi tersebut.
"Tak apa, Pak. Setidaknya ayah kami sudah mendapatkan hukumannya. Tapi, pelaku yang sebenarnya tetap harus dihukum, 'kan?" ujar Deniz.
Giliran pengacara yang bertanya kepada Deniz. "Apa kamu serius ingin memasukkan ibu kalian ke sini? Tega sekali."
"Lebih tega lagi jika kami membiarkan pelaku tak menerima hukuman di sini. Tapi suatu hari kami harus melihat pelakunya mendapat hukuman dari orang lain!" jawab Jaro dengan suara keras.
"Kami akan menyelidikinya terlebih dahulu, Nak." Polisi mengambil bukti dari tangan Deniz, disertai gerakan mata yang fokus ke bukti.
"Setelah ini, silakan Bapak koordinasikan dengan pengacara. Jika ayah kami menolak, tolong jangan didengar, Pak. Karena sebenarnya ayah kami sudah tahu, namun beliau melindungi ibu kami." Deniz menyatukan kedua telapak tangannya.
Sebulan kemudian,
Sedangkan Ansa telah kembali ke rumah, dan telah membahas perihal pernikahan ayahnya. Selain itu, hubungannya dengan Yono juga telah membaik. Semua itu karena bantuan Jaro yang mempertemukan Ansa dengan Yono.
Saat istirahat, di kantin sekolah.
Empat sekawan kembali berkumpul. Ya! Ansa, Mei, Jaro, dan Yono. Mereka duduk bersama dan asyik mengobrol.
"Jadi, tahun depan kalian belajar bareng lagi untuk olimpiade?" tanya Mei.
Jaro mengangguk, Ansa menggeleng.
"Lah! Kenapa Sa?"
"Kamu ajak Sari aja. Aku sudah cukup ikutan itu."
__ADS_1
Jaro menatap sendu wajah Ansa. Kenapa? Kamu masih marah?
"Dari tahun kemarin, aku sudah menyabet juaranya. Sekarang giliran mu, Ro. Terserah kamu mau mengeluarkan aku dari sekolah ini, atau ngga." Ucapan Ansa disertai gimik wajah sedih.
"Eh? Gimana sih? Taruhan kalian masih belum selesai?" cecar Mei.
"Ansa! Jangan pura-pura gitu ih!" protes Jaro.
Ansa tertawa sangat kencang dan memeluk Mei. "Oh gitu, dasar ratu drama!" ucap Mei.
Sore hari, di rumah Ansa.
Ansa menggerakkan kepalanya ke samping kanan dan kiri. Lalu memutar bahunya. Ah, aku mau istirahat bentar.
"Ansa!" panggil seseorang.
Ansa membalikkan badannya. "Heh! Mau ngapain kamu ke sini?!"
"Ya ampun, aku diusir." Jaro memanyunkan bibirnya.
"Bentar ya! Aku ganti baju dulu!"
Namun Jaro menarik lengan Ansa dan mendekatkan wajahnya.
"Oh iya, Sa. Mas Deniz sudah selesai magang, dan dia sudah tahu," lirihnya.
"Tahu apa?" Kedua netranya menatap Jaro.
Jaro berbisik kepada Ansa. Lalu Ansa mengecup pipi Jaro.
"Dia adalah kakak kita, Ro. Dia juga lebih tahu yang baik dan buruk. Saat dia tahu kita telah melakukannya ... Selamat! Kamu mendapatkan elusan mesra dari mas Deniz! Haha!"
"Menyebalkan," gumam Jaro.
__ADS_1
"Berarti ... kita akan segera me-nikah?” bisik Ansa.