Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Agen Rahasia Cilik_2


__ADS_3

Pulang sekolah,


Ansa masih membereskan buku maupun alat tulisnya ke dalam tas. Lalu dia dipanggil oleh Mei yang berpamitan pulang.


"Sa! Aku duluan ya! Besok kamu mau biskuit bentuk apa? Hewan? Bunga? Tokoh kartun? Atau wajahmu?" tanya Mei.


Apakah aku harus menjawabnya? Ya sudah deh, ku jawab saja kalau aku ingin biskuit dengan bentuk angsa, batin Ansa.


"Bentuk ang—" jawabnya.


"Oh! Angsa saja ya, Sa? Besok aku akan membawa biskuit bentuk angsa warna-warni. Lalu aku akan katakan bahwa di sekolah ini, aku telah berteman dengan Ansa! Si model muda yang multitalenta!" ucapnya dengan cepat.


Nah, benar 'kan? batin Ansa yang menunjukkan senyum lebarnya karena tingkah dan ucapan Mei yang seperti itu.


Setelah Mei ke luar dari kelas, Ansa bersiap bangkit dengan ransel di punggungnya. Namun, teman di bangku depannya memanggil namanya.


"Sa! Ikut aku yuk! Bentar aja kok," bisik Jaro.


"Eh? Mau ke mana, Ro? Setelah ini, aku mau pergi ke perusahaan modelling, Ro. Mungkin lain kali aja ya?" balas Ansa sembari menolak dan memberikan alasannya.


"Aku ingin kita menjadi mata-mata untuk ibumu dan ayahku. Tapi, ngga cukup kalau hanya kita berdua. Kita perlu bantuan dari kakakku. Jadi sekarang, aku ingin mengajakmu untuk bertemu dengan kakakku," tutur Jaro.


"Oke! Tapi bentar aja ya?" Permintaan Ansa langsung mendapat anggukan kepala dari Jaro.


Jaro segera melangkahkan kakinya, diikuti oleh Ansa. Sebelumnya, Jaro telah mengirimkan pesan online kepada kakaknya, supaya mau menunggu dirinya di taman pemisah wilayah SMA dan SMP.

__ADS_1


Di taman,


Mata Ansa menatap seorang siswa SMA dengan wajah yang lumayan mirip seperti Jaro. Namun, dia justru melihat postur tubuh pria tersebut yang mirip seperti Ranu.


Bagaimana ya, kabar Mas Ranu di sana? Aku merindukannya, pikirnya.


Jaro melangkah menuju kakaknya yang sedang duduk menunggu di bangku taman. "Mas Deniz! Maaf aku baru datang," ucapnya.


Deniz tersenyum kepada mereka berdua. "Ngga kok, santai aja. Oh, ini yang namanya Hansaria?" tanyanya sembari mengulurkan tangan kanannya.


"Iya, aku Ansa, Mas. Tadi, siapa nama Mas?" balas Ansa.


"Namaku Deniz Eka Daghiawi. Panggil saja Deniz."


Jaro segera melanjutkan percakapan mengenai hal yang cukup penting. "Jadi gini Mas, Sa. Aku ingin kita bertiga bekerja sama untuk membongkar rahasia ibunya Ansa dengan ayahku dan Mas Deniz. Gimana? Setuju?" tuturnya.


"Ini, ini sebenarnya aku harus bagaimana?" tanya Ansa yang masih kebingungan.


"Kamu memata-matai ibumu, Sa. Caranya dengan mengetahui ke manapun ibumu pergi. Kayak gini," ucap Jaro.


Jaro menunjukkan layar tablet milik Deniz dan terlihatlah peta Kota Metropolitan dengan dua pin yang berbeda warna.


"Ini, Sa. Kamu mintalah ke orang tuamu untuk memasangkan teknologi seperti ini di setiap gadget milik anggota keluargamu," pinta Jaro.


"Ayah, ibu, kakak, adik. Tolong pakaikan semuanya dengan alat pelacak, Ansa," sambung Deniz.

__ADS_1


"Mas, aku anak tunggal, hehe. Oke, nanti aku coba tanyakan kepada ayah dan ibuku. Selain itu, apakah aku tetap harus mencegah ibuku supaya tidak pulang larut malam lagi?" balasnya yang masih was-was.


"Boleh. Tapi kalau suatu hari ibumu terpaksa pulang larut malam, kamu masih bisa melihat posisinya dari gadget mu, Sa," jawab Jaro.


"Kalau nantinya posisi ibumu berada di luar perusahaan modelling, tolong langsung di-screenshot layar gadget mu ya? Biar aku dan Jaro langsung mengetahuinya!" jawab Deniz.


Ansa mengangguk kencang dan tersenyum. Walaupun dirinya masih bingung dengan semua rencana ini, tapi rasa penasaran dan curiganya lebih mendominasi untuk ibunya tersayang.


"Eh, gimana kalau aku buatkan grup chatting untuk kita bertiga? Tapi, nama grupnya apa?" cecar Jaro.


Lamunan Ansa menjadi buyar oleh pertanyaan dari Jaro. Sedangkan Deniz terlihat mengerutkan dahinya, sepertinya sedang memikirkan nama grup untuk mereka bertiga.


"Ro, Mas Deniz. Aku sudah harus pergi ke perusahaan modelling. Kalau untuk nama grup ini, mungkin bisa memakai singkatan nama kita bertiga," tutur Ansa.


"Hm, jangan seperti itu. Bagaimana dengan Spy? Mata Elang? Tiga Elang?" balas Deniz.


"Maaf ya. Aku sudah telat. Nanti aku hubungi Mas dan Jaro. Bye!" ucap Ansa yang segera berlari meninggalkan kakak dan adik tersebut.


"Iya!"


"Hati-hati, Sa!"


Deniz dan Jaro masih terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing. Beberapa menit kemudian, Jaro menguap dan memecahkan keheningan.


"Gimana Mas? Sudah menemukan nama yang cocok?"

__ADS_1


"Yup! Namanya adalah, 'De Rosa' yaitu Deniz, Jaro dan Angsa!"



__ADS_2