
Pukul 3 sore,
Jaro dan Deniz telah sampai di teras rumah, lalu mendapat kejutan yang sangat fantastis.
Para polisi menuntun ayah mereka keluar dari rumah. Ibu meraung-raung di ruang tamu sembari menautkan tangannya ke lengan ayah. Membuat Jaro segera melakukan hal yang mirip seperti ibunya.
"Jangan Pak!! Ayah saya ngga salah! Dia bukan pelakunya!!" bentak Jaro.
Salah satu polisi melepaskan pegangan Jaro dan mendorong bahu ibu, supaya mempermudah para polisi menuntun ayah menuju mobil.
Ibu memeluk Jaro cukup erat. Tangis mereka pecah bersamaan. Kedua netranya tertutup oleh bulir air mata. Namun, Jaro masih jelas melihat Deniz yang sedang mengobrol dengan salah seorang polisi.
Di sisi lain,
Ansa mendengar bahwa Paman Pradipta sedang fokus mengobrol dengan seseorang di telepon. Dia tak terlalu peduli, karena dirinya juga mendapat notifikasi pesan masuk dari handphone-nya.
"ANSA!! Beraninya kamu menyalahkan ayahku!!" ucap Jaro melalui pesan online.
"Karena ayahmu membunuh ibuku, Ro!" balas Ansa.
Tiba-tiba kedua telinga Ansa mendengar pembicaraan paman dengan ayah. Dia berpura-pura mengambil kue di meja ruang tamu, supaya bisa menguping obrolan mereka.
__ADS_1
"Polisi sudah menangkap pak Daghiawi, si pemilik sekolah itu, Di." Lalu paman meneguk segelas air.
"Iya, Mas. Berarti memang benar pelakunya adalah dia?" balas ayah.
"Kata polisi, kemarin CCTV di rumah mereka sedang diperbaiki. Jadi polisi ngga bisa menemukan bukti bahwa pak Daghiawi adalah pelaku pembunuhan."
Ayah hanya mengangguk, lalu pandangannya beralih ke Ansa yang jongkok di depan meja. Ansa tersenyum ke ayahnya, sembari terus mengunyah kue. Dia agak malu saat ayahnya tahu bahwa dirinya sedang menguping obrolan mereka berdua.
"Tapi, kemarin rumahmu ini memang menerima kunjungan Orbifly dari rumah Daghiawi. Sementara ini, kunjungan itu yang menjadi bukti penting untuk menyalahkan Daghiawi," ujar paman.
"Terus gimana hasil tes DNA janinnya Roro? Apakah tadi polisi tidak memberitahu?" Mata ayah menatap sendu ke arah paman.
Ansa juga menatap sendu kedua kakak beradik tersebut. Matanya berkaca-kaca, diikuti mulutnya yang kelu. Dia ingin sekali bilang kalau itu calon adiknya dan Jaro. Itu pasti benar! Karena ibunya sendiri yang mengatakan, mama memang salah, tapi mama mencintai ayah temanmu itu.
Jaro merasakan hal yang sama seperti Ansa, yakni kehilangan orang tercintanya. Namun, dirinya masih bisa menemui ayahnya di kantor polisi. Sedangkan Ansa hanya bisa melihat gundukan tanah dibatasi nisan dan dihiasi kembang.
Di kamarnya, Jaro memetik senar gitar dengan asal-asalan. Suara sumbang mulai terdengar, tapi ia tetap terus memainkannya.
"Ro ...," panggil kakaknya, Deniz.
__ADS_1
Tatapan Jaro masih sama, masih menatap langit malam dari balik jendela. "Mas, tadi polisi itu kenapa menangkap ayah?" lirihnya.
"Karena ayah ngga punya bukti yang mengatakan bahwa dirinya ngga bersalah, Ro. Kemarin kamu tahu sendiri, 'kan? Tiba-tiba ada tukang service masuk ke sini. Ternyata tukang tersebut sedang memperbaiki CCTV di rumah kita."
"Jam berapa itu?"
"Hampir jam tiga sore."
Jaro mengerutkan dahinya. Dia tak ingin memikirkan ini lagi. Tapi hal ini sangat aneh.
Kemarin,
Pukul satu siang, ayah masih di sekolah bersamanya. Sekitar pukul dua siang, mereka sudah berada di rumah. Keluarga Daghiawi terus kumpul bersama hingga keesokan paginya. Sedangkan ibunya Ansa didorong dari lantai tiga saat pukul dua siang.
Pikirannya kembali melayang di saat kemarin dirinya mendapat telepon dari kakaknya. Iya, Ro! Ibu menelpon ku untuk cepat pulang.
Mas Deniz menelpon ku saat istirahat, ya kan? Dia sudah di rumah sebelum kejadian, ucap Jaro dalam hati.
Jaro menoleh ke kakaknya. "Ngga mungkin. Ngga mungkin Mas Deniz yang mendorongnya," gumamnya.
***
__ADS_1