Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 17 Perfect Storm


__ADS_3

...“Kita saling menyalahkan, mencaci-maki, melempar sumpah serapah....


...Amarah kita seperti badai yang ribut dan kencang.”...


Hari Sabtu, di sanggar.


Ansa telah memutuskan untuk tak masuk sekolah di hari kemarin. Namun hari ini, dia mengikuti latihan menari di sanggar. Dia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru sanggar dari tempat berdirinya, di pelataran.


Di mana bocah itu?! Ah, pasti di studio musik! batinnya.


Lalu Ansa merasa bahunya ditepuk oleh seseorang. Membuatnya segera membalikkan badan dan melihat orang tersebut. “Sa ….”


“Mei!!” serunya dan langsung memeluk temannya tersebut.


Mereka berpelukan cukup erat, seperti telah lama tidak bertemu. Kedua tangan Mei mengusap-usap punggung Ansa untuk menenangkan Ansa yang meneteskan air mata.


Mei melepas pelukannya. “Sudah, Sa. Selalu doakan mamamu di sana. Masih ada aku di sini, ya kan?”


Ansa hanya mengangguk, dan tersenyum tipis. “Iya, Mei. Sepertinya Allah lebih sayang mamaku, mangkanya mamaku dipanggil kembali ke sisi-Nya lebih cepat.”


Ansa menghembuskan nafasnya sejenak. Lalu kembali bicara, “Aku cuma sedih karena pelakunya adalah … ayahnya Jaro, Mei.”


“A-pa?” lirih Mei.


“Aku sudah mengenal Jaro sejak sebelum aku masuk ke sekolah Mandraguna. Kami saling mengenal karena kami bekerja sama untuk memisahkan mamaku dan ayahnya. Mereka berselingkuh ….” Ansa terus menceritakan semua kejadian yang menimpanya bersama Jaro dan Deniz.


Hingga diakhir ceritanya, “Jaro tidak menerima adik di perut mamaku. Bahkan dia mendukung ayahnya yang melakukan kesalahan dengan mendorong mamaku dari balkon kamar.”

__ADS_1


Kedua pipi Mei sudah basah ketika mendengar kisah Ansa. Dia menganggukkan kepala sembari tangan kanannya menyeka air mata. “Ya. Jaro salah, Sa. Tenang saja, ada aku yang akan membantumu untuk membuat dia jera!”



Pukul 12 siang,


Setelah latihan, Jaro keluar dari studio musik. Tubuh tegapnya dibawa menuju dapur. Tentu senyuman di wajahnya terus muncul untuk orang-orang yang berpapasan dengannya.


Sampai di dapur, dia mengambil segelas air dan segera meneguknya sampai habis. Ah, segar, batinnya.


Saat dirinya membalikkan badan, muncullah Mei yang menghadangnya. “Eh?” Jaro agak terkejut dengan kehadiran Mei.


“Kamu ditunggu Ansa di atap, Ro.” Hanya itu yang Mei katakan. Dia langsung meninggalkan Jaro tanpa senyum maupun suara tawa yang nyaring.


“Oke. Mungkin Ansa ingin membahas kematian ibunya,” gumam Jaro.


Di atap,


“Ada apa?” Suara milik Jaro sukses membuat Ansa melotot ke arahnya.


“Ngga usah pura-pura ngga ngerti ya. Aku mau tanya tentang alasan kamu dan keluargamu membunu—“


“Bukan ayahku, Sa. Waktu itu aku terus mengawasi ayahku dari siang hingga malam! Jadi ngga ada waktu untuk mengendarai Orbifly menuju rumahmu,” sergah Jaro.


“Oh ya? Terus kenapa mamaku jatuh dari lantai tiga?! Menurutmu apakah mamaku membunuh dirinya sendiri? Dan ya ... CCTV di rumahku telah dirusak dengan sengaja. Apa kamu menganggap ini hanya kasus bunuh diri, hah?!!” bentak Ansa.


Jaro menghembuskan nafas dengan kasar. Suara yang mulai berat kembali keluar dari mulutnya. “Iya! Aku tahu itu bukan kasus bunuh diri. Tapi bukan berarti ayahku adalah pelakunya, Sa!”

__ADS_1


“Menurutmu si-siapa lagi pelakunya, Ro?!” Suara Ansa mulai bergetar. “Ayahnya Sari? Orang asing?”


“Bisa jadi! Kamu tahu sendiri, ‘kan? Mamamu adalah wanita penggoda!” jawab Jaro.


“Jaga mulutmu, Ro!!”


Perdebatan hebat terjadi di antara Ansa dan Jaro. Hal ini menumbuhkan bibit kebencian di hati mereka berdua. Jaro tak mengakui bahwa ada kemungkinan kakaknya sendiri lah yang menjadi pelaku pembunuhan ibunya Ansa.


“Keluarga kalian sangat menjijikkan!” olok Ansa.


“Hei! Keluargamu yang lebih mengerikan! Jangan lupa, hubunganmu dengan Ranu sangatlah edan!” balas Jaro.


Plak!


Ansa benar-benar tidak tahan dengan perkataan Jaro yang tajam. Seperti belati yang menghujam jantungnya. Kedua netra Ansa melotot ke arah Jaro. “Aku akan membuat ayahmu menangis di penjara selamanya!!”


“Ansa!!”


Jaro juga mengangkat tangannya menuju pipi Ansa. Namun, otak dan hatinya menahan tingkah tangannya. Sekelebat ingatan tentang perkataan Deniz muncul di kepala Jaro. Jangan pernah memukul seorang wanita, Ro.


“Ayo. Ayo, ini pipiku di sini. Dasar pengecut!” ucap Ansa yang menantang Jaro.


“Aku bukan pengecut.” Jaro melangkah maju, semakin mendekat ke arah Ansa yang tetap diam. Tangan kanan Jaro mencengkeram kedua pipi Ansa, membuat mulut Ansa mengerucut.


Dengan wajah yang saling berdekatan, Jaro kembali bersuara. “Besok Senin, kamu harus keluar dari sekolahku! Kalau ngga, kamu akan melihatku dengan versi jahat!”


Ansa tetap berbicara walau rahangnya dicengkeram oleh Jaro. “Aku ngga akan keluar! Aku akan terus menghantui mu di sekolah!” balasnya.

__ADS_1


“Oke. Hari Senin kita akan bertemu lagi. Kamu akan mendapat kejutan yang menarik dariku!” Ucapan Jaro seakan terdengar seperti sebuah ancaman untuk Ansa.



__ADS_2