
Di halaman belakang,
Jaro mendorong Ansa dengan kencang hingga jatuh ke lantai. Mereka saling berjauhan, Jaro di sisi kiri dan Ansa di sisi kanan. Namun Jaro tetap memulai perdebatan.
“Heh, penggoda. Apakah memiliki pak Ranu itu, menurutmu masih kurang?”
Ternyata dia ingin membahas gosip itu! batin Ansa. Dia mulai bangkit dan menjawab lirih.
“Memangnya itu urusanmu ya? Terserah aku, ‘kan? Ini urusanku dengan kakakmu.”
“Urusan kakakku itu juga urusanku!” bentak Jaro.
Sekelebat ucapan Deniz terngiang di pikiran Ansa. Beberapa hari kemarin, aku dan dia sudah ngga saling mengobrol. Karena di rumah, dia sangat suka mengurung diri di kamar. Membuat Ansa menyeringai.
"Oh gitu. Jadi kamu mengurusi semua urusan kakakmu ya. Terus kapan kamu mau membahasnya dengan mas Deniz? Bukannya kamu lebih suka menjadi burung di dalam sangkar?" olok Ansa dengan suara lembutnya.
Jaro membuang pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan Ansa yang menusuk. Cemas mulai menyelimutinya. Jadi pertemuan mereka kemarin adalah untuk membicarakan diriku! Argh! pikirnya.
"Pangeran Jaro. Jangan berani berkata bohong ke aku ya. Aku tahu kalau kamu menyalahkan kakakmu. Ya sudah! Coba buktikan kalau mas Deniz bersalah dan tukar ayahmu dengannya." Kedua tangan Ansa menyilang di atas perut.
"Kalau pacar baru mu itu masuk penjara, bahagia mu akan hilang, 'kan? Lalu fobia mu semakin kuat! Hahaha!" Tawa Jaro sangat kencang.
"Ka-kamu tahu fobia ku?" lirih Ansa. Dia terkejut saat rivalnya tahu tentang fobia bahagianya.
"Iya. Dulu kita berteman dan saling tahu rahasia masing-masing. Jadi ... akan aku gunakan fobia mu itu!" Jaro tertawa lagi.
Aku ngga tahu apapun tentang Jaro. Akh! Terserah sajalah! Biarkan dia menyakitiku, aku memang ngga pantas bahagia! batin Ansa. Dia menunduk dan matanya terasa panas.
"Tapi kalau kamu keluar dari sekolah ku, aku akan mengampuni mu. Aku juga akan keluar dari tempat ini!" Telunjuk Jaro mengarah ke lantai sanggar.
__ADS_1
"Untuk yang itu, aku ngga mau. Lagipula, aku sudah menjadi pacar kakakmu. Kamu ngga akan mudah mengeluarkan aku dari sekolah." Senyum tipis terpahat di wajah Ansa.
"Oke. Silakan nikmati kebahagiaanmu bersama pacar barumu itu, sebelum aku datang sebagai kesedihanmu!"
Jaro melangkah pergi dari hadapan Ansa. Meninggalkan Ansa yang mudah terpengaruh oleh ucapan yang baru saja dilontarkan olehnya.
Nikmati kebahagiaanmu, sebelum kesedihanmu. Kata tersebut membuat Ansa menarik-narik rambutnya. Air matanya terus mengalir, mungkin fobianya sangat membenci kata itu.
Malam hari,
Di atas kasur dengan seprei motif bunga, Ansa mengecek handphone-nya. Lalu asyik berselancar di media sosial. Saat ini dirinya sedang bersantai, setelah hampir dua jam membaca maupun mengerjakan tugas di atas meja dan kursi belajar yang dilengkapi lampu baca. Lalu Ansa bertanya kepada pembantunya.
"Bu. Obatku masih ada atau sudah habis?"
"Masih banyak, Non. Kenapa Non?"
Pembantu menganggukkan kepalanya yang sedang duduk di samping Ansa. Melihat raut wajah Ansa yang suram, mungkin pembantunya menjadi tak tega untuk menolak majikan kecilnya. Beliau mengusap-usap pucuk kepala Ansa.
Di rumah Jaro,
Ibu dan Deniz sedang berdebat mengenai gosip tentang hubungan Deniz dengan Ansa. Saat ini Jaro memilih untuk keluar dari kamarnya, lalu menguping perdebatan dua anggota keluarganya yang terjadi di ruang keluarga.
"Malu-maluin kamu, Niz! Kamu tahu, dia adalah anak si model g*tel itu!" bentak ibu.
"Bu! Aku ngga ada apa-apa dengannya. Itu cuma gosip! Gosip!"
"Ya tapi kenapa kamu memeluknya?! Bahkan berani sekali kalian berpelukan di tempat umum!"
__ADS_1
"Kemarin kejadiannya bukan seperti, Bu. Aku cuma menolongnya yang ngga sengaja disenggol oleh orang," tutur Deniz.
"Ish! Pasti dulu dia sudah mengajarkan anak ceweknya itu menjadi penggoda. Ibu ngga suka kamu dekat dengan anak itu!" keluh ibu.
"Keluarkan saja dia dari sekolah, Niz!!!" Amarah ibu telah di puncak.
Jaro kaget sekaligus senang mendengar perkataan ibunya. Ternyata ibunya lah yang sepemikiran dengannya. Alhasil, Jaro keluar dari persembunyiannya.
"Bu ...," panggil Jaro. Kedua netranya beradu dengan wajah ibu yang memerah dan kedua pipi beliau telah basah.
"Dari hari Senin, aku sudah menyuruh anak itu untuk keluar dari sekolah kita, Bu. Tapi Mas Deniz mencegahku melakukan itu," ucap Jaro.
Saat ini, Jaro bak bensin yang disiramkan ke dalam api amarah ibunya. Tentu saja, ibu semakin meradang dan membentak anak sulungnya.
"Ternyata kamu lebih memilih anak itu dari pada ibu, hah?!!"
"Ngga gitu, Bu."
Tiba-tiba, Jaro merasa ada yang aneh. Tapi, apa? Dia berdiri mematung di tengah ibu dan Deniz yang masih berdebat.
"Aku cuma mau bilang. Itu gosip yang ngga benar. Dan aku ngga akan membiarkan masalah pribadi bisa mengeluarkan murid yang ngga melakukan kesalahan!" Deniz memilih pergi.
Jaro juga melangkahkan kakinya, tepat di belakang Deniz. Namun hari ini giliran Deniz yang membanting pintu kamarnya, membuat Jaro terperanjat kaget.
Mas Deniz benar-benar marah, pikirnya.
Pikirannya kembali ke hal aneh yang sedang terjadi. Kalau dia yang mendorong bu curang, bukankah harusnya dia marah kepada Ansa?
Atau dia ngga mau punya adik, karena menginginkan Ansa?
__ADS_1
Tapi, kenapa dia ngga suka dengan gosip itu?
***