Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bloody Heart_3


__ADS_3

Di rumah Jaro,


Kini tinggallah Jaro dan Ibu Liana di rumah, karena Deniz sedang berada di penginapan perusahaan Orbifly khusus untuk mahasiswa magang.


"Bu ...."


"Hm?"


"Ibu ngga ada niatan untuk minta maaf gitu ke Ansa? Sebelum polisi datang ke sini," ucap Jaro.


"Ish! Bisa ngga sih kamu ngga usah bahas itu?!"


"Ibu tahu sendiri, dulu aku sudah mendapat skors karena kelakuan jahatku!"


Ibu bungkam dan sibuk menguyah makan malamnya. Jaro tetap bersuara. "Dan menurut Ibu, ayah yang akan menebus dosa Ibu? Haha!"


"Ngga ada yang lucu. Ayah masuk ke sana karena kesalahannya yang diperbuatnya. Ibu hanya mengeliminasi para penggoda yang mendekati ayah," balas ibu.


"Oh gitu? Tapi kemarin ayah bilang ke aku, kalau dirinya sedang melakukan pendekatan ke salah satu polisi wanita di penjara," dusta Jaro. "Sudahlah, Ibu ngga bisa membohongi umur. Polisi wanita itu jauh lebih muda dari Ibu!"


"Jaro!! Kurang aj*r kamu ya!!" Ibu membuang piring keramiknya ke lantai.


"Pergi dari sini!!" pekik ibu.


"Oke." Jaro menjawab dengan santai. Walaupun sebenarnya ia agak cemas kepada ibunya.


Setelah ibunya masuk ke kamar, Jaro berpesan kepada para pelayan untuk mengawasi ibu tepat di depan pintu kamar. "Tolong pantau juga dari CCTV!" pinta Jaro.


Kalau gitu, aku yang akan pergi untuk mengumumkan perdamaian ini. Jaro segera bersiap-siap untuk menemui Ansa, yang sebentar lagi mungkin kembali menjadi temannya.



Pukul delapan malam,


Ansa telah sampai di perusahaan. Dia mengendap-endap memasuki gedung yang mulai dikurangi lampunya.


Ah ya, aku belum makan malam. Ansa memegangi perutnya.


Matanya mencari ke kanan dan ke kiri, sembari kakinya terus maju menuju ruang para petinggi perusahaan. Di setiap pintu ruangan terdapat label nama. Membuat Ansa semakin mudah menemukan ruangan Ranu.


Eh salah, maksudnya adalah menemukan ruangan Pak Widagda.


Lalu Ansa berhenti di depan ruangan yang menjadi tujuannya. Awalnya ia berniat mengetuk, tapi telinganya menangkap suara Ranu dan ayahnya yang sedang mengobrol sembari menyebut nama 'Ansa'.


Mereka sedang membahas apa sampai menyebut namaku? batin Ansa.

__ADS_1


Walaupun ini tak boleh, tapi Ansa terpaksa menguping. Dia dirundung rasa penasaran. Pikiran menjadi curiga, bukan perasaan bahagia saat namanya disebut dalam obrolan serius mereka.


"Bagaimana keadaan Ansa? Apakah dia semakin manja kepadamu, Nu?" tanya Pak Widagda.


"Ya. Mungkin karena ibunya tiada, dia hanya bisa mempercayaiku saja."


"Apalagi saat ini ayahnya ingin menikah lagi, pasti dia akan semakin membutuhkanmu, Nu."


"Oh ya? Dia belum cerita tentang itu kepadaku, Yah."


"Tak apa."


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Yah?" tanya Ranu.


"Teruslah bersamanya. Karena itu akan membuat pak Hardi juga semakin percaya kepadamu."


"Terus sisanya Ayah yang akan membuatnya keluar dari sini, 'kan?"


Keluar apa? Siapa? batin Ansa.


"Iya. Kalau kita sudah bisa mengambil kepercayaan si Hardi, maka rencana untuk mendepaknya dari sini akan semakin mudah, Nu," jawab beliau.


Jadi mereka .... Ansa mengepalkan tangannya. Tenang, Sa. Tenang. Ini bukan saatnya kamu melabrak mereka. Tapi, gimana caranya menggagalkan rencana mereka?!


"Apakah ... aku harus menikahi anaknya, Yah? Tapi aku ngga mencintainya," protes Ranu.


"Eh, tapi kalau kamu nikahi dia juga ngga apa kok," lanjut Pak Widagda.


Apa masalah mereka dengan papa?! Sepertinya ini tentang jabatan di perusahaan. Atau ... balas dendam? Sama sepertiku dan Jaro.


Ansa kembali melangkah perlahan meninggalkan ruangan Ranu. Selama perjalanan, dirinya menangis. Hatinya seakan dihujam peluru sebanyak dua kali, mungkin bisa menembus hingga punggungnya.


Tangannya meremas jantung. Akh! Sakit! Semuanya menyakitiku. Semuanya ngga mencintaiku dengan tulus! Air matanya terus mengalir deras.


Di rumah Ansa,


Jaro memasuki rumah Ansa yang pintunya sedang dibuka lebar. Sepertinya lagi ada tamu ya?


Dia tak peduli, dan menghilangkan rasa malunya dengan melangkah maju ke ruang tamu. Di sana, dirinya menatap sosok Yono.


"Yono?"


"Eh? Jaro? Ada apa kamu malam-malam ke sini?" tanya Yono.


"Oh, jadi kalian satu sekolah?" tanya Bu Aisyah.

__ADS_1


"Aku, Jaro, dan Ansa satu sekolahan, Bu. Dulu pas SMP, kami sempat sekelas."


"Oh, kenapa kamu baru bilang sih, Yon. Hm," lirih Bu Aisyah.


"Ada apa Nak Jaro?" Giliran Pak Hardi yang bertanya.


"Saya ingin bertemu Ansa, Pak," jawab Jaro.


"Di-dia tadi keluar. Mungkin dia butuh menenangkan diri," ujar Pak Hardi.


"Menenangkan diri karena apa?" Jaro terus bertanya karena rasa bersalah masih menyelimutinya.


"Karena ... ibuku akan menikah dengan ayahnya, Ro." Yono menjawab pertanyaan Jaro.


"Apa?" gumam Jaro. Jadi gitu. Terus gimana kalau dia pingsan di tengah jalan?!


Tanpa pamit, Jaro berlari kembali ke sepeda motornya. Dia cepat-cepat mencari keberadaan Ansa.



Di sanggar,


Ansa telah mengisi perutnya, sembari bercerita apa yang telah terjadi hari ini. Namun dirinya hanya menceritakan tentang pernikahan ayahnya, sedangkan masalah Ranu tetap menjadi rahasia.


Walaupun telah makan, tubuh Ansa terasa lemas. Rasanya dia hanyalah sebuah raga yang ditinggal oleh jiwanya.


Di kamar, jiwa Ansa semakin sakit. Mungkin karena kosong tanpa siapapun. Dirinya melihat pantulan raganya dari cermin.


"Itu kamu? Kamu yang punya segalanya. Tapi segalanya dapat menusuk mu diam-diam." Ansa berbicara kepada diri sendiri.


Lalu, sampailah Jaro di sanggar.


Jaro merasa yakin bahwa hanya tempat inilah yang bisa Ansa kunjungi. Dia mengetuk pintu rumah. Untunglah, Bibi Ning segera keluar.


"Permisi, Bi'. Ansa ada di sini, 'kan?" tanyanya.


"Iya, Jaro. Tapi—" Ucapan Bibi Ning tercekat.


"Dia mengurung diri di kamar, 'kan? Karena ayahnya akan menikah lagi," ucap Jaro penuh keyakinan.


Bibi Ning mengangguk. "Mungkin besok saja kamu ke sini dan bertemu dengannya. Saat ini, dia sedang ingin sendiri."


Pyarr!


Walaupun suaranya terdengar sayup, Jaro dapat mendengarnya. Membuatnya semakin cemas.

__ADS_1


"Bibi! Bibi! Saya harus menemuinya sekarang!" Jaro segera berlari menuju tangga.


***


__ADS_2