Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 15 Malaikat Tanpa Sayap


__ADS_3

...“Mengapa Tuhan hanya menciptakan manusia,...


...Dilengkapi dengan hati dan akal,...


...Namun tanpa sayap?"...


Mentari kembali terbit, cahayanya menusuk kedua netra Ansa yang sembam. Dia mencoba membuka kedua netranya, walau terasa sangat susah.


Sebaliknya, Jaro justru bersemangat untuk ke sekolah hari ini. Dan juga bersemangat untuk menonton sinetron yang akan dimulai pagi ini di rumahnya.


Di meja makan,


Jaro menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Namun matanya menoleh kepada kakaknya, Deniz. Tinggal menunggu ibu duduk, dan sinetron pun dimulai!


Saat ibu telah duduk di samping ayah mereka. "Selamat sarapan semuanya!" ujar beliau sembari tersenyum.


Lalu Deniz mengeluarkan setumpuk kertas yang berisi kolom-baris dengan tulisan di dalamnya. Dia meletakkan kertas tersebut di atas meja. Dia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Niz, itu apa? Kamu ada tugas ya?" tanya ibu dengan rasa penasaran.

__ADS_1


"Oh, iya Bu. Aku ada tugas analisis data mengenai persentase kesukaan warga kota Metropolitan terhadap Hotel Bunly. Ini data kunjungannya, Bu." Deniz menyerahkan kertas tersebut kepada Ibunya.


Jaro tak menyangka bahwa acting kakaknya sangat bagus, seperti jalan tol. Mulus tanpa hambatan. Dirinya juga melihat ke arah ayahnya yang mendekat kepada ibunya, dan ikut melihat data kunjungan tersebut.


"Coba Ibu lihat dari awal. Aku mengambil data kunjungan dua tahun terakhir ini sih. Ngga tahu ya Bu, tapi kenapa ada nama Ayah di sana?" ucap Deniz.


Jaro menatap lekat ayahnya. Kedua netranya menangkap wajah ayah yang menahan rasa kagetnya. Akui saja, Yah!! batinnya.


"Iya. Ayah ada rapat di sana," lirih beliau.


"Untung saja, data yang aku ambil lumayan lengkap sih, Bu, Yah. Jadi jumlah orang yang berkunjung, bisa terlihat di sana." Deniz berdiri dan menunjuk ke arah nama ayahnya. Jari telunjuknya bergerak ke samping, dan terlihat nama Bu Roro di sana.


"Ini adalah nama orang yang menemani Ayah untuk memasuki Hotel Bunly. Lalu ini waktu dan tanggalnya. Oh! Nama Ayah bukan hanya itu saja Bu. Ada lagi di sini. Di sini. Di sini," lanjut Deniz tanpa ampun.


"Apa yang kamu lakukan di Hotel, Yah?! Kenapa kamu terus saja mengajak bu Roro?! Yah!!" pekik ibu.


Jaro menggenggam tangan kakaknya yang telah kembali duduk. Dia takut, hingga sekujur tubuhnya merinding. Deniz menoleh ke arahnya, dan mengangguk sedetik seakan bilang 'Ngga apa, pasti berhasil!'


Suasana damai di meja makan, kini berubah menjadi kebakaran. Namun ibu bangkit dan berlari meninggalkan mereka bertiga di meja makan.

__ADS_1


Glek!


"Gimana? Sudah puas kalian mempermalukan Ayah?! Hah?!" bentak ayah.


"Memang Ayah harus malu!!" balas Jaro.


Giliran ayah yang meninggalkan meja makan. Setelah itu, Deniz menenangkan adiknya yang masih bergetar. Mungkin dia merasa kasihan. Di umur muda seperti ini, adiknya harus mengetahui masalah orang dewasa.


Sedangkan di rumah Pak Hardi dan Bu Roro,


Ansa tidak berselera makan, ia hanya mau minum obat dan tidur. Membuat ayahnya kesal.


"Ayo bangun, Sa. Kamu kenapa menjadi sakit seperti mamamu sih?! Haduh!" keluh ayah.


Mama bilang ke Papa kalau dirinya sakit? Hah! Mama sedang hamil, Pa! Ha-mil!! pekik Ansa dalam hati. Ya, hanya dalam hatinya.


"Iya iya! Aku turun! Papa urus saja mama yang sedang sekarat itu!" bentak Ansa dan melangkah pergi dari hadapan ayahnya.


"Ansa!! Jaga omongan mu!" protes beliau.

__ADS_1


Ansa tak peduli. Dia sudah lelah dengan drama di rumah ini. Kenapa tidak berjalan sesuai takdir? Kalau mama memang menikah dengan papa, ya harusnya mereka saling mencintai! Bukan kayak gini, kayak t*hi.



__ADS_2