Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 19 Slam Dunk


__ADS_3

...“Bak memasukkan bola basket tepat ke dalam ring,...


...Kita saling berebut kemenangan!”...


Esok harinya,


Perang diam kembali terjadi di kelas Ansa dan Jaro. Ansa hanya melewati Jaro tanpa senyuman, dan segera mendaratkan diri di bangkunya. Di sampingnya telah ada Mei yang tersenyum lebar.


Mei memberikan Ansa secarik kertas. Mata Ansa segera membaca tulisan di kertas tersebut. Sekarang aku menyerang ketua gengnya di kelas sebelah. Aku menempelkan permen karet di kursinya supaya dia selalu duduk manis di bangkunya.


Ansa mengangguk dan menyeringai. Terima kasih Mei. Terima kasih Ya Allah.


Setelah itu, kelas Ansa dan Jaro mengikuti pelajaran olahraga. Mereka diberi waktu untuk berganti baju selama beberapa menit. Lalu mereka berkumpul, dan pelajaran olahraga pun dimulai.


Guru memberikan materi tentang bola basket. Beliau terus saja melempar, men-dribble, hingga memasukkan bola tersebut ke dalam ring. Di akhir penjelasan materi, beliau meminta murid kelas 8-C untuk latihan sebelum tes yang diadakan minggu depan.


Guru melemparkan empat bola basket untuk murid kelas 8-C. Dua bola untuk tim putri, dan dua bola untuk tim putra.


Kemudian beliau izin pergi. “Silakan kalian latihan sendiri, atau mencoba bertanding bersama teman-teman kalian.”


Beberapa menit kemudian,


Para murid mulai mencoba melihaikan tangan mereka dengan bola basket. Termasuk Ansa, Mei, dan Jaro. Mereka secara bergantian memegang dan memainkan bola basket.


“Woi! Gimana kalau kita tanding?” tanya salah satu murid laki-laki.


Semua temannya mengangguk. Ansa diam-diam melirik ke arah Jaro yang tersenyum lebar. Lamunannya dibuyarkan oleh Mei.


“Ayo, Sa!”


“Ayo apa, Mei?”


Mei bangkit dan mengajak Ansa untuk bertanding. Semua bersorak kepada mereka berdua, karena membuat yang lainnya segera berdiri juga untuk ikut bertanding. Tim putri memulai pertandingan di lapangan.


Sedangkan Jaro bersama para murid laki-laki memilih untuk duduk dan melihat pemandangan indah dari Sang Maha Kuasa. Makhluk-makhluk indah yang sedang memperebutkan bola di lapangan.


Saat pertandingan,


Kedua netra Jaro fokus kepada Ansa yang bermain dengan baik. Dia tak terkejut, karena sebelumnya Ansa telah pernah bercerita kepada dirinya. Ansa memang sudah pernah latihan bersama Jaka saat masih sekolah dasar.


Bola basket terus memantul-mantul sesuai gerakan tangan dari para pemainnya. Peluh mulai membasahi tubuh para jelmaan bidadari tersebut. Mungkin para pria semakin senang melihatnya.

__ADS_1


Tangan Ansa menangkap bola basket. Lalu dia mengopernya ke salah satu teman setimnya. Sialnya, bola dilempar terlalu kencang dan tidak tertangkap oleh teman setimnya.


Bukk!


Justru bola menyundul kepala seorang wanita berseragam yang sedang duduk manis tak jauh dari mereka.


Ups! Bolaku mengenai orang. Ansa segera berlari ke wanita tersebut.


Terlihatlah wanita yang sedang mengusap-usap kepalanya, lalu mendongakkan kepalanya dan menatap tajam kepada Ansa.


"Sari ...," gumam Ansa.


"Heh! Kalau main, jangan hiperaktif dong!! Sakit nih!" keluh Sari.


"Ma-maaf Sar. Aku ngga sengaja," lirih Ansa.


"Halah! Dia bohong! Dia pasti sengaja melempar bola itu ke arahmu." Ucapan Jaro disertai mulut manyunnya. Dia mengambil bola dari tangan Ansa.


"Pasti kamu juga yang memberi permen karet di kursi ku, ya kan?!!" tanya Sari.


"Eh? Kapan Sar?" Mata Jaro terbelalak.


"Tadi saat masuk kelas, Ro. Aku yakin pasti dia!!" balas Sari.


"Apa hah?! Kenapa melihatku seperti itu?" sergah Sari.


Ansa hanya menggeleng.


Sedangkan Jaro kembali bersuara, "Ayo! Ikut aku sekarang!"


Jaro menggandeng tangan Ansa bagai elang yang mencengkeram mangsanya dengan kuku-kuku yang tajam.


"Lepas Ro!" bisik Ansa.


Di tengah lapangan,


Jaro meminta semuanya untuk menghentikan pertandingan tim putri. Dia ingin melakukan pertandingan selanjutnya bersama Ansa. Hanya berdua dengan Ansa.


Aku yakin, dia akan kalah di tanganku. Dan dia harus memenuhi keinginanku! pikir Jaro.


"Sekarang, aku ingin kalian menjadi saksi bahwa hari ini ... jika ada salah satu dari kami yang kalah, maka harus menuruti perintah dari yang menang! Setujuu?!!"

__ADS_1


Semua temannya serempak menjawab, "Setuju!!!"


Argh! Jadi dia sedang ingin taruhan dengan ku! Oke! ucap Ansa dalam hati.


Pertandingan dimulai!


Ansa memulai pertandingan dengan menggiring bola tersebut supaya mendekat ke tiang ring. Tentunya Jaro menghalangi Ansa yang terus memantul-mantulkan bola.


Lalu Ansa meloncat dan mendorong bola supaya tepat masuk ke ring. Ya! 1 poin untuk Ansa.


Namun kali ini, Jaro tidak lengah. Dia mulai mengerahkan otot lengan dan betisnya untuk mengalahkan lawannya. Memang tidak seimbang, tapi ajang balas dendam ini harus dimenangkan oleh dirinya!


Hap! Jaro berhasil memasukkan bola ke dalam ring. 1 poin untuk dirinya.


Mereka berdua sudah mengumpulkan poin yang sama. Inilah babak penentuan, karena jam pelajaran olahraga sebentar lagi akan habis.


Ansa kembali menggiring bola, dengan mata yang lebih awas. Sedangkan Jaro berniat untuk sedikit curang dalam permainan ini.


Saat Ansa menghindarinya, dia justru menjegal kaki Ansa dan merebut bola. Jaro segera menggiring bola basket dan bersiap meloncat. Ansa juga meloncat, dan mendorong bola supaya meleset dari ring.


Namun, Ansa kehilangan keseimbangan saat mendaratkan kakinya ke tanah. Dia mendorong Jaro, hingga mereka jatuh dan tergeletak di tanah.


Ansa tetap melindungi kepala Jaro supaya tak langsung membentur tanah menggunakan kedua tangannya. Hal itu justru membuat kejadian tak disengaja pun terjadi.


Wajah mereka saling menempel, begitu juga dengan bibir mereka. Ansa maupun Jaro membuka mata, saling bertatapan. Deru nafas saling terdengar di antara mereka.


Bel berbunyi, tanda pergantian jam pelajaran. Semua murid 8-C segera membubarkan diri dari lapangan.


Tiba-tiba Jaro menyeringai, dan mengecup lagi bibir milik penggodanya tersebut. Ansa mendorongnya dengan kasar, dan segera bangkit.


"Cih! Kamu menjijikkan!" pekik Ansa dan berlari pergi dari hadapan Jaro.


Aku juga ngga suka perasaan ini. Tapi aku ini laki-laki normal. Dan kebetulan saja kamu adalah perempuan, batin Jaro.


"Ro!!" panggil Yono. "Kamu ngga apa, 'kan? Kakimu sakit ngga?" cecarnya.


"Santai aja. Sudah sembuh kok," jawab Jaro. Sembuh karena dirinya, batinnya.


"Terus gimana taruhannya nih?" tanya salah satu temannya.


"Aku yang menang." Pikiran Jaro kembali menjadi licik.

__ADS_1



__ADS_2