
Latihan band telah selesai. Saat istirahat, Jaro dan kawan-kawannya duduk di sofa sembari menikmati minuman bersoda.
Semua sedang asyik berbincang, kecuali Jaro yang larut dalam lamunan. Sekarang apa yang harus aku lakukan?
Tadi pagi, Jaro telah selesai mandi dan menuruni anak tangga. Lalu Bibi Ning menyuruhnya untuk sarapan. Saat di meja makan, mereka mulai mengobrol.
"Bagaimana keadaan Ansa, Ro?"
"Ansa sudah tenang kok, Bi'. Saya sudah mencegahnya untuk tak melakukan hal yang tak waras."
"Apa kalian ...." Bibi Ning menatap lekat kedua mata Jaro.
"Maaf, Bi. Saya ngga bisa menahannya. Ta-tapi, itu membuatnya tenang." Jaro tersenyum getir.
"Tapi itu tetap salah, Jaro." Ucapan Bibi Ning sama seperti biasanya, lembut dan menenangkan. "Kalian tahu, 'kan? Itu hanya boleh dilakukan setelah menikah."
Jaro menyuapkan sesendok makanan, sembari mengangguk. "Ma-af."
"Kenapa setelah menikah? Alasannya supaya kalian sadar bahwa akan ada tanggung jawab yang lebih besar dari sekedar mencintai pasangan. Yaitu mencintai anak-anak."
"Pernikahan memang sebaiknya tak dijadikan ajang pemaksaan, perebutan, pelampiasan. Karena bukan hanya menyangkut dua pihak, tapi dua keluarga."
Bibi meneteskan air mata, jelas sekali beliau sedih dengan keadaan kedua anak muda yang sedang berada di dalam rumahnya.
"Sebenarnya, kalian berdua mengingatkan Bibi kepada hubungan Roro dan ayahmu, Jaro."
Jaro terkesiap. "A-apa yang terjadi, Bi?"
"Dulu, Roro itu memang adik kelas Bibi saat di sekolah. Dia memang sering berkunjung ke rumah saya. Waktu itu, dia cerita kalau dia sudah punya hubungan dengan ayahmu. Roro bilangnya, sebentar lagi dia akan menikah dengan calon pemilik sekolah Mandraguna."
"Beberapa bulan kemudian, Roro cerita ke saya. Dia bilang sebentar lagi dia akan menikah dengan ayahnya Ansa, atau adik ipar saya."
"Tentu saya terkejut ... dan langsung menanyakan apa alasannya. Dia langsung menangis dan cerita kalau ayahnya Ansa sangat tergila-gila kepada dirinya. Hingga akhirnya, mereka melakukan kesalahan seperti kalian berdua dan menikah," ujar Bibi.
"Setelah menikah, ternyata Roro tak hamil. Dia cerita ke saya, kalau dirinya ingin berpisah dari ayahnya Ansa. Tapi semuanya terlambat ...." Bibi berhenti bicara.
"Terlambat apa, Bi? Bu Roro telah mengandung Ansa?" cecar Jaro.
"Ngga, Jaro. Roro mendengar bahwa ayahmu telah menikah dengan ibumu. Waktu itu, ayahmu sudah mendapatkan sekolah Mandraguna dari nenekmu. Roro langsung datang lagi ke saya dan menangis. Saat itu, saya hanya bisa menenangkannya, dan menyuruhnya untuk menerima suaminya yaitu ayahnya Ansa."
Jadi mereka telah lama saling mencintai. Terus, kalau Ansa terpaksa menikah denganku, lalu dia pergi bersama Ranu? Hah, batin Jaro bersedih.
"Bi ...."
"Ya?"
"Saya ngga akan memaksa Ansa, Bi. Karena dia masih memiliki hubungan dengan Ranu," jelas Jaro.
__ADS_1
"Ranu? Ranu yang dulu adalah kakak pembimbing tari di sini?"
Jaro mengangguk. "Saya akan menjelaskan semuanya kepada Ranu, Bi. Dia harus tahu."
Bibi meneteskan air mata lagi. "Pikirkan dan bicarakan baik-baik dengan Ansa ya. Kalian masih muda, masih usia sekolah dan masih harus menggapai impian kalian. Kalau sudah menikah, list impian kalian mungkin akan dibatasi oleh tanggung jawab sebagai suami-istri."
Sepertinya mas Deniz pernah menjelaskan tentang itu. Ada hal yang lebih penting dari cinta, yaitu komitmen dan tanggung jawab.
"Heh!!" Tris menyenggol pundak Jaro. Membuat Jaro sadar dari lamunannya.
"Lagi mikirin apa sih?"
Jaro hanya menggeleng, dan kembali meneguk minuman soda dari bibir gelas.
Masih di meja makan,
Ansa meminta Bibi Ning untuk membuatkan surat izin tak masuk sekolah hari ini. Namun jawaban Bibi Ning membuatnya lega.
"Tadi Jaro sudah membuatnya dan dia meminta tolong kepada sopir mu untuk mengantarkan surat itu ke sekolah, Sa."
Ansa tersenyum dan mengangguk. Terima kasih, Ro.
Siang hari,
Barang-barang milik mereka sudah dibereskan sendiri oleh Ansa. Dia meletakkan di kamar yang baru. Saat ini, dirinya berbaring di atas kasur dan memejamkan kedua matanya.
Tok tok!
Jaro memasuki kamarnya. "Ansa," panggilnya.
"Hm?"
Dia mendekat dan duduk di pinggir kasur, tepat di samping Ansa yang mencoba untuk tidur. "Ngga makan?"
"Ngga, Ro." Ansa membuang mukanya dan memunggungi Jaro.
"Masih sakit?"
"Ya."
"Mau ku gendong turun, atau aku bawakan makanan ke sini?"
"Aku mau tidur. Nanti aku turun sendiri," jawab Ansa dengan cepat.
"Setelah ini aku akan bilang ke Ranu, Sa."
__ADS_1
Ansa melebarkan matanya dan mengubah posisi menjadi duduk. "Kamu mau apa dengan bilang ke mas Ranu? Mau bilang kalau aku akan menikah denganmu?!"
"Iya, Sa. Kalian masih pacaran, 'kan?"
Apa sekarang aku bilang saja ke Jaro, kalau mas Ranu ngga mencintaiku dan hanya memanfaatkan ku aja? pikir Ansa.
"Sa?"
"Mas Ranu cuma menginginkan perusahaan papaku, Ro. Ke-kemarin aku mendengarnya sendiri waktu dia mengobrol dengan ayahnya."
Jaro terkejut dan menggenggam tangan Ansa. "Mungkin kamu salah dengar."
"Ngga! Dia bilang sendiri, Ro! Kemarin aku berniat untuk menemuinya. Tapi, ternyata aku malah tahu rencana jahatnya yang ingin menjatuhkan papaku! Huhu!"
Jaro menarik kepala Ansa, supaya bisa bersandar ke bahunya. "Kamu ... lebih kuat dariku, Sa. Mangkanya Tuhan memberimu ujian ini," bisik Jaro.
Ansa mendengarnya, dan tangisnya semakin kencang. Jaro terpaksa ikut naik ke atas kasur dan memeluk Ansa. Bahkan mereka kembali menyatu.
Entah siapa yang memulai. Namun saat sore hari telah menjelang, Jaro baru memakai kembali pakaiannya. Lalu melangkah menuju kamar mandi.
Malam hari,
Mereka bertiga berkumpul di ruang tamu. Jaro telah membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.
"Saya akan tanyakan hal ini pada kakak saya," ucap Jaro.
"Bibi. Kakaknya Jaro sangat baik, bahkan kepadaku yang bukan adik kandungnya," sambung Ansa.
"Dulu saat kita berantem, mas Deniz terus membelamu, Sa. Dia bilang kalau dia senang mendapat adik sepertimu."
"Terus, bagaimana dengan Ranu?" tanya Bibi Ning.
Ansa melotot ke arah Jaro, seakan bilang 'Kenapa kamu menceritakan hubunganku dengan mas Ranu kepada Bibi?!'
"Ternyata Ranu hanya ingin mendapatkan perusahaan pak Hardi, Bi."
"Ma-maksudnya?"
Ansa menyuruh Jaro untuk segera pulang. Namun Bibi Ning mencegah Jaro untuk pulang.
"Ada apa, Bi?"
"Apakah Ranu itu adalah anak pak Widagda?"
Jaro mengangkat kedua bahunya, sedangkan Ansa mengangguk.
__ADS_1
***