Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Adu Otak_3


__ADS_3

3 tahun kemudian, kelas 2 SMA.


Taruhan antara Ansa dan Jaro masih berlangsung. Dari kelas 2 SMP dan telah melewati 3 kali olimpiade, Ansa terus mendapatkan juara di atas Jaro.


Jika Jaro juara 3, maka Ansa mendapat juara 2 bahkan bisa meraih juara 1.


Saat mendapatkan juara, Ansa selalu meminta sesuatu yang sama dari Jaro. "Aku minta kamu ngga menggangguku. Terserah kamu mau ngapain, aku ngga peduli. Aku ngga bakal kasih hukuman atau nge-bully kamu, Ro."


"Tapi ... tahun depan taruhan ini terus berlaku. Jadi kamu masih punya kesempatan untuk mengalahkanku, Ro."


Ansa terus mengatakan itu supaya Jaro tidak mengganggunya lagi, dan kalau bisa hingga wisuda kelas 3 SMA. Dengan giat belajar, dirinya seakan telah melupakan fobianya. Walaupun tiga bulan sekali Ansa mengunjungi pusat terapi.


Jaro selalu menuruti setiap pinta Ansa yang telah mengalahkannya 3 kali. Ada perasaan kecewa karena tak berhasil mengalahkan rivalnya tersebut.


Pikiran Jaro bisa menebak mengapa Ansa melakukan itu. Ya! Pasti berkaitan dengan fobianya! Jaro harus rela diolok oleh ibunya karena tidak berhasil mengeluarkan Ansa dari sekolah mereka.


Sedangkan Sari dan gengnya kadang-kadang masih berulah dengan mengolok Ansa sebagai wonder woman yang telah termutasi otaknya. Dikarenakan dia telah menyabet juara 3 besar selama 3 tahun berturut-turut.


Seperti saat ini di kelas.


"Wah! Si wonder woman lagi belajar!" olok salah satu gengnya.


"Dia jadi wonder woman biar ngga diganggu sama pangeran dari khayangan itu~" sambung salah satu anggota geng yang lain.


"Sebentar lagi otaknya akan menjadi arang panas karena terus membaca. Memang kayak gitu kalau terlalu sempurna," seloroh Sari.

__ADS_1


Ansa masih sama, dia tak memperdulikan orang-orang yang mengoloknya. Telinganya sudah kebal dengan omongan dengki, karena tertutupi oleh bisikan semangat dari sahabatnya.


"Eh, Sa! Tahun ini lukisanku bakal diikutkan pelelangan loh!" seru Mei.


"Waw! Selamat ya!" balas Ansa.


Mereka masih satu kelas, di kelas 11-F bersama Sari dan gengnya. Sedangkan Jaro bersama Wahyu dan Yono di kelas 11-A.


"Ro. Kamu masih ngga mau baikan dengannya?" bisik Yono.


"Ngga. Aku terus aja dikalahin, gimana mau baikan," jawab Jaro.


Mereka sedang membahas Ansa serta olimpiade. Tak jauh dari mereka, Wahyu memanggil Jaro.


"Ro! Lihat jawaban lu yang nomor lima dong! Gua mual lihat rumus sebanyak ini! Agh!" pinta Wahyu.


"Yang butuh siapa ya?" sindir Jaro.


Wahyu berdiri dan melangkah ke arah teman aliennya. Tangannya menengadah serta wajahnya memelas. Jaro dan Yono hanya tersenyum dan menggeleng ketika melihat tingkah Wahyu.


Ansa dan Jaro telah lama tidak sekelas sejak kelas 3 SMP. Mereka hanya sering berpapasan di bimbingan olimpiade dan di sanggar.


Pulang sekolah,


Mereka berdua sama-sama melangkahkan kakinya menuju kelas bimbingan olimpiade. Saat berpapasan, mereka saling membuang muka dan duduk berjauhan di bangku yang berbeda.

__ADS_1


Selama gurunya membahas materi, terkadang mata Jaro melihat ke arah rambut panjang Ansa. Dirinya lebih memilih duduk di belakang, bersama Wahyu.


Sebaliknya, Ansa lebih memilih duduk berhadapan langsung dengan papan tulis dan layar proyektor. Membuat dirinya lebih fokus mendengarkan penjelasan gurunya.


Aku harus duduk di depan sepertinya? Ah, ngga mau, batin Jaro. Pantas saja dia bisa mengalahkan aku. Hidupnya terlalu fokus!


"Hus. Bengong lu?" bisik Wahyu.


"Ngga. Cuma lagi mikirin, gimana caranya gua bisa naik ke puncak tebing yang terjal. Tapi bisa mendahului orang yang ada di atas gua," dustanya.


"Orang yang di atas lu berarti baik banget, Ro. Mungkin aja dia yang bawa tali. Nanti di atas, dia ikat salah satu ujung tali itu di batang pohon atau batu gede. Terus ujung yang lainnya di lepas ke bawah, biar elu bisa lebih mudah buat manjat," tutur Wahyu.


"Kalau orang yang di atas malah mendorong gua? Gimana dong?" balas Jaro.


"Ya ... tetap semangat manjat. Manjatin hatinya biar mau bantu elu!" jawab Wahyu.


Aku harus membuatnya suka ke aku? Ogah ah! pikirnya.


Tali yang tadi itu sebenarnya untuk mempermudah manjat tebing, ya kan? Berarti Ansa punya cara mudah untuk memenangkan olimpiade ini!


Lamunannya membuat dirinya tak sadar bahwa guru telah menutup bimbingan hari ini. Saat Ansa menoleh ke belakang untuk meletakkan buku-buku ke dalam tas, tatapannya beradu dengan netra Jaro.


Jaro menyeringai ke arah Ansa. Atau kalau kamu tak pernah memakai cara mudah itu, aku yang akan menunjukkan kepada semuanya bahwa kamu selalu memakai cara mudah, dan curang! Haha!!


Ansa memasang ekspresi datar ke arah Jaro, walaupun rasa cemas mulai muncul. Apa dia punya rencana lagi? Kenapa senyumannya sangat menyeramkan?

__ADS_1



__ADS_2