Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Pisau Bermata Dua_3


__ADS_3

Di ruang tamu,


Ayah Hardi menatap Deniz, mungkin karena dia yang paling tua di antara mereka bertiga. Lalu beliau mulai bersuara.


"Apa alasan kalian ke sini? Apakah untuk meminta supaya saya membebaskan ayah kalian?" selidik ayah.


"Maaf Pak Hardi. Saya dan adik saya datang kemari memang untuk membahas tentang ayah kami yang telah dimasukkan ke penjara," jawab Deniz.


Ayah mengangguk dan memberi isyarat untuk terus berbicara. Deniz menghela nafasnya, dan kembali bersuara.


"Kami berbicara sebagai saksi bahwa ayah kami tak bersalah. Mengapa? Mungkin pengacara ayah kami sudah menjelaskan tentang posisi ayah yang berbeda di waktu yang sama seperti jatuhnya istri anda."


Mana mungkin ayah bisa membelah diri seperti bakteri. Di satu waktu ada dua tubuh? Haha! batin Jaro.


"Mohon maaf, Pak. Tapi menurut kami ini tak adil. Bukti yang dikumpulkan oleh polisi sepertinya belum lengkap, dan ayah kami malah telah divonis sebagai pelaku," ujar Deniz yang mengeluarkan seluruh unek-uneknya.


"Buktinya sudah kuat dengan adanya hasil tes DNA janin di perut istri saya. Janin itu memanglah milik ayah kalian." Ayah Hardi mengerutkan dahinya, disertai pelototan. "Ayah kalian memang sangat ... cih."


"Walaupun itu adalah milik ayah saya, tapi itu ngga membuktikan kalau ayah adalah pelakunya!" balas Deniz.


"Bapak sih, membiarkan istri keluyuran malam-malam. Terus masuk ke hotel," tambah Jaro.

__ADS_1


Ansa mulai meradang, matanya telah melotot ke arah Jaro. Namun mulutnya terasa kelu, bingung dengan pertengkaran dua orang dewasa di hadapannya saat ini.


"Mungkin Pak Hardi juga melakukan hal yang sama seperti istrinya, Ro," lirih Deniz.


Namun lirihannya terdengar sangat menusuk hati. Termasuk hati Ansa. "Papaku ngga seperti itu, Mas!"


"Sungguh, ini ngga adil. Peng-ngga-adil-an itu sudah menyelewengkan hukum yang ada!" protes Deniz.


"Mereka adil kok. Mereka hanya mengikuti perintah dari pihak korban, supaya menghukum pelaku yang tak bisa membuktikan bahwa dirinya tak bersalah." Ayah sembari menyeringai.


Apakah pak Hardi membayar lebih untuk mempengaruhi keputusan pengadilan? pikir Jaro.


"Heh!!" Deniz berdiri dan menunjuk ke arah ayahnya Ansa. "Jadi anda yang meminta supaya ayah kami dijadikan pelakunya tanpa mengumpulkan bukti yang sangat kuat?! Sia*an!!"


Semua terdiam, gerakan tubuh juga menjadi kaku karena terpaku kepada Ansa.


"Semakin malam semakin ngga waras!! Aku capek mendengarnya!" Nafasnya tersengal-sengal. "Sekarang ... Please, kalian semua pergi dari sini," pinta Ansa.


Jaro menggandeng tangan kakaknya, dan segera pergi keluar dari rumah Ansa. Mereka berdua membuang muka, sembari terus melangkah.


__ADS_1


Di halaman,


Sang sopir juga berlari menuju mobil, lalu menghidupkan mesin. Beliau menunggu dua majikannya menaiki mobil. Setelah itu barulah mobil bergerak menuju pintu gerbang.


Namun, Jaro menoleh ke belakang. Kedua netranya menatap dari balik kaca mobil dan menangkap sosok satu lagi di antara Ansa dan pak Hardi.


Sejak kapan dia ada di sana? Apa yang mau dia lakukan? pikir Jaro.


Jaro kembali menghadap ke depan. "Pak, handphone saya di mana?" tanya Jaro.


Sopir menyerahkan handphone majikannya, walaupun tetap fokus menyetir. Kemudian Jaro segera mengecek foto yang merupakan hasil jepretan sopirnya.


Mata Jaro langsung terbuka lebar. Sia*an!! Ternyata ada pengganggu di antara mereka berdua!


Jaro segera mengirim pesan online kepada Sari. "Aku ngga mendapat foto mereka berdua, Sar. Karena di belakang mereka ada Mei yang mengganggu!"


Beberapa menit kemudian, Sari membalas pesan dari Jaro. "Coba kirim fotonya, Ro. Mungkin aja masih bisa diedit oleh kakakku."


Setelah foto terkirim, Jaro kembali fokus menatap jalanan dari balik kaca mobil. Dia masih memikirkan semuanya. Bagaimana caranya? Gimana cara Mei menyusup hingga sampai di balkon? pikirnya.


Padahal tadi ngga ada siapapun di balkon. Akh! Menyebalkan!! pekiknya dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2