
...“Dari awal aku telah merasa,...
...Seharusnya aku membiarkan dirimu di rumah,...
...Bersama jeruk-jeruk kesayangan mu.”...
Pukul 12 siang, masih di ruang pribadi Meilisa.
Ansa dan Mei telah saling bertukar cerita selama hampir 5 tahun tak bertemu. Selain menjual roti, Mei juga menjual lukisan dari hasil tangannya. Tentu dengan dukungan dari suaminya yang merupakan pebisnis di kota tetangga.
"Wajar sih, kalau ada debat kecil di antara suami-istri. Tapi nih ya, Jaro ngga marah sama aku loh!"
"Syukurlah. Kalian benar-benar sudah akur. Ngga bully kayak dulu!" Mei mengusap perut Ansa. "Apalagi kalau nanti adik bayi ini lahir, kalian harus semakin kompak!"
"Oh! Kalau itu harus dong! Ngga bakal bisa kalau ngurus anak sendirian."
"Mangkanya ayahmu menikah lagi! Supaya Bu Aisyah bisa menjagamu, Sa."
"Hu'um. Yono juga menjagaku."
"Kabar Yono gimana, Sa? Dia belum menikah 'kan?" tanya Mei.
"Bentar lagi. Dia sudah aku olok dengan salah satu santriwati yang cantik banget! Hihi!"
"Terus Yono mau? Ya haruslah!"
Mereka tertawa lagi. Ternyata Mei ngga berubah! Tanya tapi malah dijawab sendiri, haha! batin Ansa.
"Kalau kakaknya Jaro, Sa?"
"Sudah dong! Baru beberapa hari yang lalu! Jodohnya mas Deniz ternyata teman masa kecilnya!"
"Lah menurutmu, suamiku bukan teman kecilku? Suamiku, namanya Wildan, dulu dia pernah sekolah dasar di sekolah Mandraguna. Terus dia pindah ke kota tetangga, karena orang tuanya ingin lebih dekat dengan neneknya Wildan," jelas Mei.
"Waw! Aku ada teman SD, namanya Jaka. Entahlah dia kemana sekarang."
Tiba-tiba, Ansa mengingat nama suami Mei. "Setahuku, baru-baru ini ada orang yang memesan lapak di pasar TechFarm. Namanya sama, Mei. Wildan."
"Oh, iya itu suamiku! Tapi setelah dapat lapak, dia serahkan tugas jaga lapaknya itu ke bawahannya. Dia tetap kembali ke kota tetangga, Sa."
"Eh, Ansa." Mei memanggilnya dengan wajah malu-malu.
"Ih! Apaan sih? Tumben kamu malu-malu, Mei!"
"Biasanya malu-maluin ya?"
"Oh, itu benar!" seloroh Ansa.
"Aku mau dong, ngerasain petik jeruk langsung dari pohonnya, haha!" ujar Mei.
"Ya Allah, Mei! Aku kira kamu kenapa, sampai malu-malu gitu! Haha!" Ansa menyeka tawa harunya. "Boleh, sekarang nih?"
"Eh? Boleh ya?"
__ADS_1
"Boleh banget! Yuk!" Lalu Ansa mengetik pesan kepada Jaro menggunakan handphone-nya.
"Oh, Nyonya Jaro lagi minta izin. Hihi." Mei ikut melihat layar handphone Ansa.
"Bukan minta izin. Tapi ngasih tahu! Ngga tahu diizinkan atau ngga," ucap Ansa.
Mereka segera menaiki mobil milik Mei. Di dalam mobil, telah ada sopir yang akan mengantar mereka berdua ke kebun Techsophistic Farm.
Di sisi lain,
Jaro telah sampai di parkiran sekolah. Dia melangkah menuju ruang kepala sekolah sembari mengecek notifikasi pesan online yang masuk.
"Loh, ini Ansa? Ada apa?" Jaro bermonolog. Setelah membacanya, Jaro mengetik pesan balasan kepada Ansa.
"Iya, sayang. Pulangnya jam berapa?"
Lalu Jaro kembali melakukan aktivitasnya untuk memonitor sekolah. Dia tak sendiri, tentunya akan ditemani oleh kepala sekolah.
Namun entah mengapa, justru ada satu guru yang ikut menemani mereka berdua. Kepala sekolah memperkenalkan guru tersebut kepada Jaro.
"Ini guru baru di sini. Saya memintanya untuk ikut berkeliling sekolah, supaya bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah ini."
Jika guru tersebut bisa bertingkah lebih sopan santun, mungkin Jaro akan mengulurkan tangan kanannya dan mengingat nama guru tersebut.
"Namanya Becca. Bu Becca akan mengajar mata pelajaran musik."
Becca mengulurkan tangannya. "Becca. Saya hanya tahu kalau Anda adalah pemilik sekolah ini. Ternyata masih muda ya, hehe."
Jaro menyatukan kedua telapak tangannya. "Saya Jamario. Selamat bergabung, Bu Becca."
Jaro tetap fokus mendengarkan setiap ucapan kepala sekolah. Mulai dari keluhan, hingga pujian untuk murid-murid sekolah ini.
"Mereka semua mirip seperti anda, Pak. Akademik jalan, non akademik juga jalan. Tapi entah mengapa, banyak yang lebih suka dengan ekskul musik, daripada ekskul olahraga," ujar kepala sekolah.
"Saya tahu penyebabnya!" Becca melihat ke arah mereka. "Kemarin, saya sudah perkenalan dengan murid-murid kelas dua SMP. Alasan mereka lebih suka ekskul musik adalah: karena cukup mengeluarkan suara, ngga perlu banyak gerak, dan fokus mereka menjadi terlatih."
"Hm. Terima kasih atas informasinya, Bu Becca," balas kepala sekolah.
Jaro tetap melihat ke arah kepala sekolah, walaupun Becca telah menjelaskan jawabannya. Lalu tukar opini terjadi di antara Jaro dan kepala sekolah.
"Kalau seperti itu, tolong minta guru olahraga untuk menjelaskan kepada murid-murid tentang pentingnya ikut ekskul olahraga. Selain mereka ahli di salah satu bidang olahraga, mereka juga akan mendapat raga yang sehat dan kuat," tutur Jaro.
"Sekuat anda, Pak Jamario," ucap Becca kepada pria berkemeja merah maroon dan jas hitam.
Pria tersebut adalah Jaro. Dia benar-benar tak tertarik untuk menatap guru baru berbaju atasan yang terlihat sesak. Justru dirinya tertarik pada pemandangan dua murid yang sedang duduk berhadapan di dalam kelas.
Kelas tersebut sedang ditinggal guru yang mengajar mereka. Jaro tersenyum tipis. Mereka mirip seperti aku dan Ansa ya?
"Saya izin masuk ke kelas itu, ya Pak? Mereka mulai tidak kondusif," kata kepala sekolah.
Jaro mengangguk dan hanya berdiri mematung, sembari menatap suasana kelas dari balik jendela. Sedetik kemudian, dia baru sadar bahwa di sampingnya ada alien dari planet Venus.
"Pak Jamario. Berapa umur anda? Saya lihat, anda sangatlah muda," ujar Becca.
__ADS_1
Tentu saja! Aku baru lulus kuliah! Haha! Lah dia sudah 30 tahun! pikir Jaro.
"Saya di sini untuk mengecek keadaan sekolah. Permisi." Jaro melangkah pergi menyusuri lorong yang terdapat kelas-kelas selanjutnya.
Waktu mengecek untuk hari ini sangatlah singkat. Saat ini dirinya mungkin hanya bisa mengecek SMP dan SMA. Sedangkan SD dan ekskul, mungkin akan dia lakukan esok hari.
Pukul dua siang,
Jaro telah menyelesaikan keliling SMP dan SMA. Dia juga bersyukur bahwa si alien tersebut hanya mengajar di SMP. Setelah berpamitan dengan kepala sekolah di SMA, dirinya melangkah keluar menuju parkiran.
Di sisi lain,
Ansa dan Mei asyik memakan jeruk di teras vila keluarga Hardiyata. Mereka terus tersenyum karena hasil panen mereka cukup melimpah.
"Mereka sangat mengenalmu ya?" Mei takjub dengan kepopuleran Ansa di kalangan para pekerja ladang.
"Aku sempat kerja di sini setelah lulus kuliah, Mei. Eh, setelah itu aku hamil! Terus papa nyuruh aku ngga perlu kerja, istirahat dulu."
"Sampai kapan? Sampai lahiran?"
"Iya! Haha!"
"Ya Allah! Kamu cocok banget kalau main ke tokoku, Sa! Biar kamu ngga bosan di rumah aja!"
"Ngga bisa, Mei. Aku ngga mau semuanya khawatir ke aku, dan anakku."
Di toko roti,
Jaro tak mendapati pemilik toko dan kawannya. Ah salah. Jaro tak bertemu teman sekolahnya dan istrinya. Mereka lama sekali bermain di TechFarm! batinnya.
Jaro menghubungi istrinya, Ansa. Namun tak ada jawaban. Segera dirinya menghubungi teman sekolahnya, Mei.
"Halo, Mei! Kalian masih kebun--"
"Jaro! Tolong ke sini, Ro! Aku butuh bantuan mu!"
Ish! Mereka pasti ingin mengerjaiku ya? pikir Jaro. "Iya, aku segera ke sana, Mei!"
Beberapa setengah jam kemudian, di vila.
Jaro masih bingung dengan posisi vila di kebun TechFarm. Karena inilah pertama kalinya dia kemari. Harusnya dari awal aku mengajaknya ke sini ya? Biar aku hafal jalur ke sini.
Setelah memakirkan mobil tepat di depan teras, Jaro melangkah menuju pintu. Dia melihat jeruk-jeruk berserakan di teras vila.
Lalu dia mengetuk pintu dan dadanya mulai terasa sesak.
"JARO! DOBRAK PINTU INI, RO!" teriak Mei dari dalam pintu.
"Mei? Mei! Memangnya kenapa--"
__ADS_1
"Pintunya dikunci, Ro!"
***