
Di kelas,
Ansa dan Mei saling ber-tos karena rencana mereka berhasil! Ide itu berasal dari Ansa, karena dia ingin mengingatkan Jaro supaya menjaga mulutnya.
"Dia ngga menjaga mulutnya sih, huh!" keluh Ansa.
"Balasannya ya kayak gitu. Hap! Lalu ditangkap!" balas Mei dengan sebait lirik lagu.
Mereka berdua tertawa sangat kencang, bahkan Ansa menjelaskan mungkin Jaro merasa seperti makan jeli saat mengunyah hewan tersebut. Mereka tertawa lagi, hingga bel masuk berbunyi.
Ansa dan Mei berhenti tertawa, dan menunduk disaat Jaro memasuki kelas. Setelah Jaro memunggungi mereka, Mei menutup mulutnya dengan tangan kanan. Dia paling susah kalau disuruh menahan tawa.
Pulang sekolah,
Jaro bergegas keluar kelas, dan berdiri menyandar di pintu. Namun matanya melihat ke dalam di kelas sebelah. Dia sedang memberi kode kepada Sari untuk melakukan rencana selanjutnya.
Sari mengangguk dan menunjuk bahwa dirinya akan langsung pergi ke tempat tujuan mereka. Jaro tersenyum dan kembali melihat ke arah Ansa.
"Eh, Yon! Tadi kamu ingin beli jajan di toko dekat gerbang samping, 'kan? Ayo kita ke sana!" ajak Jaro.
Setelah Jaro dan Yono pergi, Ansa menoleh kepada Mei. "Memangnya ada gerbang samping ya, Mei?" tanya Ansa.
__ADS_1
"Ada, Sa. Tapi gerbang itu dibuka hanya untuk anak SMA. Mau apa mereka ke sana?"
"Mereka bilangnya sih, ingin beli sesuatu di toko dekat gerbang itu."
Mei mencoba meyakinkan Ansa bahwa tidak perlu menghiraukan teman laki-lakinya yang tak waras itu. Ansa menuruti ucapan Mei dan segera melangkah keluar.
Di luar sekolah,
Ansa telah terpisah dari Mei. Dia menunggu mobil jemputannya datang ke mari. Cukup lama, hingga dia memilih untuk duduk di bawah pohon.
Di depan pagar sekolah, lagi-lagi terdapat taman dengan rerumputan dan pepohonan. Ansa sangat takjub dengan petugas dan pengurus sekolah ini. Namun juga merasa miris dengan kelakuan pemilik sekolah ini. Ya! Keluarga Daghiawi!
Byurr!
Tiba-tiba ada sosok yang menyiramkan air kepada Ansa bagaikan dihantam ombak. Alhasil Ansa basah kuyup di tengah teriknya mentari. Dia langsung mengusap wajahnya, dan matanya terbuka lebar untuk melihat sosok yang biadab tersebut.
Ansa menjerit, "Aaa!!!"
Suara tawa segerombolan wanita mulai menusuk telinga dan hati Ansa. Dia hanya bisa menahan amarahnya, dan meneteskan air mata.
Pasti ini kelakuan Sari dan gengnya! Ditambah si bocah jahat itu! batin Ansa.
"Waduh! Bau apa ini? Baunya busuk!" ucap Jaro. Dia hanya berlagak di depan Ansa.
__ADS_1
"Oh! Kamu yang anak wanita penggoda itu ya? Ih, mau belajar jadi penggoda kok malah bau sih? Hii~" seloroh Jaro.
Ansa melangkah maju ke arah Jaro. "Kamu juga harus bau, Ro!!"
Namun Sari dan gengnya segera mendorong mundur Ansa dengan kencang, hingga Ansa jatuh terduduk. Jaro tersenyum melihat keributan para wanita tersebut.
[1 : 6]
Ansa harus menghadapi 6 orang di depannya. Rasanya tidak mungkin. Dia memilih bungkam dan kembali duduk di atas rumput.
Jaro berjongkok di hadapan Ansa, menatap mata yang berkaca-kaca milik Ansa. "Anggap saja ini adalah hadiah terakhir dari kami, sebelum kamu keluar dari sekolah ini!"
"Besok, kamu jangan kembali ke sini ya? Atau nanti, kamu akan kami beri lagi kejutan yang bombastis!!" sambung Sari.
Jaro menyuruh Sari beserta gengnya untuk membubarkan diri. Dia memajukan wajahnya dan berbisik, "Seragam kita berwarna putih. Tapi di balik seragam mu yang basah dan hijau ini, aku melihat si kuning yang bikin gemas dan ingin ku remas!"
Ansa mengerti maksud dari perkataan Jaro. Segera dirinya menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Dasar mesu*!!
Jaro melemparkan jaketnya kepada Ansa. "Pakai itu! Atau nanti akan ada yang memeras si kuning itu!" pintanya. Dia langsung melangkah pergi meninggalkan Ansa.
Ansa cepat-cepat memakai jaket merah-hitam tersebut. Dirinya menangis dan sekujur tubuhnya mulai menggigil. Setelah beberapa menit berlalu, barulah sang sopir datang. Ansa membentak sopir tersebut dan meminta untuk mengantarkan dirinya pulang.
Dari kejauhan, Jaro melihat Ansa dengan tatapan sendu. Dia telah mengerti arti teguran Ansa untuk dirinya, walaupun dirinya nyaris menelan cicak!
__ADS_1
"Itu untuk memberitahumu bahwa aib mamamu sangatlah mempengaruhi dirimu, bahkan untuk sekolah ini, Sa. Aku pun juga terkena baunya!" gumam Jaro.
***