
Di rumah sakit,
Ansa dan ketiga temannya telah sampai di depan ruang operasi. Sebelumnya, Ansa telah menghubungi ayahnya untuk menanyakan alamat rumah sakit ini.
"Jaro ...." Air mata kembali bercucuran saat dirinya melihat dari balik kaca. Terlihat para petugas medis sedang melakukan operasi kepada suaminya.
Papa? Papa di mana? Sudah cukup dia merenggut semua yang aku punya! batinnya.
Mei memegang kedua pundak Ansa. "Operasinya pasti berhasil kok. Tenang ya, Sa."
"Aku mau ketemu papaku, Mei. Bentar ya."
Di kamar lain,
Ansa melihat orang-orang yang sedang dibalut lukanya. Seakan tadi pagi mereka telah berperang. Matanya terus fokus mencari keberadaan ayah.
"Ansa, sini sayang," panggil ayah.
Ansa melangkah pergi menuju ayahnya. Dengan tatapan penuh amarah, dirinya berdiri tegak di hadapan beliau.
"Gimana, Pa? Sudah baikan?"
Ayah mengangguk dan tersenyum tipis. "Untung banyak yang membantu Papa—"
"Oh ya? Syukurlah. Bagaimana? Senang karena sudah mengalahkan musuh? Berarti setelah ini, aku harus rela kehilangan suamiku untuk perusahaan Papa itu, Hah?!" sergah Ansa.
"Ansa. Papa juga ngga tahu, sayang. Mereka tiba-tiba saja mau membantu Papa. Awalnya Papa hanya memberi tahu kepada paman Dipta. Setelah itu, paman yang menyarankan Papa untuk meminta bantuan kepada Dingga."
"Lalu tadi malam ... Jaro menemui Papa di ruang kerja. Dia menawarkan diri untuk membantu Papa, bahkan dia memberikan nomor telepon kakaknya. Siapa? Em ... Deniz ya?"
"Deniz sangat di luar ekspektasi Papa. Dia benar-benar cerdas dalam bidang teknologi. Tiba-tiba saja, dalam semalam Papa telah berhasil menyusun rencana. Terus, Papa menyuruh para teknisi perusahaan untuk memasang CCTV tersembunyi."
__ADS_1
"CCTV itu akan Deniz sambungkan ke beberapa stasiun televisi. Papa merasa heran, gimana caranya anak itu melakukannya? Dia langsung bilang, 'Saya memanfaatkan ke-famous-an saya untuk mendapatkan banyak teman, banyak relasi.' Perkataannya itu membuat Papa percaya, Sa."
Ansa tersenyum tipis, dan sedikit merasa lebih lega. "Terus, kenapa Jaro terluka? Padahal sudah ada petugas keamanan dan mas Dingga!"
Ayah kembali bersuara, "Rencana awal kami adalah membiarkan para rival untuk masuk ke perusahaan. Papa dan pak Lovi memang sengaja menunggu di ruangan Papa. Saat para rival sudah di dalam, barulah paman Dipta dan Dingga bersama dengan para petugas keamanan maupun para pegawai perusahaan TechFarm yang menyerang rival Papa."
"Tapi tadi pagi, semuanya berubah. Tiba-tiba saja di ruangan Papa sudah muncul pak Wid dan dua bodyguard. Ternyata pak Wid sudah menyuap para keamanan untuk meninggalkan perusahaan. Papa dan pak Lovi sempat berlari turun, tapi gagal. Lalu Papa menelpon Deniz dan membiarkan dirinya mendengar percakapan Papa dengan pak Wid."
"Ansa ... Papa ngga pernah berencana untuk melibatkan mereka, Jaro dan Deniz. Papa sudah cukup bangga kepada Deniz yang membantu Papa di bagian CCTV. Tapi tadi, Papa benar-benar semakin bangga kepada suamimu dan kakak iparmu itu."
"Paman Dipta dan Dingga memang akan segera datang saat mendapat aba-aba dari Papa. Tapi tadi rencananya berubah total, Papa ngga bisa menghubungi mereka. Akan tetapi untunglah, Deniz telah punya nomor mereka berdua, sehingga mereka segera membawa pasukan ke perusahaan."
Lalu terdengar suara riuh dari layar televisi yang dihidupkan. Memang benar, ada beberapa channel televisi yang mempertontonkan suasana di perusahaan.
Ansa memeluk ayahnya. "Ma-af, Pa. Aku sudah menyalahkan Papa. Ta-tapi Jaro, Pa. Dia seakan seperti ...."
"Ngga, sayang. Jaro ngga lemah. Do'akan saja ya?"
"Ngga, Papa yakin dia segera pulih, sayang." Beliau mengelus pucuk kepala Ansa.
Malam hari,
Ansa kembali lagi ke rumah sakit, untuk menemui Jaro. Di sana, dirinya baru bertemu dengan Deniz.
"Mas, belum pulang?"
Deniz menggeleng. Jelas terlihat dari matanya yang memerah, bahwa dirinya sedang mencemaskan keadaan adiknya.
"Mas pulang aja, ada aku yang akan menggantikan Mas di sini."
__ADS_1
"Sa. Maaf ya. Tadi chat-mu ngga sempat aku balas. Dan ... maaf karena aku ngga bisa melindunginya." Deniz menoleh ke arah Jaro yang masih terbaring di atas kasur.
"Iya. Papa juga sudah cerita semuanya ke aku. Kalian sangat nekat, tapi syukurlah semua selamat. Walaupun dia ter-lu-ka." Ansa menatap sendu ke arah Jaro.
Setelah Deniz pergi, Ansa mendaratkan diri di kursi. Hampir dua jam dirinya menunggu, hingga kepalanya mengangguk-angguk karena matanya mulai mengantuk.
"Mbak." Tiba-tiba seseorang memanggil Ansa.
"Eh, eh?" Ansa mendongakkan kepalanya, dan matanya melihat sosok pria berjas putih yang panjang.
"Kalau boleh tahu, apa hubungan Mbak dengan pasien ya?"
"Saya istrinya, Pak Dokter," jawab Ansa.
"Kalau begitu, Mbak berjaga di dalam saja. Mungkin sebentar lagi, suami Mbak akan sadar."
Tubuh Ansa bergetar. Aku akan menjaganya? Hah, iya. Setidaknya masih ada harapan. Semoga.
Langkahnya terasa berat, walaupun sangat ingin menemani Jaro. Bayangan tentang masa lalu sedang memenuhi pikirannya. Iya, tentang ibunya yang langsung terpejam selamanya di hadapan Ansa.
Ansa mendaratkan diri di kursi, tepat di samping suaminya. Dirinya menggenggam tangan kiri Jaro, dan mengecup pipi Jaro.
Sayang, bangun yuk. Jangan tidur terus dong, batin Ansa sembari salah satu tangannya mengelus rambut Jaro.
"Jaro ... Papa sudah merestui kita loh. Tadi Papa bilang, kalau dia bangga sama keberanian mu." Air matanya mulai mengalir.
"Bangun yuk, please ... bentar lagi kita ujian loh. Ayo kita belajar bareng lagi."
Genggamannya semakin kuat.
"Aku ngga mau kehilanganmu secepat ini, Ro. Hiks."
__ADS_1
***