Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Tipu Muslihat_2


__ADS_3

Di mana Jaro?


Jaro berlari menuju ruang kepala sekolah, karena baru saja dihubungi oleh ibunya. Pikirannya masih sibuk menerka-nerka mengenai hukuman apa yang akan diberikan kepadanya.


Beberapa menit kemudian,


Para petinggi sekolah Mandraguna telah duduk melingkar di depan meja rapat. Ibu Liana dan Jaro juga ikut duduk di antara mereka.


"Baiklah. Sebenarnya kami sangat prihatin terhadap hal ini. Salah satu peserta perwakilan dari sekolah ini justru berusaha menjatuhkan peserta lain, yang ternyata juga perwakilan sekolah ini," ujar kepala sekolah.


Yang lainnya segera membalas. "Itu benar. Kemungkinan yang terjadi adalah peserta yang ini merasa iri dengan keberhasilan Najiha. Sehingga dia nekat memfitnah."


"Nak Jaro. Apakah itu benar? Atau ada alasan lain?" tanya kepala sekolah dengan lembut.


Dulu Ayah Awi pernah bercerita kepada Jaro dan Deniz bahwa beliau dengan kepala sekolah Mandraguna adalah teman akrab sejak dari bangku sekolah.


Itulah alasan yang membuat kepala sekolah berbicara lembut kepada anak dari teman akrabnya. Beliau menyayangkan tindakan Jaro yang begitu buruk.


Ibu Liana pasrah. Raut cemas terlihat di wajahnya. "Bapak-bapak sekalian, silakan hukum anak saya. Tapi tolong, jangan keluarkan dia dari sekolah ini."


"Kami tidak akan mengeluarkan Nak Jaro dari sini. Jika alasan yang diberikan cukup logis, maka mungkin kami bisa meringankan hukumannya," jawab salah satu petinggi sekolah.


Jaro segera angkat suara, menjelaskan permasalahan dirinya dengan Ansa. "Sudah sejak lama saya ingin mengeluarkan Najiha Hansaria dari sekolah ini ...."



Sore hari di sanggar,


Ansa sedang fokus melatih para anggota baru di pelataran. Suara kerasnya terus menyemangati adik-adiknya yang berusaha meluweskan gerakan tubuh mereka.


"Satu, dua, tiga, empat! Lima, enam, tujuh, lapan!" Mulut Ansa terus berhitung, diikuti kedua netra yang fokus memperhatikan.


Hitungannya semakin cepat. "Tu, wa, ga, pat, ma, nam, ju, pan!"


Tak lama, Mei mendatangi Ansa. Tentunya Ansa langsung paham dengan kedatangan temannya tersebut.


"Ansa, Ansa!" panggilnya dengan suara tersengal-sengal.

__ADS_1


Ansa tersenyum, dan meletakkan kedua tangan di pinggang. "Apa sih Mei?" tanyanya yang pura-pura tak mengerti.


"Jaro didiskualifikasi dari lomba? Kok ngga dapat juara tiga, lima bahkan sepuluh besar?" cecarnya.


Ansa melihat ke sekelilingnya. Memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. "Kalian hitung sendiri ya. Aku mau pergi sebentar."


"Iya Mbak!!" jawab mereka serempak.


Ansa menarik Mei ke pojokan pelataran. Lalu mulai menjelaskan sesuai apa yang dia dengar dari kepala sekolah tadi pagi. Kedua netra Mei langsung melebar sembari mengangguk.


"Parah, parah. Sudah kelewatan itu, Sa. Terus hukumannya apa?"


"Kayaknya benar sih, didiskualifikasi dari olimpiade, Mei."


"Sudah cuma gitu aja? Kurang itu!!" protes Mei.


"Ish! Ayahnya kan pemilik sekolah, Mei. Jadi masih dilindungi lah ya," balas Ansa.



Esok hari,


Lalu pintu kamarnya terbuka. Jaro mengucek kedua matanya dan melihat sosok yang tak jauh beda dari dirinya.


"Ro! Ngga sekolah?" tanya kakaknya, Deniz.


"Aku ...." Jaro berhenti bicara. Mas Deniz ngga boleh tahu kalau aku sedang mendapat skors dari sekolah.


"Badanku kurang enak hari ini. Kayaknya gara-gara olimpiade kemarin, Mas," dustanya.


Deniz mengangguk dan melangkah pergi. Jaro mengelus dadanya. Syukurlah.


Di kelas,


Fokus Ansa saat membaca menjadi terganggu oleh pembicaraan Sari dan gengnya. Geng tersebut berkali-kali menyebutkan nama Jaro, membuat telinga Ansa terbuka lebar.


"Hari ini Jaro ngga masuk."

__ADS_1


"Kata ayahku, dia ngga boleh masuk sekolah."


"Oh ya? Berarti dia dapat skors."


"Berapa hari ya?"


"Ngga tahu. Mungkin seminggu?"


Oh ya? Jadi dia mendapat skors dari sekolah, batin Ansa. Lalu lengannya terasa disentuh oleh Mei.


"Dia dihukum atas perbuatannya kemarin, Sa. Syukurlah ...," bisik Mei.


Di rumah Jaro,


Jaro mendaratkan diri di ruang makan. Lalu salah satu pelayan menghidangkan sarapan untuknya. Sarapannya kali ini dilakukan pukul delapan pagi, ditemani oleh wejangan dari ibu.


"Kamu ceroboh banget sih. Ngeluarin anak cewek cengeng itu aja kok sulit banget," seloroh ibu.


"Aku sudah berusaha, Bu. Tapi gagal. Sudahlah," lirih Jaro.


"Sudah? Kenapa sudah? Kamu masih punya tahun depan. Keluarkan dia tahun depan, biar dia ngga berani lagi me—" protes ibu.


"Bu!" bentak Jaro. Seketika selera makannya menghilang.


Jaro menghembuskan nafasnya. "Ibu kenapa sih ingin sekali mengeluarkan dia dari sekolah?"


"Ibu ngga suka lihat wajahnya yang mirip seperti wanita penggoda itu!"


"Kalau ibu ngga mau lagi melihat wajahnya, gantikan saja posisi ayah di penjara!"


"Jaro!!"


"Apa?! Apa aku salah?! Ngga, 'kan?! Ibu yang salah! Ibu yang sudah mendorong bu Roro!!" jawab Jaro dengan pekikan.


Ibu bungkam dengan mata yang melotot. Namun sedetik kemudian beliau tertawa. "Hahaha! Sekarang kamu menuduh Ibu? Coba, coba mana buktinya?"


"Jawab jujur, Bu! Ya atau ngga?!" bentaknya.

__ADS_1


"Iya! Benar! Ibu yang mendorongnya!" jawab ibu.


***


__ADS_2