
Di sanggar,
Ansa mendapat telepon dari ayahnya yang kesal karena dirinya dengan seenaknya sendiri menukar jadwal les dengan latihan di sanggar.
"Yang penting aku masih mau hadir, 'kan? Atau aku ngga perlu mengubah jadwalnya, supaya aku bisa bolos," ujarnya dengan menekankan suara di kata terakhirnya.
"Ansa!! Ya ampun anak ini! Awas saja kalau kamu mengubah jadwal lagi, Papa ngga akan menuruti permintaanmu!" bentak ayah dan memutus sambungan telepon.
Huf, aku perlu santai di sanggar, Pa. Barulah besok aku bisa fokus lagi dengan pelajaran-pelajaran sekolah. Maaf ya, Pa, batin Ansa.
"Sa, ada apa?" tanya Jaro yang membuyarkan lamunan Ansa.
"O-oh ngga kok, Ro. Tadi papaku telepon tentang les ku. Ayo kita latihan dulu, nanti jam lima baru kita mengerjakan dialognya," ajak Ansa.
"Sekarang aja deh, Sa. Dialog ini buatnya cuma bentar. Lagipula kayaknya kak Nick belum datang ke studio musik. Terus, ke mana pak Ranu, Sa?" balas Jaro.
"Oh, kamu belum tahu ya. Mas Ranu sudah keluar dari sanggar ini, dan sekarang dia kuliah di luar negeri," tutur Ansa.
Jaro hanya mengangguk dan tersenyum. Oh gitu. Jadi mereka sedang LDR.
Mereka langsung duduk di sisi kiri pelataran sanggar. Hampir selama satu jam, mereka menyelesaikan tugas bahasa inggris.
Aduh, peningnya. Tapi syukurlah, ini sudah beres, ucap Ansa dalam hati.
Lalu Jaro mencoba menanyakan pertanyaan ayahnya melalui dirinya. "Gimana nih, rasanya pertama kali sekolah di Sekolah Mandraguna, Sa? Apakah ada kritikan atau saran untuk sekolah?" tanya Jaro.
"Keren banget sekolahmu, Ro! Fasilitasnya lengkap, dan pasti bisa menunjang materi pelajaran maupun hobi para siswa di sekolahmu. Tapi Ro ...," jawab Ansa.
__ADS_1
Namun dirinya ragu. Apakah aku harus cerita tentang Sari yang mengancam ku? Ah, ngga usah, ngga penting.
"Iya, tapi apa Sa?" ucap Jaro dengan menatap lekat kedua netra Ansa.
"Tapi, tolong jangan menganggap ku sebagai lawan mu ya? Aku juga ingin menang lomba lagi, dengan sportif," dalih Ansa, dan Jaro mengangguk.
"Eh, Sa! Sari sudah ku masukkan dalam grup De Rosa. Ternyata benar, pak Roi adalah ayahnya Sari. Beso—" ujar Jaro.
"Ro! Kamu dipanggil kakak itu tuh!" seru Ansa sembari menunjuk ke arah kakak pembimbing tersebut.
"Waduh, iya! Kak Nick sudah memanggilku. Ya sudah, aku ke sana ya Sa! Bye!" ucap Jaro yang agak panik.
"Bye! Terima kasih, Ro!"
Pukul lima sore,
Saat ini mereka sedang membahas kesibukan masing-masing setiap minggu. Hal inilah yang membuat mereka berdua semakin kompak dan tahu akan hobi masing-masing.
"Ya, sebenarnya hari ini harusnya aku mengikuti les semua mata pelajaran yang biasa masuk ke ujian nasional, Ro. Terus Hari Kamis, aku ekskul renang. Jumatnya–" kata Ansa.
"Oh, jadi kamu bisa renang? Kalau aku sih, ikut ekskul basket bareng si Wahyu. Les gitar, les komputer, dan les semua mata pelajaran di ujian nasional memang di hari Selasa, Rabu, Jumat. Di sanggar ini, harusnya aku ke sini setiap Sabtu, Sa. Tapi kamu ngajak aku sekarang, ya aku turuti, hehe," jelas Jaro.
"Loh, jadi hari ini kamu ada les gitar? Waduh, kamu ngga dihubungi orang tuamu karena membolos les, Ro?" balas Ansa dengan mata lebarnya.
"Sekarang masih belum mulai les lagi, Sa. Minggu depan aku baru mulai masuk lesnya. Jadi santai aja," jawabnya.
__ADS_1
Ansa hanya menganggukkan kepalanya dan merasa lega. Untunglah dia tidak sepertiku. Semenit kemudian, Ansa menemukan ide untuk masalah jadwal mereka.
"Atau gini aja, kita saling kirim jadwal di grup De Rosa. Supaya kita mudah janjian kalau ingin ketemuan langsung. Gimana?" tanya Ansa.
"Boleh, boleh. Bilang aja sekarang di grup, Sa."
"Kamu aja deh, Ro. Please ...," pinta Ansa. Aku ngga mau muncul di grup dan berurusan dengan Sari! pikirnya.
"Oke! Bentar ya," balas Jaro.
Saat Jaro sibuk menatap layar handphone-nya, Ansa berdiri dan melangkah pergi ke galon untuk mengambil minum. Pikirannya sembari mengingat kejadian di ruangan ibunya dan di toilet bersama Sari.
Pikiran tersebut, membuat langkah Ansa menjadi sempoyongan dan kepalanya terasa agak pening. Setelah itu, dirinya kembali berjalan dengan memegang gelas yang terisi penuh air.
"Sudah Sa!" ucap Jaro dengan senyum sumringahnya.
Ansa hanya mengangguk, dan dirinya merasa bahwa kakinya mulai lemas. Kepalanya semakin terasa sakit, hingga dirinya pingsan.
Bukk!
Disertai suara gelas yang jatuh dan isinya yang tumpah membasahi lantai pelataran.
"Ansa!!" pekik Jaro dengan lantang. Dirinya bangkit dan segera menghampiri Ansa.
"Sa. Sa. Bangun Sa. Sa, Ansa!" pintanya sembari menepuk-tepuk pipi Ansa.
Semua orang di sanggar segera mengerumuni Ansa yang pingsan. Lalu salah satu kakak pembimbing yang berbadan kekar segera menggendong Ansa ke dalam kamar.
__ADS_1
Jaro hanya bisa bungkam. Apa yang terjadi dengannya? Mungkin dia capek karena terus kepikiran ibunya, hm, ucapnya dalam hati.