
Malam hari,
Ansa telah siuman, dan saat ini dirinya sedang bersama ibunya. Dia disuapi makanan oleh ibunya secara perlahan. Tak hanya itu, Bibi Ning juga menemaninya sehingga Ansa diapit oleh kedua wanita dewasa yang menyayanginya.
"Ma-ma. Aku ngga apa, ya 'kan?" lirihnya.
"Iya, Sa. Kamu cuma kecapekan aja. Kalau ada masalah, cerita aja ke Mama atau Bibi Ning ya," balas ibunya.
"Mama sudah tahu masalahnya, ngga perlu pura-pura ngga tahu, Ma," ucap Ansa dengan terus terang.
"Ditambah lagi, ada anak kelas sebelah, Ma. Anak perempuan, cantik, anaknya pak Roi. Dia mengancam ku supaya aku ngga mendekati Jaro. Padahal aku cuma menganggap Jaro sebagai temanku. Ma, coba hubungi pak Roi, biar ngajarin anaknya supaya ngga sok jadi artis yang lagi main sinetron. Aku ngga suka," lanjutnya yang mengeluarkan semua unek-uneknya.
"Oh ya? Berarti benar, dia lebih suka teman yang seperti tadi," gumam ibu.
"Iya, setelah ini Mama akan menghubungi pak Roi ya."
Di sisi lain,
Jaro menceritakan pendapat Ansa mengenai sekolahnya kepada ayahnya, sekaligus menyindir ayahnya.
"Ansa ngga ada masalah di sekolah. Dia menjawab 'Keren banget sekolahmu, Ro! Fasilitasnya lengkap, dan pasti bisa menunjang materi pelajaran maupun hobi para siswa di sekolahmu. Tapi Ro, tolong jangan menganggap ku sebagai lawan mu ya? Aku juga ingin menang lomba lagi, dengan sportif.' Kayak gitu, Yah."
"Hmm, terus kenapa dia menangis di hari pertama sekolahnya ya? Kira-kira kenapa ya, Bu?" cecar ayah yang memijat keningnya.
"Mungkin masalah dengan temannya," jawab ibu.
"Mungkin ibunya Ansa yang bohong. Padahal harusnya dia menangisi tentang keluarganya. ya 'kan?" jawab Jaro.
Semua menatap tajam ke arah Jaro, seakan terkejut dengan perkataan yang dilontarkan oleh anggota termuda dari keluarga Daghiawi ini.
Jaro hanya membalas dengan menaikkan kedua alis dan tersenyum tipis. Ayo Yah, hubungi ibunya Ansa. Buatlah rencana, dan kami akan membongkarnya!
__ADS_1
Di kamar masing-masing,
Ansa, Jaro dan Deniz saling berbalas pesan di grup. Suara pesan masuk ke gadget mereka masing-masing juga saling beradu.
"Iya, aku sudah baikan kok. Tapi, besok aku ngga masuk sekolah, Ro," ucap Ansa.
"Istirahat yang cukup ya, Sa. Jangan banyak pikiran," balas Jaro.
"Sebenarnya kamu gegabah, Sa. Walaupun buktinya sudah kuat dengan foto perselingkuhan ibumu, tapi ibumu bukan bersama ayahku," balas Deniz.
"Tapi ibunya Ansa bersama ayahku!" Tiba-tiba Sari muncul dalam grup.
Aku ngga mau mengetik pesan di grup lagi! Lebih baik aku tidur, huh! batin Ansa yang mematikan handphone-nya.
"Iya, Sari. Tapi sebelum itu, aku melihat ayahku bersama ibunya Ansa. Masa' mereka berpelukan di kegelapan, ya ampun!" balas Jaro.
"Oh gitu. Sama ya, kayak anaknya," jawab Sari.
Namun Sari telah berhenti online. Sehingga pertanyaan dirinya menggantung di grup percakapan tersebut.
Sepertinya mereka berdua sedang ada masalah. Apakah benar, Sari cemburu kepada Ansa? Ah, lupakan! batin Jaro.
Dua hari kemudian,
Ansa telah masuk ke kelasnya, dan disambut senyuman hangat milik ketiga temannya.
"Hai angsa, sudah enakan?" tanya Mei.
"Sudah kok. Terima kasih doanya ya," jawabnya.
__ADS_1
"Ish, ngga cuma itu dong. Ini aku bawa biskuit supaya kamu lebih enakan lagi!" balas Mei.
Ya ampun, baik banget, batin Ansa. "Ini, gratis nih? Atau aku bayar–" ucapnya.
"Ngga usah, Sa. Anggap aja ini obat bahagia mu," guyonnya.
"Mukamu masih pucat loh. Harus banyak makan ya, Sa. Ngga apa agak tembem dikit, hihi," ujar Yono.
"Ngga apa tembem banyak, tapi nanti repot gendongnya, haha!" seloroh Jaro.
Ngajak gelut nih bocah! Huh! ucap Ansa dalam hati sembari memukul pelan lengan Jaro. "Dasar!" lirihnya.
"Auh, memang benar kok. Hari Selasa kemarin tuh, aku melihat kak Cokro mengangkat mu yang lemas tak berdaya ke kamar. Eh, aku yang disuruh mengepel," tutur Jaro.
"Hmm, masa' sih? Bukannya kamu ngga pernah mengepel ya? Menyapu aja kagak pernah, huh!" protes Ansa.
Tiba-tiba suara melengking memanggil-manggil Jaro. "Ro! Jaro!"
Panggilan tersebut membuat mereka berempat menoleh ke arah pintu kelas. Netra mereka sama-sama menangkap sosok perempuan dengan raut wajah yang kesal.
"Heh anak manja! Beraninya lapor ke orang tua. Kalau berani tuh, langsung bicara ke orangnya!" bentaknya dengan menjambak rambut Ansa.
"Loh loh loh!" seru semua murid di kelas tersebut.
"Ah sakit! Woi!" pekik Ansa.
"Sari! Jangan gitu! Dia baru sembuh dari sakitnya. Sari, sudah! Lepaskan tanganmu!" protes Jaro.
Sosok perempuan tersebut adalah Sari. Dia melepaskan tangannya dari rambut Ansa.
***
__ADS_1