
Hingga tibalah di penghujung akhir kelas 1 SMP,
Ansa dan Jaro sama-sama telah mendapatkan juara dalam olimpiade sains Mandraguna. Ansa di urutan kedua, dan Jaro di urutan pertama. Kemenangan mereka merupakan hasil dari sportivitas dan suportif di antara mereka bertiga.
"Selamat Ansa! Ngga apa di urutan kedua," ucap Mei.
"Ya memang ngga apa. Santai aja~" balas Ansa sembari tersenyum.
Jiwa bergosip milik Mei mulai meracuni Ansa. "Sa, si Sari ngga masuk lima besar ya? Kok bisa?" bisiknya.
"Ngga tahu, Mei. Padahal waktu itu, dia bisa mengerjakan soal-soal tahun lalu dan semua jawabannya benar loh! Sari itu yang paling rajin di antara kita bertiga. Aku aja pernah ngga ikutan belajar bareng sampai dua-tiga kali."
Mei hanya menganggukkan kepalanya. Dia berhenti bertanya kepada Ansa.
Giliran Ansa yang bertanya tentang seni lukisnya. "Gimana latihan melukisnya, apakah kamu sudah merasa ahli?"
"Ya belum dong! Baru latihan berapa bulan, baru bentar banget, Sa. Aku masih latihan melukis di kanvas, tanpa cat air sih."
Lalu Mei menunjukkan foto-foto dirinya saat di tempat melukis, hingga lukisan miliknya yang telah dia foto. "Biar aku selalu punya inspirasi jika melihat foto-foto lukisan buatan ku ini," jelasnya.
"Oh iya, Mei. Berarti kamu belum ada lukisan yang akan dipamerkan saat nanti ulang tahunnya sanggar ya? Kak Oura ngga bilang sesuatu tentang acara itu?"
"Hm ... ngga ada, Sa. Ngga apa, masih ada tahun depan. Aku ngga bakal menyerah! Tapi, kita tetap bareng terus ya?"
Ansa memeluknya, dan tanpa sadar air mata menetes dari salah satu netranya. Dirinya belum pernah mendapat teman yang tulus mengatakan hal seperti itu, tetap bareng terus ya? Perkataan Mei sangat menyentuh hatinya.
"Hei, ngapain kalian pelukan gitu? Atau jangan-jangan ...," tanya Jaro tanpa rasa dosa.
"Ngga ada yang kayak gitu! Ish! Kami lagi bahas acara sanggar yang akan diselenggarakan bentar lagi," balas Mei dengan cepat.
Mereka bertiga tertawa, di tengah kelas yang juga sedang ramai karena menunggu kedatangan guru.
Hingga hari ini, Jaro dan Ansa melupakan masalah ibu dan ayah mereka karena kesibukan sekolah dan ekskul. Fobia milik Ansa juga tidak sedang kambuh, yang dia pikirkan hanyalah belajar dan belajar.
Latihan modelling pun masih Ansa lakoni, karena permintaan dari ayah dan ibunya. Walaupun masih ada sedikit trauma di lantai 8, tapi dirinya tetap memaksakan diri untuk melupakan semuanya.
Sebelumnya, Ansa telah pergi ke Pusat Terapi. Dia diantar oleh ibu dan ayahnya ke tempat tersebut untuk melakukan terapi terhadap fobia Ansa. Namun, sampai saat ini, fobianya masih ada. Tak bisa hilang begitu saja.
Setelah melewati ujian-ujian sekolah,
Akhirnya liburan sekolah pun tiba, dan inilah saatnya Ansa kembali memamerkan kelihaiannya menari. Tak hanya Ansa, Jaro juga diperbolehkan untuk menampilkan keahliannya di atas panggung.
Sanggar milik Bu Roro kembali merayakan ulang tahun yang ke-105. Ternyata sanggar ini telah lama berdiri tegak di antara rumah-rumah sederhana milik para warga desa. Bagian luar sanggar ini memperlihatkan ukiran-ukiran indah, namun bagian dalamnya terdapat bangunan-bangunan luas dan megah yang tersentuh modernitas.
__ADS_1
Di alun-alun Kota Metropolitan,
Panggung telah didirikan sejak sore hari, ditambah dengan sound, peralatan musik, dan lainnya. Sedangkan karya seni lukis diletakkan pada pintu masuk, supaya penonton bisa melihat-lihat lukisan tersebut sebelum esok harinya diadakan pelelangan terhadap lukisan tersebut.
Malam harinya, acara pun dimulai.
Diawali oleh Ansa dan beberapa temannya yang memamerkan kelenturan tubuh sesuai irama musik. Dengan dandanan nyentrik dan unik, mereka seakan menghipnotis para penontonnya.
Apakah orang tua Ansa dan Jaro hadir? Tidak. Namun Jaro sudah memohon kepada kakaknya untuk tetap mengawasi ayah mereka.
Sekitar pukul 10 malam,
Penampilan di atas panggung semakin membuat para penonton merasa tenang. Dari irama yang sangat cepat, hingga irama pelan.
Seperti saat penampilan terakhir ini, yang menampilkan nyanyian lirih diiringi petikan gitar.
It's you~
(Itu adalah kamu)
It's always you~
If I'm ever gonna fall in love, I know it's gon' be you~
(Jika aku pernah merasa jatuh cinta, aku tahu itu adalah karena mu)
Met a lot of people, but nobody feels like you~
(Bertemu banyak orang, tapi rasanya tak ada yang sepertimu)
So, please, don't break my heart~
(Jadi, kumohon, jangan patahkan hatiku)
Don't tear me apart~
(Jangan tinggalkan aku)
I know how it starts~
(Aku tahu bagaimana mulanya)
__ADS_1
Trust me, I've been broken before~
(Percayalah, Aku pernah patah sebelumnya)
Dari balik panggung, Ansa bisa mendengar suara nyanyian tersebut. Dirinya dirundung rasa penasaran, dan membuatnya berlari ke kerumunan penonton.
Dari situlah, Ansa melihat Jaro yang tampil solo di atas panggung. Tiba-tiba, lengannya terasa dirangkul oleh seseorang.
Ansa segera menoleh. "Ih, Mei! Kaget aku."
Mei tertawa lirih. Jika saat ini penampilan band, mungkin dirinya akan tertawa terbahak-bahak di tengah riuhnya para penonton. Namun, lagu yang dibawakan Jaro saat ini memiliki suara pelan. Sehingga dirinya menahan tawa kerasnya.
"Itu ... Jaro ya?" tanya Ansa.
"Iya. Keren ya? Tapi kenapa dia tampil solo?" Mei mengerutkan dahinya, dan Ansa membalas dengan gelengan kepalanya.
Pikiran Ansa kembali ke saat-saat dirinya dengan Jaro dan Sari sedang belajar bersama. Batinnya mengatakan bahwa mereka sedang berpacaran, dan lagu itu pasti untuk Sari.
Akhirnya, dia telah selesai menampilkan keahliannya memainkan gitar dan menyanyikan lagu sendu yang berbahasa inggris. Jaro turun dari panggung, dan langsung mendapat apresiasi dari kakak-kakak pembimbingnya.
"Sebenarnya lagu itu buat siapa sih?" tanya Cokro.
Jaro terdiam, bingung harus menjawab apa.
"Buat pacarnya yang di sekolah itu! Pasti sekarang dia hadir di sini, ya kan?" goda Tris.
"Ngga, aku gak ada pacar. Lagu itu untuk teman ku," jawabnya.
"Oh ya? It's you itu artinya teman? Yaqin nih?" seloroh Nick.
Ansa berdiri di belakang Tris, dan mendengar jawaban Jaro. Dia ingin tahu lebih jauh mengenai Jaro, dengan menguping pembicaraan para pria tersebut. Tapi, mengapa dirinya sekarang peduli dengan kehidupan asmara Jaro?
"Ansa!"
Panggilan tersebut membuat mata Ansa terbelalak. Lamunannya buyar, karena saat ini Jaro sedang berdiri di hadapannya.
"Hm?"
"Tadi suaraku gimana, Sa? Aku belum pernah tiba-tiba nyanyi kayak gitu. Yang ada cuma main gitar sebagai pengiring aja."
"Bagus kok. Semoga Sari menyukainya ya, Ro."
"Eh?" Jaro menatapnya dengan heran. "Aku menyanyikan lagu itu bukan untuk Sari. Tapi itu untukmu, Sa."
__ADS_1
***