Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 33 Restu Keluarga


__ADS_3

...“Rasanya ini semakin melegakan....


...Kita sudah di sini, dengan dukungan dari keluarga kita.”...


Setahun kemudian, kelas 3 SMA.


Pagi hari di sanggar, Ansa terkejut dengan kedatangan ayah dan ayah mertuanya.


"Papa? Ayah? Ada apa mereka tiba-tiba ke sini?" gumam Ansa.


Ayah Hardi tersenyum dan menunjuk ke arah Ansa. Namun mereka tetap saling mengobrol. Hingga sampailah mereka tepat di depan Ansa.


"Ansa! Sini, sayang!" Ayah membuka kedua lengannya, berharap anak tunggalnya segera memeluk beliau.


"Papa!" Ansa tak pernah ragu untuk memeluk ayahnya. Karena hanya beliau yang ia miliki, sebelum Jaro.


Ayah Awi melihat anak dan ayah yang berpelukan. Membuat beliau angkat suara. "Seperti itu ya, kalau memiliki anak perempuan."


"Lebih manja. Hanya karena Papanya akan menikah lagi, dia malah mau dinikahi oleh anak Anda. Haha!" sindir ayah.


"Tak apa. Selama itu bukan paksaan, mereka bisa saling mendukung," balas Ayah Awi.


"Ya. Bahkan perusahaan saya diselamatkan oleh ketiga anggota keluarga Anda. Pak Lovi, adik kandung Anda sudah mulai menggantikan posisi rival saya. Dan angsa kecilku ini, telah dilindungi oleh kedua anak Anda," tutur ayah.


"Ansa ... Di mana Jaro?" tanya mereka berdua.


"Di sana. Studio musik."


"Oh. Saya kira Jaro ikut menari di pelataran ini," seloroh ayah. Membuat semuanya tertawa dengan guyonan beliau.


"Eh, Sa! Aku coba sound-nya ya?" tanya salah satu teman penarinya.


"Iya!"


Lagu mulai diputar menggunakan dua sound yang berukuran sedang. Sound tersebut diletakkan di sisi kanan dan kiri di depan rumah Bibi Ning.


"Atapnya sudah bagus." Ayah Awi melihat ke langit-langit.


Tiba-tiba kedua mata Ansa ditutup oleh kedua tangan milik seseorang. Tentunya Ansa menggerakkan-gerakkan kepalanya.


"Hei!"


"Siapa kamu? Hei, jawab!"


Namun dirinya tak mendapat jawaban. Lalu Ansa mengandalkan indera penciumannya.


"Harusnya, kamu ganti parfum mu sebelum menutup mataku, Ro."


"Ish! Ketahuan deh!" Jaro melepaskan kedua tangannya.


Ansa dan Jaro saling melempar senyuman dengan tatapan mata yang begitu lekat.


‘Cause you are the piece of me~


(Karena kamu adalah bagian dari diriku)

__ADS_1


I wish I didn’t need~


(Aku berharap aku tidak perlu)


Chasing relentlessly~


(Mengejar tanpa henti)


Still fight and I don’t know why~


(Masih berjuang dan aku tidak tahu mengapa)


If our love is tragedy~


(Jika cinta kita adalah tragedi/bencana)


Why are you my remedy?


(Mengapa kamu menjadi obatku?)


If our love’s insanity~


(Jika cinta kita adalah sebuah ketidakwarasan)


Why are you my clarity?


(Mengapa kamu menjadi kejelasanku/takdirku?)


"Ansa, Jaro ...."


"Bentar lagi Papa akan mengadakan akad dan resepsi pernikahan. Lalu Papa dan Pak Awi sudah membicarakan tentang—" Ayah menghentikan perkataannya.


"Tentang?" tanya Jaro.


"Tentang apa, Pa? Ayolah, Pa. Jangan membuatku penasaran," protes Ansa.


"Kami sudah membicarakan tentang resepsi kalian, Sa, Ro," lanjut Ayah Hardi.


"Gimana? Kalian mau, 'kan? Pasti mau dong!" goda Ayah Awi.


"Tapi, biaya dan pakaiannya—" ujar Jaro.


"Nanti tante Aisyah yang akan menyiapkan semuanya. Akhir-akhir ini, Ansa sudah membantu calon mama barunya untuk persiapan pernikahan. Jadi, nanti kamu tanyakan pakaian pengantin untuk kalian berdua ke beliau ya?" jelas Ayah Hardi.


"Siap Pa!" jawab Ansa.


"Sebelum resepsi, aku boleh menginap di rumah Ansa, Yah?" tanya Jaro, dengan wajah memelas.


"Kamu di rumah saja. Pulihkan kesehatanmu." Lalu Ayah Awi mendekat ke telinga Jaro. "Setelah resepsi, kamu bulan madu bersamanya."


Jaro menyeringai dan mengangguk. "Oke, siap!"


"Ayah bilang apa ke Jaro? Memangnya kenapa Jaro ngga boleh menginap di rumah saya?" cecar Ansa.


"Setelah resepsi saja ya, Ansa. Barulah Jaro menginap di sana." Ayah Awi tersenyum dan mengangkat alisnya sedetik.

__ADS_1


Ayah Hardi juga tersenyum, dan mengangguk. Seakan mengerti jalan pikiran besannya.


Ansa menjadi curiga. "Ish! Kenapa sih, Pa, Ayah? Kalian punya rencana apa?"


Jaro cepat-cepat merangkul istrinya. "Ngga ada. Yuk sekarang kamu latihan menari!"



Selama setahun, Jaro dan Ansa tak serumah, bahkan tak sekamar. Mereka hanya sering bertemu di kelas. Ansa duduk di depan Jaro, sehingga mereka masih bisa mengobrol.


Dan juga seperti saat ini.


Di sanggar, mereka tetap menyalurkan hobi mereka masing-masing. Setelah selesai latihan, biasanya mereka meminta izin kepada Bibi Ning untuk memasuki salah satu kamar. Sekedar untuk mengobrol tanpa diganggu.


Di kamar,


Ansa merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sedangkan Jaro melangkah perlahan menuju istrinya.


"Jaro. Buka kaos mu." Hal itu sudah biasa Ansa lakukan untuk mengecek kondisi perut Jaro.


Jaro menurut dan duduk di atas kasur. "Sudah mendingan kok. Tinggal bekas jahitan aja ini, Sa."


"Yup! Tapi kalau disentuh, masih nyeri ngga? Kata dokter, tusukannya lumayan dalam, Ro."


"Hu'um. Makan masih terasa agak perih sih."


Ansa menatap sendu kepada suaminya. "Atau resepsinya dibatalkan aja? Kondisimu masih belum baik loh."


"Jangan, Sa. Biarin aja. Biar keluarga kita senang, keluarga Yono juga senang!"


"Yono juga keluargaku, Ro." Ansa mengambil kaos Jaro yang tadi dilepas. "Cepat pakai lagi. Aku mau mandi. Kalau kamu mau pulang, ngga apa Ro. Bye," titahnya.


"Sa," lirihnya sembari menahan tangan Ansa yang ingin pergi. "Kamu mau pergi ke mana sih? Ada kerjaan di perusahaan model sekarang?"


Ansa masih bekerja sebagai model. Namun dirinya lebih selektif saat memilih klien yang akan diajak bekerja sama, dibandingkan dengan ibunya.


"Sudah agak longgar kok! Mulai minggu depan, aku akan ke perusahaan model dua kali seminggu."


Jaro mengangguk dan melepas tangannya. Mungkin setelah ini, aku akan bertanya ke ayah mengenai pemilik sekolah selanjutnya. Apakah aku atau mas Deniz?


Beberapa menit kemudian, bau semerbak menusuk hidung Jaro. Dia menghabiskan sabun berapa liter ya? batin Jaro.


Ansa keluar dengan lilitan handuk di tubuhnya. Lalu melangkah menuju tasnya dan sibuk memilih baju.


"Sayang, aku kira kamu sudah pulang. Ternyata masih menungguku, hehe." Dirinya tak menoleh ke arah Jaro.


"Aku masih ingin melihatmu. Nanti aja kita barengan keluar dari sini." Jaro juga fokus menatap layar handphone-nya.


"Aku sudah siapkan baju-bajuku di sini! Sekarang aku akan menjalankan tugas sebagai Nyonya Jamario~" Dia meletakkan baju di atas kasur.


Eh? Jaro spontan menoleh ke arah Ansa. "Kok ngga dipakai? Bentar lagi sunset loh!"


Ansa naik ke atas kasur dan membuang handuknya. Dia memeluk Jaro dan berbisik, "Nanti malam aja kita pulangnya, oke?"


Setelah setahun ini, kesehatan Jaro memang mulai membaik. Selama itu, Ansa maupun Jaro harus menahan diri dari perasaan dimabuk cinta. Tapi hari ini, mereka melakukannya perlahan untuk merasakan indahnya pernikahan.

__ADS_1



__ADS_2