
...🔥HEH!!!🔥...
...JANGAN MAIN-MAIN DENGAN RATE YA!...
...Awas aja kalo main-main lagi!...
...Smoga Tuhan mengampuni kalian yang sudah main-main ya!...
...Kalo ada unek2, bisa chat pribadi ke aku. Bisa minta follow ke aku lalu chat pribadi ke aku!...
...Ngga semuanya perlu tahu kesibukan Real Life ku!...
.
.
.
...“Kamu seperti hamparan padi,...
...Yang sepertinya harus dijaga setiap detik dari para burung.”...
Di jalanan,
Jaro mengebut walaupun dia sadar itu adalah salah. Ditambah lagi dengan GPS yang menunjukkan bahwa Ansa tak membawa handphone-nya. Karena Jaro bisa melihatnya dari handphone yang diletakkan tak jauh darinya.
"Ansa, Ansa! Kenapa kamu sangat ceroboh?!" Jaro bermonolog. Bahkan dirinya menggebrak setir mobilnya, dan memencet bel dengan suara nyaring!
Beberapa menit kemudian,
Jaro telah memasuki rumah keluarga Hardiyata. Dia melirik ke arah jam tangannya. Pukul sembilan pagi, batinnya.
"Yono! Yono!!" pekiknya.
"Ro!!"
Jaro memegang pundak Yono, lalu bertanya dengan tatapan cemas. "Di mana Ansa? Yon, Ansa ke mana?"
"Ma-maaf Ro. Tadi kami sudah mencarinya. Tapi ngga ada. Waktu mama nerima tamu, mama manggil Ansa. Te-terus tamunya tiba-tiba hilang, Ansa juga hilang."
"SIAPA TAMU ITU?!"
"Aku juga ngga tahu!" Kelembutan Yono telah hilang.
Jaro mengeluarkan handphone dan mencari foto Ranu. Lalu dirinya segera menunjukkan foto tersebut kepada Yono.
__ADS_1
"Ah iya, benar itu," lirih Yono.
Netra Jaro terbuka, dan berkaca-kaca. Dirinya menatap di belakang Yono. Membuat Yono membalikkan badannya.
"Ansa!"
Sebelumnya,
Ansa telah selesai menunaikan ibadah sunnahnya. Tak lama kemudian, terdengar suara Bu Aisyah yang memanggil dirinya.
"Iya, Ma! Bentar!"
Segera dia melipat dan meletakkan peralatan ibadahnya di laci. Lalu dirinya keluar dari musholla dan pergi menuju ruang tamu.
Hmm, lagi-lagi ya. Ansa tak gentar, karena ingin menyelesaikan masalahnya dengan tamu tersebut.
Setelah duduk, Ansa menatap tajam ke arah si buaya danau tersebut. "Ada apalagi?"
"Sa, kamu benar-benar ngga mau ikut bersamaku? Ikut menjaga sanggar peninggalan mamamu?" bujuk Ranu.
Ansa menggeleng cepat. "Aku sudah membiarkan Mas supaya tetap bekerja di sana. Karena aku tahu, Mas ngga akan menyakiti Bibi Ning ataupun orang-orang sanggar."
"Iya, aku ngga kepikiran sampai situ. Ta-tapi aku mencintaimu, Sa. Kamu pasti terpaksa kan, menikah dengannya?"
"Oh ya? Sa, aku sudah mengenalmu sebelum kamu mengenalnya. Dia cuma tahu sedikit!"
Bahkan Mas Ranu belum tahu ketakutan terbesarku! batin Ansa.
"Ngga peduli, Mas. Sekarang Mas pergi ya? Pergi bekerja di sanggar. Anggap aja itu rumah Mas sendiri."
Seperti biasa, Ansa sangatlah tak peduli. Dirinya hanya ingin tenang dan membiarkan musuhnya melakukan sesuka hatinya hingga capek sendiri.
"Aku ngga mau pergi, sebelum kamu ikut aku pergi."
"Oke. Bentar ya."
Ansa memilih untuk pergi ke dapur. Dirinya menyiapkan dua gelas minuman untuk disuguhkan kepada si buaya. Beberapa menit kemudian, minuman tersebut telah diletakkan di hadapan Ranu.
"Silakan, Mas."
"Eh?"
"Katanya tadi ngga mau pergi dari sini. Mangkanya aku buatkan Mas segelas sirup itu. Biar ngga bosan," dalih Ansa.
__ADS_1
"Oke." Ranu menyeruput minuman tersebut. Lalu tersenyum dan terus menatap Ansa. "Manis, kayak kamu."
"Iya. Aku terlihat manis, tapi aku hanya akan menyakitimu, Mas. Aku seperti mawar, terlihat indah tapi menusuk!"
"Ngga apa, Sa." Ranu tetap menyeruput minumannya.
"Jadi Mas ngga peduli dengan duriku? Hmm ... padahal minuman itu sudah aku tambah sesuatu, yang akan menusuk Mas!" jelas Ansa.
Spontan Ranu berlari menuju teras, dan berusaha mengeluarkan apa yang telah dia teguk. Hok hok!
Ansa turut keluar menuju teras. Dirinya bersandar di pintu yang sedang terbuka lebar. "Yah, kok dimuntahin sih?"
"Ansa! Kenapa kamu tega, Sa?!! Hah?!" Ranu kembali mengeluarkan isinya.
"Mas Ranu. Aku ngga tega. Aku cuma pandai berbohong kepada si pembohong." Ansa tersenyum menang. Walau itu salah, tapi Ansa hanya ingin Ranu segera meninggalkan rumahnya.
"Jadi, Mas ingin tetap di sini? Kalau iya, setelah ini kita makan siang bareng. Tentunya aku ngga akan berbohong, nanti aku akan benar-benar memberi--"
"Iya, iya! Aku pergi!" ujar Ranu dengan nada kesal.
Akhirnya.... Ansa mengelus dadanya.
Kembali ke hari ini,
Jaro berlari dan memeluk erat Ansa. "Ansa! Kamu kemana aja sih?!"
"A-ada apa? Kok kamu sudah kembali?"
"Hei! Aku khawatir!"
Yono telah mendekat kepada mereka yang sedang berpelukan. "Tadi kata mama Ais, kamu hilang bersama tamu yang datang kesini, Sa."
"Oalah." Ansa melepas pelukan Jaro. "Tadi mas Ranu sudah sukarela pergi dari sini. Terus aku duduk di balkon lantai teratas untuk menenangkan diri. Maaf ya."
"Syukurlah." Jaro mengecup dahi istrinya. "Aku yakin kamu sangat cerdik!"
Kehidupan pernikahan yang penuh drama. Tak perlu dicari dan gimik, tapi otomatis ada aja serangga yang mengganggu.
Egois, dengan dalih bahwa tindakan diri ini adalah benar, sudah klasik terjadi. Tinggal bagaimana cara menyikapi dan berusaha belajar dari yang sudah makan asam garamnya.
Yang tahu isi hati, ya hanya manusia itu sendiri dengan Tuhannya. Walau bisa menebak, tapi ada anomali di sana. Biarkan Tuhan yang menentukan, memutuskan, dan membalas. Biarkan.
Seperti kisah ini. Keesokan harinya, Ansa yang semakin sensitif justru membanting handphone-nya.
__ADS_1
"Ansa?! Ada apa?" pekik Jaro.
***