
Bacanya pelan-pelan aja, dari awal sampai tombol nextnya belum muncul :v biar levelnya naik :')
❤ Happy reading 🌱
.
.
.
...“Kita harus ke sana!...
...Karena hatiku mengatakan bahwa akan ada bahaya!”...
Di ruang keluarga,
Jaro berlari menemui istrinya yang berteriak memanggil-manggil dirinya. Saat telah berhadapan, Ansa meraung-raung untuk segera mengantarnya ke rumah kedua.
Ya! Sanggar milik Bibi Ning!
"Ayo Ro! Ayo kita ke sana! Aku takut mas Ranu mengunjungi bibi Ning!" seru Ansa.
Jaro memegang kedua pundak Ansa dan menatapnya. "Ansa!"
Ansa berhenti meraung, walaupun air mata masih menetes. Jaro mencoba berbicara dengan lembut.
"Sa, aku ngga mau kamu ke sana. Biar aku aja yang ke sana dan mengecek keadaan bibi Ning."
"Ngga mau, Ro! Kalau mas Ranu sampai nekat--"
"Ngga bakalan kayak gitu, Ansa. Ngga."
Kalau gitu, aku akan segera masuk ke mobil! Ansa menepis pegangan Jaro terhadap bahunya, dan melarikan diri menuju mobil.
Tentu saja Jaro dan Oriza memekik. "Ansa!!"
"Mbak! Mbak Oriza di sini aja ya?" pinta Jaro.
"Ngga, Ro. Aku ikut!"
Mau tak mau, mereka berdua harus menemani Ansa yang sangat keras kepala ingin pergi menuju sanggar. Selama perjalanan, Ansa mencoba menghubungi Bibi Ning. Sayangnya, tak ada jawaban.
Di sanggar,
Ansa berlari dan memeluk erat Bibi Ning. Dirinya kembali menangis. "Bibi kenapa ngga menjawab telepon ku?!" keluhnya.
"Maaf, maaf. Tadi ada tamu yang datang ke sini."
"Bibi, Ansa sangat khawatir dengan Bibi. Karena tadi, Ranu mengancam kami saat di perusahaan," ucap Jaro.
"Oh ya?" Mata Bibi Ning terbuka. "Kalau gitu, Ayo kita bicara di dalam."
Di ruang tamu,
Mereka memberi kabar kepada Bibi Ning bahwa saat ini Ansa tengah mengandung.
Bibi Ning membalas dengan memberi nasihat bahwa Ansa tak boleh terlalu memikirkan semua hal. Karena bisa mempengaruhi kehamilannya.
"Mbak Oriza, tolong bawa Ansa ke kamar. Nanti sore saja kita baru kembali ke rumah," ujar Jaro tanpa senyuman.
"Ka-mu mau kemana?" tanya Ansa dengan suara serak.
__ADS_1
"Aku mau ke sekolah Mandraguna. Kebetulan mas Deniz dan ayah sedang berkumpul di sana." Lalu Jaro menoleh ke arah Oriza.
"Nanti aku juga akan memberitahu mas Deniz kalau Mbak Oriza ada di sini."
Setelah Ansa dan Oriza memasuki kamar, Jaro berpamitan kepada Bibi Ning. Namun Bibi menghentikan Jaro.
"Jaro."
"Iya, Bi'?"
"Tadi Ranu menemui Bibi," bisik Bibi.
Jaro menahan kagetnya. "Dia bilang apa, Bi'?"
"Sebenarnya, sekarang Ranu masih ada di studio musik. Dia bertemu dengan para juniornya."
Tangan Jaro terkepal, disusul dahinya yang mengerut. "Apakah Ranu ingin kembali mengajar di sini?"
Bibi Ning mengangguk. "Dia sedang mencari pekerjaan. Menurutnya, hanya pekerjaan ini saja yang bisa dia lakukan. Tadi, dia memang bercerita tentang keluarganya yang justru membenci dirinya dan ayahnya."
Aku tak peduli. Yang aku pedulikan sekarang adalah keselamatan Ansa dan anakku! batin Jaro.
"Berarti tadi Ranu sama sekali tak membahas tentang Ansa?"
"Iya."
Jaro mulai menjelaskan apa yang telah terjadi saat mereka berdua di perusahaan. Membuat Bibi Ning menggelengkan kepalanya.
"Jaro. Bibi juga khawatir. Takut jika kisah kalian akan seperti Roro dan Awi. Tapi, semoga itu tak terjadi."
Jaro bungkam. Pikirannya masih riuh dengan sikap Ranu yang justru mengajar kembali di sanggar!
"Kalau gitu, jangan bawa Ansa kemari tanpa pengawasan mu."
"Coba bicarakan dengan ayah mertuamu ya? Bibi yakin, Hardi pasti menjadi protektif kepada Ansa."
"Tadi Ansa sangat keras kepala, Bi'. Saya ngga tega."
"Saya juga salah. Tadi harusnya saya menjawab telepon darinya supaya dirinya lebih tenang."
Jaro mengangguk dan meminta Bibi Ning supaya mendukung dirinya dalam menjaga Ansa. Barulah dirinya berpamitan.
Namun, Jaro berbelok dan melangkah menuju studio musik. Dirinya bak superhero yang akan menantang musuhnya!
Di studio musik,
Jaro bertemu dengan orang-orang yang tak lagi dia kenali. Karena semuanya masih sangat terlihat muda. Untunglah, ada seseorang yang mengenalnya.
"Jaro?!" panggil salah satu orang tersebut, dengan kaos kuning, celana pendek, dan sandalnya.
Perawakannya terlihat tak jauh beda dengan Jaro yang memakai kemeja hitam. "Hei, Ro! Sudah lama tak bertemu!"
Jaro tersenyum lebar dan menyalami teman lamanya tersebut. "Hei, Tris! Iya ya! Sudah lama kita tak bertemu! Sorry ya!"
Tris melihat penampilan Jaro dari atas sampai bawah. "Gua hampir ngga ngenalin lu! Gaya rambut udah berubah gondrong, berkemeja, bersepatu. Wah wah!"
"Hehe. Tuntutan untuk rapi di pekerjaan, Tris. Kalau masuk sini, siapa yang menuntut untuk rapi? Haha!" balas Jaro.
"Gimana kabar keluarga?" Tris memulai pertanyaan yang paling umum ditanyakan untuk dua teman yang telah lama tak bertemu.
"Baik-baik aja. Gua ke sini karena ada urusan dengan salah satu orang di sini."
__ADS_1
"Eh? Sama gua?"
"Ya, sekalian bertemu lu lagi!"
"Oh hehe. Siapa, Ro? Sebutin aja namanya!"
Jaro tak perlu repot untuk menyebutkan nama si buaya danau. Karena buaya yang dimaksud telah muncul di hadapan mereka.
"Hei! Bapak pemilik sekolah Mandraguna!" ujar Ranu sembari tersenyum mengejek.
"Itu orangnya, Tris." Jaro melangkah maju dan mendekat kepada Ranu.
Namun Tris langsung mengerti dengan keadaan sahabatnya tersebut. "Kalian berdua, calm down, please."
Mata Jaro sudah melotot. "Menurutmu, apakah sanggar di kota ini hanya satu?!"
Ranu menyengir. "Sanggar memang sangat banyak di kota ini. Tapi hatiku cuma satu, untuk sanggar ini dan Ansaku."
"RANU!!" Jaro mengangkat kepalan tangan kanannya. Namun Tris menahannya.
"Minggir Tris! Buaya itu harus aku kuliti sekarang juga!!"
"Silakan. Ayo sini," balas Ranu.
"Sudah, Ro! Nanti aku akan bicarakan dengan bibi Ning!" ujar Tris.
Jaro mundur dan mengatur nafasnya. Ombak amarahnya mulai surut karena ucapan Tris. "Iya. Tolong depak dia dari sini!"
Di kamar,
Seharusnya siang ini, Ansa beristirahat. Namun dirinya tak juga bisa memejamkan kedua matanya. Karena pikirannya masih melayang menuju ancaman Ranu.
"Ansa." Oriza mengelus pucuk kepalanya.
"Mbak, turun yuk. Kita temani bibi Ning."
"Istirahat, Sa," balas Oriza dengan lembut.
"Ngga bisa, Mbak. Aku masih kepikiran." Ansa memasang wajah memelas.
"Oke, oke. Ayo, Sa."
Di ruang keluarga,
Mereka berdua tak menemukan sosok Bibi Ning. Sehingga mereka mulai memanggil-manggil Bibi.
"Ansa, aku ke toilet bentar ya?"
"Oh iya, Mbak!"
Lalu Ansa kembali mencari Bibi di segala penjuru rumah. Di belakang dan di dapur tak ada siapapun.
Mungkin di kamar! pikirnya.
Ansa melangkah menuju kamar Bibi Ning. "Bi'?" panggilnya.
"Ansa!"
Panggilan tersebut membuat Ansa membalikkan badan. Matanya melebar dan dahi nya berkerut.
***
__ADS_1