
Akhirnya, Ansa dan Mei memutuskan untuk kembali ke kelas. Mei menyetujui pendapat Jaro yang menyuruh Ansa untuk menyelesaikan masalah melalui grup.
Mereka telah mendaratkan diri di satu bangku yang berada nomor 2 dari depan. Ansa meletakkan handphone-nya dan menghela nafas lega. Sedangkan Mei menatap temannya tersebut.
"Maaf ya, Mei. Kita ngga jadi ke kantin," ucap Ansa.
"Ngga apa, Sa." Mei tersenyum dan menepuk pundak temannya, lalu kembali bersuara.
"Sebenarnya Sari ngga pernah kayak gitu, sampai main fisik. Yang aku tahu sejak SD, dia itu lembut banget loh. Aku jadi ngga tega buat bicara cerewet ke dia. Jaro pun sama. Tapi bedanya aku dengan Jaro adalah ... Jaro pernah digosipin dengannya, karena mereka dekat banget!" lanjutnya.
Ansa memasang wajah heran, dan hanya memilih untuk menganggukkan kepalanya. "Saat SD dulu, apakah Jaro pernah mendekati cewek selain Sari?" lirihnya.
"Seingatku sih ... ngga ada, Sa. Jaro bisa dekat dengan Sari karena mereka belajar bareng untuk olimpiade sains di sekolah ini," balas Mei. Mereka berhenti sejenak karena Jaro dan Yono telah masuk ke kelas.
"Oh! Aku tahu Sa!" serunya. Mei mendekatkan wajahnya ke salah satu telinga Ansa, dan membisikkan sesuatu. Sembari menyimak apa yang dibisikkan oleh Mei, Ansa merogoh handuk biru yang diletakkan di kolong bangkunya.
"Gimana, gimana? Oke 'kan?" ucap Mei dengan mengangkat kedua jempolnya.
Ansa mengangguk dan tersenyum manis. "Thanks ya! Eh, ini handuk mu, Mei!"
__ADS_1
Mei mengambil handuk tersebut dari tangan Ansa, lalu menyerahkannya ke Jaro. Mata Ansa terbelalak. "Loh, itu punya Jaro?"
Jaro hanya mengambil handuk tersebut tanpa menoleh ke belakang, karena dirinya masih asyik mengobrol dengan teman sebangkunya.
"Jadi ibumu punya pesantren, Yon? Wah! Terus ayahmu?" tanyanya.
"Sejak aku kelas lima SD, ayahku sudah dipanggil Sang Pencipta karena kapalnya tenggelam di tengah badai," ujar Yono dengan senyum tipis.
Jaro membungkam mulutnya, aduh salah ngomong, batinnya. "Ma-af ya? Aku baru tahu, Yon."
"Santai. Itu sudah lama kok. Dari beliau, aku banyak belajar tentang ketangguhan, jadinya ngga ada perasaan sedih sih," balasnya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
Ansa maupun Jaro segera pergi ke tempat ekskul masing-masing. Ansa menuju tempat ekskul renang, dan Jaro menuju tempat ekskul basket.
Mudah bagi Jaro dalam menemukan tempat ekskul basket tersebut. Berbanding terbalik dengan Ansa yang masih mengingat-ingat tempat ekskul renang. Hingga tak terasa dirinya telah berputar-putar di kompleks ekskul tersebut selama tiga puluh menit.
Ya ampun! Di mana sebenarnya tempat renang ku?! batinnya yang merasa kesal. Menurut Ansa, sekolah ini bagus dan luas, hingga membuatnya bingung ke sana kemari.
__ADS_1
Di lapangan basket,
Jaro dengan teman-temannya telah selesai latihan basket, dan inilah saatnya mereka beristirahat sebentar. Mereka duduk di sisi lapangan yang dekat dengan tribun penonton.
Di masing-masing tangan mereka, telah tergenggam botol-botol berbagai warna yang berisi minuman yang dapat menyegarkan tenggorokan. Ditambah dengan handuk-handuk kecil yang dikalungkan untuk menyeka keringat mereka masing-masing.
"Yu! Apakah tadi pagi di kelas mu, ada yang membanting barang atau memukul bangku?" tanya Jaro yang memancing Wahyu.
"Ngga ada tuh! Sunyi senyap karena diamnya Sari. Ada yang bilang sih, katanya dia keluar dari kelas sebelah dengan wajah cemberut. Ngga tahu kelas sebelah mana, tapi dia jadi menyeramkan, hii," jelas Wahyu.
"Dia dari kelasku, Yu. Karena dia main fisik ke Ansa. Kayaknya mereka lagi ada masalah sih," ujar Jaro.
"Oh ya? Waduh! Eh, seriusan kamu ngga ngerti masalah Sari tuh apa? Sumpah, ngga peka banget lu! Ya ampun!" pekik Wahyu.
"Apa masalahnya? Aku ngga suka ya, ada yang main fisik kayak Sari!" balasnya dengan lantang.
"Dia menyu–"
__ADS_1
Ucapan Wahyu terputus karena Jaro bangkit dan berlari ke luar dari lapangan.