
Setelah Ranu pergi dari hadapan mereka,
Ayah melihat ke arah Ansa dan Jaro, lalu melangkah mendekat.
"Kenapa kalian menyembunyikan pernikahan kalian dariku?" lirih ayah.
"Karena—" jawab Ansa.
"Kami sudah melakukan kesalahan. Tapi kami berjanji akan memperbaiki semuanya ... Pa." Jaro merasa ragu sehingga suaranya semakin lirih.
"Jao ... Eh, Jaro. Dia anakku satu-satunya. Pantas jika saya sangat mengkhawatirkan dirinya." Ayah mengusap pucuk kepala Ansa. "Kalau dia memilihmu, artinya dia percaya kepadamu."
Ayah dan Ansa saling melempar senyuman.
Sedangkan Jaro mulai cemas. Mereka belum tahu tentang ibuku. Ah, bagaimana cara mengatakannya?
"Malam ini, Jaro akan menginap di sini?" tanya ayah.
Esok hari,
Tiba-tiba suara handphone Jaro berdering. "Halo?"
"Halo, ini Ansa? Sa! Jaro ke mana?"
"Jaro masih di kamar mandi, mas Deniz! Bentar lagi kami berangkat sekolah."
Jaro keluar dari kamar mandi dan meminta Ansa untuk menyiapkan seragamnya. Namun Jaro melihat Ansa yang menganga.
"Ada apa, Sa?"
"Jaro .... " Ansa memeluk dengan tubuh bergetar. "Maaf, maaf, Ro."
"Ada apa? Hm?"
"Tadi mas Deniz menelpon mu. Terus aku yang mengangkatnya. Mas bilang kalau sawah nenekmu terbakar sebagian, Ro."
__ADS_1
Ansa membenamkan wajahnya di pelukan Jaro. "Pasti itu kerjaannya mas Ranu, 'kan? Te-terus kita harus gimana?"
"Tenang, Sa. Kita harus bantu papa menghadapi rivalnya itu. Habis ini, kita bicarakan sebentar dengan papa ya?"
Pulang sekolah,
Jaro dan Ansa pergi menuju rumah Jaro. Dari sana, mereka akan menaiki Orbifly milik Jaro.
Beberapa menit kemudian, mereka telah menaiki Orbifly putih dan pergi ke rumah nenek. Ansa terus menggenggam tangan Jaro, karena rasa cemasnya.
Sampai di atap rumah nenek,
Jaro melihat suasana rumah tersebut yang sunyi. Mereka bertemu dengan nenek dan menyalami beliau. Setelah mendapat informasi dari nenek, tangan Jaro menarik tangan istrinya supaya terus bersama dirinya.
Hingga sampailah mereka di sawah,
Kedua netra mereka menangkap ada beberapa sawah yang telah hangus. Mereka juga melihat sosok Paman Lovi dan Ayah Hardi sedang berdiri tak jauh dari sawah tersebut.
"Papa!!" Ansa memeluk ayahnya. "Siapa yang melakukan ini? Om Widagda?"
Sedangkan Jaro merangkul kakaknya. "Siapa yang melakukan ini?" tanya Jaro.
Ayah angkat suara. "Sepertinya memang dia, Sa."
Lalu Deniz juga angkat suara. "Paman Lovi, Pak Hardi. Ini ada berita tentang terbakarnya sawah ini. Di sini mengatakan bahwa yang bersalah atas terbakarnya ini adalah ... Pak Hardi."
Semuanya melebarkan mata. Terkejut dengan berita tersebut.
"Saya sudah merasa kalau dia akan seperti itu. Anaknya membakar ini, lalu dia yang menyebarkan beritanya." Ayah tertunduk lemas, tapi ada Ansa yang memegang kuat lengan beliau.
"Apakah di sini ada CCTV?" tanya Deniz.
"Ngga ada, Niz. Ini pedesaan," jawab paman.
"Sa, Pa, apakah kalian tahu tentang kerabat Ranu yang tinggal di sini?" tanya Jaro.
__ADS_1
Deniz dan Paman Lovi menoleh ke arah Jaro yang memanggil dengan sebutan 'Papa'.
"Ngga, Jaro. Setahu saya, dia tidak memiliki kerabat di sini."
"Berarti bisa aja kita pantau dari CCTV di kota." Jaro melihat ke kakaknya.
"Memangnya kamu tahu plat nomornya? Kalau memang tahu, Aku bisa langsung pergi ke pusat informasi di kota. Tentu saja aku punya seorang teman yang bisa ku hubungi untuk meminta tolong."
Jaro menggeleng, Ansa mengangguk. Membuat Jaro menatap lekat istrinya.
"Dari dulu motor yang dipakai oleh mas Ranu tak pernah berubah. Aku sampai hafal plat nomornya," jawab Ansa.
Lalu dirinya menyebutkan plat nomor hingga merek motor milik Ranu. Deniz mengangguk dan berterima kasih kepada Ansa.
"Pak Lovi, tolong sekarang Anda ikut saya ke kantor. Saya ingin menjadikan Anda sebagai pengganti pak Widagda," ucap ayah.
"Mohon maaf ... maksudnya bagaimana, Pak?" tanya paman.
"Mereka bertiga akan mencari bukti kesalahan dari pak Widagda. Sedangkan saya akan membuat surat pemecatan pak Widagda."
"Pa, kenapa ngga dari dulu saja Papa mengeluarkannya? Kenapa Papa sangat percaya pada mereka?" protes Ansa.
"Jangan lupa, kamu juga pernah percaya kepada Ranu, Sa," seloroh Jaro.
"Papa mengira dia sudah berubah karena hidupnya dulu telah jatuh. Jadi Papa mengajaknya untuk bekerja sama. Tapi hari ini, Papa kembali melihat sisi buruknya."
Ayah menghela nafasnya. "Oke! Semuanya ayo!"
Mereka berlima segera membubarkan diri. Namun sepertinya hanya Jaro yang belum mengerti dirinya harus melakukan apa.
"Sa. Kita mau ngapain? Kita diam dan menunggu aja, 'kan?" bisik Jaro.
"Ngga dong! Kita akan melakukan seperti yang pernah kamu dan gengnya Sari lakukan." Ansa tersenyum.
"Apa? Maksudnya gimana?" Jaro menggaruk kepalanya.
***
__ADS_1