Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
X-CHAP 5: Rayuan


__ADS_3

..."Aku bukan mau menerimamu kembali,...


...Tapi aku mau menjelaskan semuanya.”...


Dari luar rumah, terdengar suara yang memanggil Ansa. Membuat dirinya cepat-cepat memakai hijab dan perlahan berjalan menuju pintu.


Di pelataran sanggar,


Ansa berhadapan dengan seseorang dari masa lalunya. Ya! Dialah Ranu.


"Ansa." Kedua netranya menatap lekat ke arah wajah Ansa. Bahkan tangannya ingin menyentuh pipi Ansa


Ansa mundur satu langkah. "Mas mau apa datang ke sini?"


Ranu tersenyum getir. Dirinya belum tahu tentang perasaan ku yang sebenarnya, batinnya.


"Sa. Kita baru ketemu lagi, setelah kamu mendengar kalau aku punya niat jahat kepada ayahmu," ujar Ranu.


"Hm, iya." Ansa membuang pandangannya dari wajah Ranu.


"Aku terpaksa berbohong di depannya, Sa. Karena sejak awal, aku sudah sangat menyukaimu."


Sekarang Ansa tersenyum seolah mengejek. "Oh ya? Tapi kenapa Mas malah membiarkan papaku disakiti oleh ayahmu?!" bentaknya.


"Aku bisa apa, Sa. waktu itu aku sangat buta oleh jabatan. Ta-tapi itu semua cuma untukmu, Sa-yang." Ucapan Ranu semakin lirih, diikuti gerakan maju yang perlahan.


"Sudahlah. Ngga perlu dibahas lagi. Aku pergi."


Ranu menahan lengan Ansa, dan memeluknya dari belakang. Ansa memberontak, walaupun kalah.


"Berpisahlah dari Jamario. Menikahlah denganku, Sa. Ayo kita rawat sanggar peninggalan mamamu ini," bisik Ranu.


"Mas. Lepas Mas!" Ansa balas berbisik. "Kamu bukan mahramku. Aku sudah menikah, dan Jaro lebih baik daripada kamu!"


Ranu menolehkan kepalanya. Kamu tetap cantik, Sa. Aku akan menciummu.


Ansa menepisnya dengan tangan. "Mas!! Lepasin aku!!"


"Kenapa, Sa? Kamu ngga cerita ke Jamario tentang malam itu?"


"Malam apa?! Aku ngga pernah bermalam bersamamu, Mas!" bentaknya.


"Malam di vila, sehari sebelum aku pergi ke luar negeri." Ranu semakin mempererat pelukannya.


Kedua netra Ansa membulat. Pikirannya kembali teringat ke kejadian saat malam itu. Tapi dirinya tak merasa bahwa Ranu melakukan hal yang di luar batas. Mereka hanya beradu bibir, tak lebih.


"Ngga, Mas! Itu masa lalu yang ngga akan kembali!!" Ansa berusaha melepaskan kedua tangan berotot itu yang melingkar kuat di pinggangnya.

__ADS_1


"Lepasin aku!!!"


"Tapi aku masih kembali ke sini, sebagai masa lalumu. Aku pernah menyelamatkanmu dari dalam danau loh!" ujar Ranu.


Terus aku harus balas budi? Halah! Ngga peduli, Mas! batin Ansa.


"Jaro justru memberikan nyawanya untuk melawan ayahmu, Mas! Dia sempat sekarat karena ditusuk!"


Ranu bungkam. Dirinya bingung harus mengatakan rayuan apa lagi untuk meyakinkan Ansa.


"Lepas Mas. Tolong," pinta Ansa dengan lembut.


Ranu melepas kedua lengannya. Membuat Ansa bisa bernafas lega. Tangannya mengelus perut.


Maaf ya nak. Mamamu ini harus menyembunyikan dirimu dari si buaya itu, ucap Ansa dalam hati.


Ansa masih memunggungi Ranu. "Wanita di dunia ini sangat banyak, Mas. Bahkan ada yang punya lebih dari satu."


"Mas hanya perlu usaha dan berdoa, supaya Allah memberi kasih sayang-Nya kepadamu. Dengan mendatangkan calon teman hidupmu dan meyakinkan hatimu," lanjut Ansa. Lalu dirinya perlahan melangkah menuju pintu.


"Sa! Kalau hatiku memang yakin untukmu, apakah kamu ngga curiga dengan suamimu itu?" ujar Ranu yang mulai memfitnah. Aku ingin kamu berpikir bahwa suamimu sedang mencintai yang lain!


"Apa hubungannya, Mas?"


"Mungkin saja setelah ini, suamimu akan meninggalkanmu--"


"Kenapa? Hatiku sudah sangat yakin di sini. Aku ngga mau pergi."


Ansa merapatkan kedua rahangnya. Amarahnya ditahan, supaya tak lagi berteriak. Ngga, Sa. Jaro sangatlah setia.



"RANU!" seseorang muncul dan langsung menyerang Ranu dari belakang.


"Aduh! Woi!" keluh Ranu.


Mereka berdua berkelahi. Sedangkan Ansa memekik untuk meminta pertolongan. Lalu orang-orang di studio musik segera hadir di pelataran dan memisahkan Ranu dan Jaro!


Akhirnya mereka bisa dilerai. Jaro dan Ranu sama-sama mengatur nafasnya.


"Jangan dekati istriku!!" ujar Jaro dengan suara keras.


"Bentar lagi Ansa akan meminta untuk bercerai," dustanya dengan suara pelan. Bahkan Ranu menunjukkan senyum mengoloknya.


"Ngga! Itu bohong!" balas Ansa.


"Bro! Ayo pergi, Bro. Masih banyak wanita di luar sana. Kamu jangan menggangu mereka," ujar Tris.

__ADS_1


Ranu dan orang-orang sanggar segera meninggalkan pelataran, dan masuk kembali ke studio musik. Mereka meninggalkan pasangan suami-istri yang masih saling bertatapan.


"Sa." Jaro memeluknya, juga meredakan amarahnya.


Anas bungkam, hanya memilih untuk meneteskan air matanya. "Kenapa bibi mau menerimanya di sini, Ro?" bisiknya.


"Sudah, Sa. Ngga usah dipikirin."


Lalu Jaro mengajaknya untuk masuk dan duduk di ruang keluarga. Dirinya meminta Ansa untuk tak memikirkan apa yang sudah terjadi dan apa yang telah dikatakan oleh Ranu.


"Tadi dia bilang, kalau kamu bakal pergi."


"Oh ya? Tapi kamu lihat sekarang. Siapa yang masih ada di hadapanmu sekarang?" Jaro mengelus pucuk kepalanya.


"Terus, kita harus kemana?"


"Kita ke rumah papa Hardi aja ya? Aku ingin mama Ais yang menjagamu, karena mama sudah berpengalaman menjaga Yono sampai segede itu."


"Heh! Umurnya sama seperti kita, Ro."


"Maksudku tuh, mama Ais sukses membesarkan Yono yang lembut. Ngga kayak aku, dikit-dikit langsung babat!" guyon Jaro.


Ansa tersenyum tipis. Walau matanya masih tampak sayu. "Tapi kamu tepat waktu, Ro."


"Tadi perasaanku tiba-tiba ngga enak pas lagi di sekolah. Padahal mbak Oriza lagi menghubungi mas Deniz, dan bilang kalau kamu baik-baik aja," tutur Jaro.


"Iya."


Oriza menghampiri mereka dan memberikan segelas air kepada Ansa. "Maaf ya. Tadi aku masih menelpon Deniz dan mengurus bisnis lewat medsos ku. Jadinya aku ngga menjaga Ansa."


"Aku ngga apa kok. Justru aku yang ngerepotin Mbak Ori."


"Terus ini, besok aku akan membawa Ansa ke rumahnya, Mbak. Jadi Mbak dan mas Deniz bisa ke desa."


"Aduh, aku tambah merasa bersalah nih--" ucap Oriza.


"Ngga Mbak. Kita yang berterima kasih. Walaupun baru ketemu, tapi Mbak terus menolongku." Ansa memaksakan senyumannya.


"Sebenarnya, aku juga ingin cepat hamil," lirih Oriza.


"AAMIIN!!!" ucap Ansa dan Jaro sembari tersenyum lebar.


Mereka tertawa bersama. Jaro mengatakan bahwa dirinya sudah mendengar hal itu juga dari kakaknya, Deniz. Kakaknya tersebut tak akan menunda untuk memiliki anak.


Di sisi lain,


Baiklah, besok aku akan pergi ke rumah Pak Hardi. Untuk memeluk dirimu lagi, Sayang, batin Ranu dari balik pintu rumah yang tak ditutup.

__ADS_1


***


__ADS_2