
...“Keluarga, teman, cinta, popularitas, kekayaan, keindahan rupa, kesehatan, dan lainnya telah aku dapatkan....
...Apalagi yang kurang?"...
"Sudah! Bisa ngga usah pakai fisik, ngga?! Setelah kelas, kalian bisa bicara baik-baik di luar kelas! Sekarang kamu pergi, Sari," bentak Jaro dengan suara lantang.
Sepertinya memang ada masalah di antara mereka. Nanti aku harus mengintrogasi mereka berdua! batin Jaro.
Sari menurut, dan melangkah ke luar dari kelas. "Malu-maluin aja," gumam Jaro.
Mei mengusap-usap kepala Ansa, berharap dirinya dapat menenangkan Ansa.
"Sudah, Sa. Cup cup. Dia sudah pergi kok," bisiknya.
Ansa tetap menunduk dan menutup wajahnya dengan melipat kedua tangannya. Dia terus menangis di bangkunya, ditemani oleh usapan tangan Mei pada punggungnya.
"Mei," bisik Jaro sembari menyerahkan handuk kecil berwarna biru kepada Mei. Tentunya Mei mengangguk dan paham apa yang dimaksud oleh Jaro.
Tiba-tiba Ansa mengubah posisinya menjadi tegak saat Mei berbisik, "Sa, ada bu guru masuk loh."
Terlihatlah wajah sendu dan pipi yang basah karena air mata milik Ansa. Mei segera mengusap kedua pipi Ansa dengan handuk kecil.
Namun Ansa mengambil handuk tersebut perlahan. "Terima kasih," lirihnya.
Air mata telah diserap oleh handuk tersebut, membuat wajah dan kedua netra Ansa kembali cerah. Akan tetapi, air mata masih saja menetes, sehingga dia terus menggenggam handuk tersebut.
"Kok kamu berbohong sih, Mei?" lirihnya.
"Maaf, Sa. Aku hanya mau kamu berhenti nangis. Nanti kita bicarakan baik-baik dengan Sari ya? Tenang aja, ada aku kok," balas Mei.
"Aku juga akan menemanimu, Sa. Supaya dia ngga sembarangan main hantam kayak tadi," sambung Jaro.
__ADS_1
Saat istirahat,
Mereka berdua dihadang oleh salah satu anggota geng Sari di depan kelas mereka. "Kalian ditunggu Sari di kantin, ayo!" ujarnya.
"Bentar ya, Ansa harus ikut aku dulu! Nanti kita ke sana," jawab Mei.
"Sekarang ya sekarang! Ayo!" bentaknya.
"Ngga mau! Kita mau pergi sebentar! Sabar dong, Dra!" balas Mei yang tak mau kalah.
Akhirnya mereka berdua pergi, dengan membawa rasa bingung di benak Ansa. "Kita mau ke mana, Mei?" tanyanya.
Saat ini, mereka melangkah menembus keramaian para murid yang lalu lalang. Mei fokus dengan langkah kakinya, mendiamkan Ansa sejenak. Hingga sampailah mereka di depan masjid.
"Aku mau salat, Sa. Bentar ya!" tutur Mei.
Ansa hanya mengangguk dan menunggu temannya tersebut sembari duduk di teras masjid. Dirinya melihat ke sana kemari, sampai kedua netranya terdiam menatap langit yang terlihat sangat terik.
Beberapa menit kemudian,
Mei telah duduk di samping Ansa, sembari sibuk memakai kaos kaki dan mengikat sepatunya. Ansa mencoba bertanya untuk mengurangi rasa penasarannya.
"Mei, kenapa kamu salat?" tanyanya.
"Disuruh ibuku, Sa. Kemarin ibuku memberiku buku catatan untuk absensi salatku. Habis ini aku akan menandai kalau hari ini aku sudah salat duhur!"
Ansa hanya mengangguk. Kenapa mama tidak menyuruhku seperti ibunya Mei?
"Ansa!" panggil Jaro.
__ADS_1
Ansa menoleh ke arah Jaro, dan ternyata juga ada Yono yang menemani temannya tersebut. Dia melambaikan tangannya kepada mereka berdua. "Sini!"
Kedua netra Ansa melihat rambut di atas dahi Jaro dan Yono yang basah. Bahkan wajah mereka berdua terlihat sangat segar, dan tampan. Membuat Ansa menatap mereka dengan lekat.
"Kalian sudah salat?" tanya Jaro sembari tersenyum.
Mei mengiyakan pertanyaan Jaro. Berbanding terbalik dengan Ansa yang hanya menggelengkan kepalanya. Kedua teman laki-lakinya sama-sama mengernyitkan dahi dengan jawaban Ansa.
"Kenapa kalian salat?" tanya Ansa.
"Kalau aku, karena diajak Yono, hehe."
Yono menghela nafasnya saat mendengar jawaban Jaro. "Karena aku butuh Tuhanku untuk mempermudah urusanku. Dan juga menenangkan aku di saat aku lagi semrawut menghadapi soal-soal matematika," balasnya.
"Inilah Yono, calon ustadz!" Jaro merangkul dan menepuk pundak Yono, karena perasaan bangganya.
Yono tersenyum malu-malu daan menunduk. "Ya, doakan saja ya. Mungkin suatu hari nanti, aku bisa menjadi ustadz di pesantren milik keluargaku," tuturnya.
"Terus itu ... kenapa dahi kalian basah ya? Kayak habis mandi. Wajah kalian juga terlihat tambah segar," ucap Ansa.
"Tambah segar, atau tambah ganteng, hm?" goda Jaro dengan memegang dagunya dan menyeringai.
Ansa membuang mukanya dari dua teman laki-lakinya tersebut. Lalu dia menarik tangan Mei dan melangkah pergi.
Namun baru beberapa langkah, Jaro membuka suaranya. "Sa! Kamu ngga perlu bertemu Sari! Kita bisa membahas masalah kalian berdua di grup! Oke?!" pekiknya.
Ansa terdiam sejenak, dan berusaha mencerna perkataan Jaro. Bisa membahas masalah kalian di grup, berarti dia sudah bertemu dengan Sari?
Giliran Mei yang menarik tangan Ansa dan berlalu pergi dari hadapan dua temannya.
"Kita tetap harus menghadapi Sari secara langsung! Supaya si tak waras itu bisa sembuh dari penyakitnya! Dia sudah keterlaluan! Eh, Jaro malah melindunginya! Apa-apaan itu! Huh!" gumam Mei penuh kekesalan.
__ADS_1
Telinga Ansa tidak mendengar ocehan Mei, karena otaknya sedang fokus melihat layar handphone-nya. Dia mengecek grup De Rosa, tapi tidak ada percakapan baru yang masuk. Berarti benar, Jaro dan Sari sudah bertemu langsung.