Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Bab 21 Mohon Kerja Samanya, Moms


__ADS_3

...“Si wanita itu semakin aktif ya, Moms....


...Mari kita bekerja sama untuk membungkamnya, Moms."...


Pagi hari, di meja makan.


Ayah membuka pembicaraan dengan Ansa mengenai kesibukan sekolahnya. Mulut mereka saling bergantian untuk mengunyah makanan dan mengobrol.


“Sa, hari ini kamu izin ngga renang ya?” Pertanyaan ayah mendapat anggukan kepala milik Ansa.


“Alasannya karena kamu ingin ke pusat terapi, ‘kan? Memangnya ada apa, Sa? Apa yang saat ini sedang mengganggumu?”


“A— aku ingin lebih tenang, Pa.” Ansa menjawab dengan gugup.


“Iya, Sa. Tapi apa masalahmu? Apakah itu tentang sekolahmu?” tanya ayah, kali ini sedikit memaksa.


“Iya. Anak dari pak Daghiawi terus menggangguku sejak mama pergi dan bapak itu ditangkap oleh polisi.”


“Jadi gosip itu mengganggumu ya? Papa kira kamu tak terpengaruh oleh gosip aneh itu,” ujar ayah.


Papa sudah tahu gosip ngga waras itu! Oke, aku akan jujur kepada papa, batin Ansa.


Ansa menghirup nafasnya, lalu bersuara. “Bukan gosip aneh itu, Pa. Kalau gosip itu, aku dan mas Deniz ngga punya hubungan aneh. Hubungan kami sekedar adik dan kakak, karena mas Deniz adalah kakakku yang bijak, Pa.”


Ceritanya berhenti, karena dirinya sejenak memilih untuk meneguk jus pepaya hingga habis.


“Sa. Berarti kamu ada masalah dengan adiknya Deniz itu? Setahu Papa, pak Daghiawi memiliki dua anak,” lanjut ayah.


“Iya. Namanya Jaro. Sebenarnya aku sudah lelah menghadapinya, Pa. Tapi mau gimana lagi ... aku ngga mau dikeluarkan dari sekolah itu.” Ansa memaksakan senyumannya.


“Jadi dia ingin mengeluarkan kamu dari sekolah Mandraguna? Kurang aj*r.” Ayah mulai menunjukkan ekspresi kesalnya.


“Apa, apa alasannya si Jao ingin mengusirmu dari sekolah Mandraguna?”


“Jaro, Pa,” lirihnya. “Dia menganggap bahwa aku mirip seperti mama. Jadi aku ngga boleh masuk di sekolah itu. Duh, aku ngga ngerti alasan yang sebenarnya, Pa. Pokoknya kami jadi saling balas dendam di sekolah."


"Kamu tetap rajin belajar ya. Ngga perlu memikirkan omongan dia ataupun teman-temanmu yang ngga suka ke kamu. Papa akan membuat dia jera, sayang."


Ayah bangkit dari kursinya dan melangkah pergi.


Di sisi lain,

__ADS_1


Suasana di meja makan dengan 4 anggota keluarga Daghiawi, kini tinggallah kenangan. Karena kini hanya Jaro dan ibunya yang menikmati sarapan. Sedangkan Deniz memilih untuk sarapan di kamarnya.


"Bu, kalau Ibu menjadi aku ... apa yang akan Ibu lakukan untuk mengeluarkan Ansa, anak bu Roro itu?" tanya Jaro dengan perasaan ragu.


"Mungkin Ibu akan mengajaknya bertaruh menggunakan otak, bukan fisik. Karena murid-murid di sekolah kita sangat mudah untuk menjatuhkan dengan kreasi pemikiran masing-masing, walaupun hanya lewat gosip," jawab ibu.


"Cara orang yang menyebarkan gosip untuk dia sudah bagus kok. Sehingga perasaan dia bisa terguncang, dan mungkin akan berpengaruh ke fisiknya." Ibu tersenyum.


"Jadi menurut Ibu, aku harus mengajaknya bermain teka-teki? Bu, sekarang aku yang jadi pusing ...." Jaro memijat keningnya dan menunduk.


"Ya memang begitu, Ro. Oh! Atau kamu cari tahu dulu kelemehan si angsa itu. Biasanya sih, kalau cewek tuh lemahnya di perasaan."


"Fisik dan otaknya memang kuat, Bu. Kalau perasaan ...." Ucapan Jaro terputus.


Pikiran Jaro mencoba mengingat kembali ke zaman saat dirinya pernah melihat Ansa menangis di kelas. Ansa bersedih karena tahu bahwa ia dan Jaro akan memiliki adik dari perut bu Roro.


Atau mungkin aku harus mengisi adik di perutnya Ansa? Edan!!


Jaro kembali menyuapkan sesedok makanan. Namun pikirannya masih tak kembali ke meja makan. Harusnya si Ranu yang mengisinya. Hm, tapi dia sedang di luar negeri.


"Ro, kamu ikut olimpiade lagi tahun ini ya? Ngga apa, teruslah sabet juaranya." Ibu memberi semangat dengan mengangkat kepalan tangan kanannya.


"Jaro. Coba cari tahu dulu tentang kelemahannya. Lalu gunakan sisi lemahnya itu untuk menyeretnya keluar secara sukarela. Atau, buat gosip yang mengatakan bahwa dia memang salah."


"Iya, Bu. Aku sedang berusaha. Sayang ya Bu, mas Deniz ngga mau membantuku."


Ibu hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian, hati Jaro kembali berbisik. Oh iya!! Ansa punya pacar baru! Aku akan menggunakan mas Deniz untuk membuat gosip!



Di sekolah,


Jaro sedang tak ingin mengganggu Ansa, dan sebaliknya. Mereka memilih untuk mendaftarkan diri dalam olimpiade di sekolah.


Untuk sekarang, mereka tak lagi seperti dulu yang akan belajar bersama. Mungkin hanya Jaro dan Sari yang terus bekerja sama.


"Mei! Ikutan olim yuk!" ajak Ansa.


"Ngga mau, Sa. Aku ngga bakat di situ." Mei menolak.


"Loh. Kalau menang, pundi rupiah mu bisa bertambah, Mei." Bujukan Ansa semakin halus.

__ADS_1


"Ya ampun, Sa. Aku ngga bisa dapat juara, karena otakku ngga sepintar dirimu. Sudah Sa. Kamu aja yang ikutan. Kalahkan musuh mu itu," ucap Mei.


Suara Mei semakin lama, semakin keras untuk menyidir Jaro yang duduk di depan mereka.


Telinga Jaro mendengar ucapan Mei yang seperti sedang memberi sebuah tantangan baginya. Oh oke. Jadi kalau rencana yang tadi ngga berhasil, aku akan menggunakan rencana yang dikatakan Mei.


Namun Sari dan gengnya tidak diam. Mereka kembali berulah menggunakan Deniz dan Ansa untuk ajang gosip. Contohnya di kantin.


Saat istirahat,


Oleh mereka, satu lapak di kantin dijadikan ajang gosip. Di depan etalase lapak tersebut, terdapat foto Ansa dan Deniz. Bahkan nama lapak tersebut adalah 'Warung Pangeran dan Putri Sekolah Mandraguna.'


"Sa, lihat itu." bisik Mei.


Ansa hanya menggelengkan kepalanya. "Biarkan saja. Semoga mas Deniz memakluminya."


Namun hati Ansa mengatakan, tapi aku belum membicarakan ini dengannya.


"Lebih sabar lagi ya, Sa. Haduh, kewarasan geng itu mulai habis."


"Biarkan mereka berhalu ria, menjadi aku! Hihi," balas Ansa.



.


.


.


.


Sori yaa...


Dari kemarin thor noejan lagi revisi puebi karya ini. Dari prolog sampe bab 12 sih 😅


Habis ini, lanjut revisi lagi.


Komen2 bakal aku balesin 1 1 kok!


Santuy 😆

__ADS_1


__ADS_2