Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Awal Berpisah dan Bersama_2


__ADS_3

Hari pertama sekolah,


Jaro telah sampai di sekolah, dengan seragam putih-birunya. Dia tetap menjadi idola di sekolah ini, sehingga senyum dan sapa dari warga sekolah masih bermunculan untuk dirinya.


"Pagi, Ro!" sapa salah satu satpam.


"Pagi, Pak!" balas Jaro.


Berbeda dengan Ansa yang baru pertama kali menjadi siswa Sekolah Mandraguna. Dia memasuki halaman sekolah tersebut dengan rasa takjub. Kedua netranya terus saja melihat bangunan-bangunan sekolah yang tinggi dan lebar.


Padahal gedung perusahaan papa lebih tinggi dari ini, tapi sekolah ini benar-benar luas! Oh ya! Nanti aku akan bertemu dengan siapa ya? Semoga aku bertemu dengan teman yang tidak seperti Sharly! batin Ansa.


Sebelum ini, Ansa dan Jaro telah mengikuti masa orientasi pengenalan Sekolah Mandraguna. Sehingga Ansa telah sedikit tahu mengenai fasilitas di sekolah ini. Namun Ansa baru mengetahui bahwa sekolah ini sedang menyambut siswa baru dengan menyetel lagu.


'Cause baby, you're a firework~


(Karena, sayang, kau adalah sang kembang api)


Come on, show 'em what you're worth~


(Ayo, tunjukan ke mereka bahwa kamu hebat)


Make 'em go, oh, oh, oh~


(Buat mereka pergi, oh, oh, oh)


As you shoot across the sky~


(Seperti kau melesat terbang di langit)

__ADS_1


Baby, you're a firework~


Come on, let your colors burst~


Make 'em go, "Oh, oh, oh"~


You're gonna leave 'em all in awe, awe, awe~


Lagu tersebut terus menemani Ansa selama melangkahkan kakinya menyusuri gedung-gedung, lorong-lorong kelas, hingga kelasnya.



Sampai di kelas,


Ansa langsung disambut oleh seorang perempuan yang mengenalnya.


"Wah! Kamu yang model muda itu, 'kan?! Ayo Hansaria! Duduklah denganku!" ajak perempuan tersebut.


"Kenalin. Namaku Meilisa. Biasanya sih, dipanggil Mei hehe. Kalau kamu, biasa dipanggil Hansaria?" tutur Mei.


"Namaku Najiha Hansaria Hardiyata. Keluargaku sering memanggilku dengan Ansa, bahkan ada yang menyebutku 'Angsa' karena kurang mendengar dengan jelas namaku," jawabnya.


"Oh ya? Kamu memang si angsa yang berbulu putih, terlihat indah dan suci. Terus Sa ... selain model, apalagi yang kamu sukai?" balas Mei.


"Aku—"


"Oh oh aku tahu! Kamu juga suka ikut olimpiade sains, 'kan? Aku sempat melihat nama Najiha sebagai juara satu di olimpiade dua tahun lalu. Wah! Kamu sangat pintar di berbagai bidang, Sa!" sergah Mei.


"I-iya, Mei. Kalau kamu, menyukai bidang apa?" balas Ansa dengan gelagapan.

__ADS_1


Apakah dia tulus memujiku, atau ingin sesuatu dari ku? Aku tidak boleh bahagia, anggap saja saat ini dia ingin berteman denganku, batinnya.


"Aku menyukai gambar, desain, dan kue. Kayak ini," ucapnya sembari menunjukkan desain di layar tabletnya. Selain desain, Mei menunjukkan juga sekeranjang biskuit-biskuit imut kepada Ansa.


"Oh! Jadi ini kamu semua yang membuatnya? Keren banget! Uh, yang ini imut, Mei!" puji Ansa karena dia sangat terpana melihat biskuit buatan Mei.


Biskuit-biskuit tersebut berbentuk tokoh kartun yang terkenal di kota ini. Ada juga yang berbentuk kepala kelinci, seperti yang saat ini dipegang oleh Ansa. Dia tersenyum dan terus melihat biskuit wajah kelinci tersebut.


"Ansa," panggil seseorang yang telah berada di depannya.


"Hei! Si Alien sudah datang! Duduk di depan ku ya, Ro?" ucap Mei.


Ansa menegakkan kepalanya, diikuti oleh kedua matanya yang melihat ke depan. Dan, mata mereka saling bertemu.


"Jaro?" tanya Ansa yang terkejut. Anak ini, kenapa bisa disini? pikirnya.


"Iya, ternyata kita sekelas," jawab Jaro dan tersenyum.


"Ro! Wahyu ada di mana sekarang?" tanya Mei.


"Dia ada di kelas sebelah kiri dari sini. Kelasnya Sari. Hm," bisik Jaro.


"Oh gitu. Terus kamu cemburu gitu? Haha!" bisik Mei, tapi tawanya sangat keras.


"Awalnya sih, iya. Tapi sekarang ngga," lirih Jaro.


Ngga apa, yang penting aku bisa dekat dengan model dan penari cantik ini. Ansa, si angsa yang indah, batinnya sembari menatap Ansa yang melihat ke arah lain.


Ansa masih terus berpikir, hingga dirinya menemukan jawabannya. Ah, dia adalah anak dari pemilik Sekolah Mandraguna, 'kan? Waktu itu, mama pernah meminta ibunya supaya memasukkan aku ke sekolah ini. Dan ibunya bilang, kalau aku harus ikut seleksi masuk sekolah ini, pikirnya sembari memijat keningnya.

__ADS_1


Hm, tidak apa. Lagipula aku dan Jaro sudah tidak punya masalah lagi, batinnya.


***


__ADS_2