
...“Perkataan mu memang benar!...
...Dia adalah si pembohong yang mencintai ada apanya diriku!”...
Minggu pagi, di rumah Jaro,
Jaro sedang sibuk mencetak foto-foto pernikahannya di ruang kerja. Tanpa dirinya sadari, telah ada Deniz yang memperhatikan tingkahnya.
“Senang banget ya sudah nikah? Sampai dicetak foto-fotonya,” olok Deniz.
“Iya dong! Mas Deniz kapan nikahnya nih? Tapi cara dapatnya jangan kayak aku ya?”
Deniz mendorong kepala Jaro karena kesal. “Ngga akan! Aku akan lebih menghormati calon istriku.”
“Aduh! Iya, iya.” Jaro menunjukkan hasil cetakannya.
“Ini bukan untuk ku simpan, Mas. Tapi untuk mantan pacarnya Ansa.”
“Hah?! Yang mana pacarnya Ansa, Ro?”
Jaro kembali menceritakan semuanya dari awal kepada kakaknya. Dari mereka yang diam-diam mengikuti ayah mereka ke sanggar, hingga cerita Ansa yang mantan pacarnya ingin merebut perusahaan TechFarm.
“Apakah mantan pacarnya itu tahu tentang fobia Ansa?” tanya Deniz.
Jaro menggeleng. “Ansa privasi banget tentang fobianya, Mas. Aku saja baru tahu pada saat sudah bergabung di sanggar itu.”
“Dan sekarang aku ingin mendapatkan restu dari ayahnya Ansa, dengan cara menghilangkan rival kerjanya di perusahaan. Aku tahu ini ngga mudah—”
“Ma-kasih ya, Ro. Karena kamu sudah jujur ke aku, walaupun kejujuran itu pahit didengar. Dengan berkata jujur, aku lebih mudah untuk menolong mu, Ro. Karena pemikiran kita telah sejalan.”
Jaro mengerutkan dahinya. “Tapi dulu Mas ngga setuju aku mem-bully Ansa. Jadi dulu tuh, Mas Deniz beneran suka ke Ansa?”
“Haduh anak ini, kalau cemburu bilang aja dong. Ro, dari dulu aku menganggap kalian berdua itu sebagai adikku. Aku juga ikut sedih saat kalian tahu masalah orang tua kalian.”
“Hehe. Besok aku akan mengirimkan foto-foto ini untuk mengejutkannya,” ujar Jaro.
“Terus kalau dia ngga terima, kalian akan melakukan apa?” tanya Deniz.
Senin malam, di rumah Ansa.
Ansa dan Jaro sedang belajar bersama untuk persiapan ujian akhir kelas 2 SMA. Sebenarnya mereka sedang menunggu Ayah Hardi pulang, dan kalau bisa bersama Ranu.
“Kamu yakin mas Ranu akan ke sini?”
Jaro mengangguk. “Cowok juga butuh kepastian, Sa.”
Tok tok!
__ADS_1
Sepasang mata milik Ayah Hardi dan Ranu menatap tajam ke arah mereka saat baru memasuki pintu rumah.
“Itu mereka, Om! Mereka diam-diam telah menikah!” seru Ranu.
Ansa bungkam, Jaro tak diam. “Iya, benar! Kemarin kami sudah bulan madu!”
“HEH!!” Ranu maju dan mencengkeram kerah baju Jaro. Kini tinggi badan Jaro mengalahkan tinggi badan Ranu.
“A-apa?” Jaro menyeringai.
“ANSA!” pekik ayah, membuat Ansa menoleh ke ayahnya.
“Kenapa sayang? Kenapa kamu menikahi anak dari pelaku pembunuh mamamu?!” Ayah memegang kedua bahu anak tunggalnya.
Ansa menatap lekat kedua mata milik pahlawannya. “Ka-kami saling mencintai—”
Bukk!
Ranu memberikan kepalan tangan kanannya kepada Jaro. “Cinta? Ngga mungkin!! Ansa hanya mencintaiku, Om!”
“Pasti ... pasti anak brand*lan ini yang sudah memaksa Ansa!” lanjut Ranu.
Jaro tersungkur ke atas sofa. Pukulan Ranu tadi membuat ujung mulutnya terluka.
Ansa mencegah Ranu yang ingin memukul Jaro. “Mas harus sadar! Sekarang dia sudah menjadi suamiku!”
Namun Ansa menepisnya. “Aku memilihnya, karena dia adalah pemilik sekolah Mandraguna!” dustanya.
Jaro tersenyum tipis di balik wajahnya yang meringis sakit. Karena sebelumnya, dirinya dan Ansa telah membahas rencana mempermalukan Ranu secara sempurna.
“Ro, kalau nanti papa atau mas Ranu tanya ke aku, ‘Kenapa kamu menikahinya, Sa?!’ atau ‘Kenapa kamu memilihnya, Sa?!’ Aku harus jawab apa? Masa’ aku jawab karena kami sudah–” Ucapan Ansa terpotong karena Jaro menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya.
“Jawab aja, ‘Karena dia adalah pemilik sekolah! Ngga kayak Ranu yang hanya pekerja magang!’ Gitu, Sa.”
“Ta-tapi, nanti aku dianggap menikahi mu karena ada apanya dirimu, Ro—”
“Cuma kita aja yang tahu kalau cinta kita itu tulus.”
Kembali ke hari ini,
Ayah menarik Ansa supaya mendekat kepada beliau. “Sa, Papa kurang apa sih di matamu?” tanya beliau sembari meneteskan air mata.
“A-atau karena Papa ingin menikah lagi, mangkanya kamu melakukan ini? Sa, Papa sayang sama kamu. Ranu juga sayang sama kamu. Tapi kamu malah menikahi anaknya seorang pembunuh!”
“Jawab jujur, Sa. Kenapa? KENAPA SA?!” bentak ayah.
Maaf, Pa, Ro. Aku harus jujur sekarang, karena aku tak tega melihat papa menangis, batin Ansa.
“Awalnya memang karena Papa yang ingin menikah lagi. Aku sempat merasa Papa akan ninggalin aku. Ta-tapi suamiku berhasil meyakinkanku, kalau aku harus menerima pernikahan Papa karena itu untuk kebaikanku,” tutur Ansa.
__ADS_1
“Saat itu juga, aku baru sadar. Bahwa orang yang selama 4 tahun telah aku tunggu, ternyata dia hanya mencintai ada apanya diriku. Ada apanya keluargaku!” Mata Ansa menatap tajam ke arah Ranu.
“Pa ... Sebentar lagi Papa akan di-bully oleh seseorang dari masa lalu Papa,” ujar Ansa bak orang pintar.
“Ha?” lirih ayah.
Ansa mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya ke Ranu. “Ayah dari orang itu ingin merebut perusahaan Papa!”
“Lagi-lagi,” gumam ayah sembari menggeleng. “Memang kalau hobinya suka bullying, dia ngga akan berhenti.”
“Maksudnya apa, Om, Sa?” tanya Ranu.
“Sekarang saya mengerti maksud dari anak saya. Dan sebenarnya, saya sudah curiga dengan gerak-gerik kalian!” Ayah menggeleng lagi. “Ayah dan anak sama saja,” gumamnya.
“Sa-saya ngga mengerti—” protes Ranu.
“Bohong!!” sergah Ansa. “Mas hanya mendekatiku supaya bisa mendapat jabatan di perusahaan! Benar, ‘kan?!”
Ansa dan ayahnya kompak menyudutkan Ranu. Jaro hanya bungkam supaya dirinya tak menambah masalah di antara mereka, walaupun ada keinginan untuk membalas pukulan Ranu.
“Awalnya niatku mendekatimu adalah memang untuk mendapatkan jabatan di perusahaan, Sa. Tapi semakin lama, aku semakin merasa bahwa aku mulai mencintaimu, Sa.” Ranu berjalan mendekat kepada Ansa.
“A-aku ngga mau kehilanganmu, Sa. Please ... kamu tinggalkan saja laki-laki lemah itu!”
“Mas, coba lihatlah kedua matanya.” Ansa membiarkan Ranu menoleh ke arah Jaro. “Dia sangat ingin memukulmu, tapi ia tahan.”
“Sudah mengerti? Atau masih belum?”
Ranu menggeleng, membuat Ansa mulai menjelaskan sesuai yang ia dengar dari Jaro.
Saat mereka terjatuh dalam jurang madu, di balik keremangan Ansa mendengar Jaro mengatakan,
Aku sering mengancam akan mengeluarkan mu dari sekolah. Tapi apa? Saat ini kita justru menyatu. Padahal selama ini, kamu sering mengalahkan ku. Kamu bisa menghabisi ku kapan saja, Sa. Bahkan hari ini, harusnya kamu bisa menghabisi ku menggunakan pecahan kaca itu.
Tanpa sadar, kamu percaya bahwa Tuhan yang akan membalas orang jahat di sekitarmu. Mungkin selama ini kamu hanya memohon untuk menambah kekuatanmu dan ingin menghilangkan fobia mu. Tapi Tuhan justru membantumu dengan menghukum orang yang jahat kepadamu.
Dari matamu, aku melihat sebuah ketidakpedulian dan satu hal yang ngga aku punya. Kesabaran, Sa.
Tapi aku sedikit kecewa, kenapa sekarang kamu membenci dirimu sendiri? Dan kenapa justru aku yang peduli kepadamu? Mungkin karena aku sudah tahu fobia mu ya?
“Mas Ranu ... dia sedang mencoba bersabar. Iya, dia suamiku. Dia sedang mengumpulkan tenaga untuk menjatuhkan mu. Oh! Dan juga, dia sedang menunggu keadilan Tuhan untuk menghentikan niat jahat mu!” Ucapan Ansa memang lembut tapi menusuk.
"Jadi sekarang kamu mendukungnya, Sa? Ku kira kamu setia kepada ku." Ranu menatap Ansa sembari meneteskan air mata.
"Heh buaya danau!" Jaro bangkit dari sofa. "Sekarang setianya hanya untuk ku! Lu setia aja jadi magang!"
"Yah ... sekarang saya masih magang. Tapi nanti, saya akan jadi direktur utama di perusahaan Anda, Om Hardi. Selain itu, saya akan menghancurkan sekolah kebanggaan mu, bocah ing*san!!" ancam Ranu.
__ADS_1