
...Apa yang kalian harapkan saat membaca judul di atas? 😏...
...Pemeran utamanya yang bercerai berai?! ...
...Ah jahad syekali~...
.
.
.
...“Sabar, Tuhan tak tidur. ...
...Dan tak akan membiarkan dirimu diselimuti sungkawa.”...
Pagi hari, di kediaman Hardiyata.
Ansa dan Jaro berpamitan kepada Ayah Hardi dan Ibu Aisyah. Ansa menjelaskan bahwa dirinya akan ikut Jaro ke sekolah.
"Kayaknya baru kemarin deh kamu takut keluar gara-gara si Ranu itu, hm," sindir ayah.
"Ngga apa, Pa. Biar dia istirahat di rumah," balas ibu.
"Aku akan menemui sahabatku sejak SMP, Ma, Pa. Sekarang dia sudah punya toko roti di dekat sekolahnya ayah Awi," ujar Ansa.
Lalu percakapan ibu dan anak perempuan terus berlanjut, karena berkaitan dengan roti-roti yang sedang populer di kota Metropolitan. Kalau soal makanan, merekalah yang sangat kompak!
"Jaro."
"Iya, Pa?"
"Kamu hari ini hanya mengantar Ansa ke sekolahmu? Atau ada agenda lainnya?"
"Oh! Saya ada rapat dengan ayah di perusahaan. Rencananya sih, setelah rapat itu, saya kunjungan ke sekolah sekitar pukul 12 siang. Jadi Ansa akan di toko roti untuk temu kangen dengan sahabat kami."
Ayah mengangguk sembari tersenyum. "Biar mereka saling bertukar kabar."
"Jaro! Yuk berangkat!" seru Ansa.
"Wah semangat banget ya?!" ucap ayah.
"Awas banyak buaya di luar!" goda Jaro.
"Sa! Jangan lupa pesanan Mama ya! Siapa tahu Mama bisa pesan lagi ke temanmu itu!"
Raut wajah Ansa menjadi manyun ke arah ayah dan Jaro, lalu tersenyum lebar ke arah ibunya. "Ish! Iya, nanti aku belikan ya Ma!"
Sampai di depan toko roti,
Ansa menyalami suaminya dan menyuruh untuk menelponnya saat telah sampai di sekolah. Jaro mengusap pucuk kepala istrinya dan mengangguk.
"Asalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam!"
__ADS_1
Setelah mobil Jaro telah pergi dari parkiran, Ansa melangkah menuju pintu masuk. Kedua netranya menangkap bangunan toko berwarna coklat, memiliki jendela kayu berhiaskan pita pelangi, pot-pot bunga warna-warni, dan logo toko roti tersebut.
Inilah impian Meilisa yang telah terwujud! batin Ansa.
Dia mendorong pintu kayu tersebut, dan spontan bel berbunyi. Matanya tak lepas dari suasana nyaman di toko roti tersebut. Suasana coklat dan kuning, persis seperti sahabatnya yang ramah dan manis!
Ansa mengambil keranjang, lalu memanjakan matanya dengan roti-roti yang tersusun rapi di atas rak-rak berhiaskan goresan cat. Kayaknya Mei masih suka melukis ya?
"Hm. Mama kayaknya suka yang ini deh!" gumam Ansa selama memilih roti. "Kalau Jaro ... yang bentuk hati aja deh!"
Tanpa sadar, keranjang Ansa telah dipenuhi oleh roti dari berbagai macam bentuk, warna, dan rasa. Kini waktunya untuk membayar!
Di kasir, barulah kedua sahabat lama itu berhadapan. Ansa tersenyum dan Mei melangkah maju sembari merentangkan kedua tangannya.
"Ansa!! Ya ampun!!" Mei mendekapnya cukup erat. "I miss you babe!"
"Mei! Ini terlalu sesak!" protes Ansa.
Mei melepas pelukannya, dan memilih untuk menggenggam tangan Ansa. "Ayo masuk ke ruanganku, Sa!"
Ansa mengangguk dan berjalan di belakang Mei. "Oh! Ini aku bawa ya!" ucap Mei.
"Loh?! Tapi itu belum aku bayar, Mei!"
"Nanti aja. Ayo kita mengobrol di dalam." Namun Mei berhenti melangkah dan menoleh. "Hes, tolong jaga kasir sebentar ya?"
Oh, dia benar-benar jadi bosnya sekarang? Tapi gimana caranya? Eh! Astagfirullah, ucap Ansa dalam hati.
Sekeranjang roti milik Ansa diletakkan di meja marmer berbentuk bulat. Saat ini mereka berada di balkon ruang pribadi Mei. Angin sepoi-sepoi meniup hijab kedua wanita tersebut yang sedang duduk berhadapan.
"Bagus Mei. Tokomu benar-benar bagus, cantik, dan indah."
"Maaf ya, aku baru menemuimu. Bahkan aku baru tahu tentang toko rotimu ini dari Jaro."
"Hu'um, santai aja. Jaro sudah memenuhi janjinya dengan membawamu ke sini, hehe."
Ansa kaget mendengar ucapannya. "Jadi kamu yang minta supaya Jaro menyuruhku ke sini? Haha! Tanpa disuruh, aku bakal ke sini, Mei!"
"Hehe, karena kemarin tuh Jaro cerita kalau kalian berdua masih ditakuti oleh kehadiran Ranu. Padahal kan, kalian sudah bahagia. Bahkan perutmu sudah isi, 'kan? Benar 'kan?" jelas Mei.
"Jadi kalian sudah mengobrol banyak ya! Iya, Alhamdulillah Mei. Aku sampai diperbolehkan ngga kerja dong! Justru disuruh diam di rumah, huf."
"Kalau gitu, ke sini aja, Sa! Daripada bosan di rumah!"
"Iya. Terus kamu nyuruh aku buat beli roti-roti dan memakannya setiap hari? Yang ada aku hamil anak dan lemak!"
"Lemak baik loh untuk kesehatan anak!"
"Lemak yang jenis apa, babe? Lemak omega itu yang baik. Kalau dari bekas penggorengan itu yang jenis lemak jahat!"
"Ya sudah deh. Aku bakal pakai minyak nabati untuk menggoreng rotinya, hihi."
"Tapi, Mei. Eh! Kenapa kita jadi bahas roti sih?! Kamu kok kayak mama Ais aja ih!"
Mereka tertawa dan memaklumi jalan pikiran mereka sebagai seorang wanita. Tentu saja makanan juga menjadi topik obrolan yang menarik bagi para wanita.
"Gimana nih, sudah ada pelanggan tampan yang tiba-tiba menyukaimu?" bisik Ansa.
__ADS_1
"Ah, kalau itu ...." Mei menghembuskan nafasnya. Raut wajahnya berubah menjadi sendu. "Setahun yang lalu, aku sudah menikah, Sa."
"Oh! Maaf ya, aku ngga bisa hadir."
"Ih dasar! Kamu kemana sih? Jaro dan Yono juga ngga ada! Ya ampun."
"Aku dan Yono di pesantren. Kalau Jaro lagi kuliah di luar negeri."
Mei mengangguk, lalu kembali bersuara. "Aku menikah dengan teman kuliahku di jurusan kuliner. Dia memang anak pengusaha roti yang terkenal di kota sebelah."
"Awalnya sih, kami sahabatan. Dia ada pacar, dan aku juga. Tiba-tiba orang tuanya melamarku dua tahun yang lalu! Padahal saat itu, aku dan dia lagi sibuk ngurus proyek bisnis!"
"Bisnis apa, Mei?"
"Bisnis untuk tugas kuliah sih, Sa."
Mei terus bercerita. "Aku sama dia bahas tuh tentang orang tuanya yang tiba-tiba melamar aku! Bahkan kami diberi toko ini secara cuma-cuma! Tambahlah aku dan dia bingung."
"Tapi entah kenapa, aku memutuskan hubunganku dengan pacarku. Terus besoknya, dia bilang kalau dia juga sudah putus dengan pacarnya. Aku curiga nih, apa mungkin dia beneran mulai menyukaiku ya? Hihi!"
"Dia jawabnya, 'Aku sayang dengan orang tuaku. Dan aku yakin kalau pilihan mereka adalah yang terbaik untukku'. Aku melting dengar dia bilang gitu, sampai ngga sadar aku ngangguk di depannya! Padahal dia belum bilang apa-apa wahaha!"
Mei ngga berubah. Ceritanya memang sangat bahagia sih! Bertemu calon suami yang itu adalah sahabatnya sendiri, batin Ansa.
"Di mana suamimu, Mei?"
"Aku, aku dan dia bercerai, Sa."
"A-apa?" Ansa menutup mulutnya.
"Karena ada masalah di dalam keluarganya. Jadi dia ngga mau aku dan keluargaku terseret ke dalam masalah mereka."
Ansa memegang pundak Mei. "Masalah apa?" lirihnya.
"Aku ngga bisa cerita, itu rahasianya dengan ku. Maaf--"
"Ngga apa." Ansa mengusap punggung Mei dan tersenyum getir. Ya Allah, permudahlah urusan mereka berdua.
"Tapi kata dia, keluarganya tuh difitnah, Sa. Dan sekarang masih diproses hukum. Dan, toko ini diberikan kepada ku. Bahkan nama pemiliknya, ya namaku! Padahal awalnya nama pemiliknya adalah mantan suamiku."
"Atau mungkin, mereka ngga mau toko ini ikut terlibat ya?"
"Ah, semoga kepintaranmu diturunkan ke anakmu, Sa. Benar, mereka ngga mau toko ini ditutup! Tapi serius, Sa. Mereka baik banget! Dan kata ayahku, keluarga suamiku itu belum pernah punya kasus seperti yang sekarang ini."
"Jadi, kalian baru cerai?"
"Masih mengajukan."
"Mei. Jangan, Mei," pintar Ansa. "Bujuk suamimu itu. Ngga apa sementara ini kalian terpisah antarkota. Tapi ikatan pernikahan kalian jangan terputus."
"A-aku bisa apa, Sa? Mereka pasti sudah memikirkan ini berkali-kali."
Walau yang terkena musibah adalah sahabatnya, tapi Ansa meneteskan air mata. Matanya menatap sendu ke arah Mei.
"Jangan melihat aku seperti itu. Aku dan dia masih berusaha kok!" Mei tersenyum, yang menurut Ansa itu hanyalah senyuman palsu.
"Berusaha apa? Pisah dari ikatan suci pernikahan? Lebih baik kalau kalian berusaha menyelesaikan masalah secara bersama, Mei. Walau kamu ngga ikut andil hingga menemani suamimu ke pengadilan, kamu masih bisa terus berdoa."
__ADS_1
Mei yang ramah dan ceria, kini memeluk Ansa dan menumpahkan seluruh tangisnya. "Iya, iya, Sa. Akan ku co-ba."
***