Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Agen Rahasia Cilik_3


__ADS_3

Di perusahaan modelling,


Ansa segera menuju lift, dan memencet tombol 15. Di dalam sana, dia merasa cemas dan terus melihat ke arah jam tangannya.


"Pukul tiga lebih tiga puluh, haduh. Setelah ini, aku pasti dimarahi oleh mama dan asistennya. Duh!" gumamnya.


Tring!


Pintu lift telah terbuka. Namun bukan di lantai 15, tapi di lantai 8. Ansa segera melangkah ke luar, karena dirinya ingin menuju ruangan ibunya.


Saat sampai di depan pintu ruangan ibunya, Ansa dihadang oleh sekretaris ibunya. "Mbak Ansa! Bu Roro masih menerima tamu di ruangannya. Mbak bisa menunggu sebentar," tuturnya.


"Oh gitu," balas Ansa.


"Ansa! Kok kamu di sini? Ayo ke atas, kamu sudah telat untuk latihan denganku loh!" protes Ria, asisten Bu Roro.


"Maaf ya, Mbak. Aku telat sampai di sini. Ayo, Mbak Ria!" ajaknya untuk berjalan ke lift.


"Eh, tapi aku masih mau ke lantai 5 bentar ya. Kamu duluan aja ke lantai 15, dan tunggu aku di sana. Oke?" pinta Ria.


"Oh, oke Mbak!"


Ria segera melambaikan tangannya kepada sekretaris tersebut, lalu mereka berdua melangkah masuk ke lift yang lainnya.


Mereka meninggalkan Ansa sendirian di depan salah satu lift yang masih belum terbuka.


Tiba-tiba, telinganya menangkap suara menjerit dan sedikit lenguhan. Membuat dirinya merinding dan menganggap mungkin kantor perusahaan ini sedikit menyeramkan. Dari mana asal suara itu? pikirnya.


Rasa penasarannya membuat Ansa melangkahkan kakinya untuk mencari suara tersebut di setiap ruangan dalam lantai 8 ini. Dia melihat-lihat dari tembok kaca, ternyata ada beberapa orang yang fokus di depan meja masing-masing.


Pandangannya terus mencari sumber suara, diiringi oleh langkah kakinya dan pikirannya mulai semrawut. Ngga mungkin kantor ini berhantu. Ngga, ngga mungkin! Aku mendengar suara manusia.


Lagi-lagi, Ansa menangkap suara tersebut saat dirinya tepat di depan pintu ruangan ibunya. Dia semakin penasaran, apakah rapat harus sampai menjerit seperti itu?


Dia membuka pintu secara perlahan, dan kedua netranya fokus mengintip ke dalam ruangan tersebut. Kemudian, matanya terasa panas dan dadanya sesak.


Apa-apaan itu?! Mama dengan siapa itu?! Apakah itu adalah, ayahnya Jaro? batinnya sembari mengerjap-kerjapkan matanya.


Ansa tidak diam, tangannya merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan handphone-nya. Lalu dirinya memotret kemesraan ibunya dan pria yang tidak dia kenal.


Setelah itu, Ansa memukul pintu dengan kencang, hingga terbukalah pintu ruangan!

__ADS_1


Bruak!


Ibu dan pria tersebut terkejut dan spontan menoleh ke arah Ansa yang berdiri tegak di daun pintu. Ansa memberikan pelototan matanya yang telah basah oleh air matanya, karena dirinya menahan amarah dan sedih.


"Mama!!!" pekiknya dengan sangat kencang.


"An-ansa. Sa, kamu kok di—" ucap ibu dengan terbata-bata, hingga mendapat teriakan lagi dari Ansa.


"Aku ngga mau latihan lagi!!" teriaknya dan segera berlari menuju lift yang baru terbuka.



Di rumah Ansa,


Dari sore hingga malam, Ansa mengunci diri di kamar. Ketukan pintu dan panggilan dari pembantunya, tidak dia hiraukan.


Lalu dirinya mengecek handphone, dan masuklah ajakan kepada dirinya untuk bergabung dengan grup 'De Rosa'.


"Grup apa ini?" gumamnya, dan segera menerima ajakan tersebut.


Jaro maupun Deniz, saat ini sedang berkumpul di kamar Deniz. Mereka masih menunggu Ansa masuk ke dalam grup percakapan mereka bertiga.


"Iya, sibuk nangis, Ro. Ini, ini kenapa nama grupnya De Rosa?" jawab Ansa.


"Deniz, Jaro, Ansa," balas Deniz.


"Kok sibuk nangis? Ada apa, Sa? Terus gimana alat pelacaknya, apakah kamu sudah berhasil membujuk orang tuamu?" cecar Jaro yang langsung membahas hal yang penting.


"Maaf ya, aku belum sempat bertanya kepada orang tuaku," tulis Ansa melalui pesan online. "Tadi di perusahaan modelling, aku berhasil mendapatkan foto ini. Ibuku sedang bermesraan dengan seorang pria, hiks," lanjutnya.


Jaro dan Deniz sama-sama terkejut. Mereka cepat-cepat melihat foto yang dikirim oleh Ansa, bahkan memperbesar foto tersebut supaya semakin jelas!


"Habis ini aku akan meminta orang tuaku untuk memasang alat pelacak di setiap gadget kami. Untuk masalah ibuku, akan aku tangani sendiri. Aku sudah punya rencana untuk tidak mengganggu ayah kalian lagi, Ro, Mas Deniz," tuturnya.


"Ngga apa, Sa. Ngga harus hari ini kamu menanyakannya. Aku tahu rasanya saat melihat langsung figur yang diidolakan, justru memiliki sisi gelap dan memalukan seperti itu," balas Jaro.


"Ini sudah malam, Sa. Istirahatkan pikiranmu. Masih ada hari esok kok!" balas Deniz.


Ngga! Akan aku selesaikan malam ini! protesnya dalam hati.


Ansa memutuskan untuk ke luar dari kamarnya. Dia bertemu dengan pembantunya yang terlihat khawatir.

__ADS_1


"Non, ayo makan dulu ya, Non," pinta pembantunya.


"Habis ini ya, Bu. Aku mau menemui papa dan mama sekarang," ucapnya dengan lembut.


Ansa segera pergi dari hadapan pembantunya. Langkahnya tak gentar, dia sangat siap untuk menghadapi ibunya. Karena saat ini, yang salah adalah ibunya! Bukan dirinya!


Di ruang keluarga,


Ansa menatap datar ayah dan ibunya yang duduk manis di atas sofa, sembari menonton televisi. Tatapannya mengarah tajam kepada ibunya yang memasang wajah sendu.


"Pa, Ma. Aku ingin memasang pelacak di gadget kita semua. Karena aku ingin kalian selalu tahu posisiku selama di kota Metropolitan ini," tuturnya.


"Eh? Memangnya ada apa, Sa? Papa dan Mama percaya kok kepada mu. Apalagi sudah ada sopir yang akan terus menginformasikan keberadaan kita semua," tanya ayah yang heran dengan permintaan anaknya.


Itu masih kurang, Pa!! teriaknya dalam hati. Ansa ingin sekali berteriak, tapi dia menahannya.


"Aku ingin sekarang gadget kita semua sudah terpasang pelacak! Atau besok, aku ngga mau sekolah, ngga mau latihan modelling, ngga mau les!" ancamnya.


"Kamu kenapa sih, Sa? Ma! Ansa kenapa sih?!" bentak ayah yang mulai emosi.


Ibu masih bungkam, dan menatap Ansa dengan kedua netra yang berkaca-kaca. Jangan menatapku seperti itu, Ma. Mama tidak suka keluarga ini, 'kan? Mungkin setelah ini, aku akan pergi dari rumah kosong ini! batinnya.


"Turuti saja, Pa. Dari pada dirinya malah ngga mau sekolah," lirih ibu.


"Ya sudah. Sini handphone-mu, Sa," pinta ayah dengan suara lembutnya.


Ansa bukanlah Jaro yang hanya diam saat melihat orang melakukan kesalahan. Orang tersebut harus langsung diberi sebuah pelajaran yang benar, walaupun itu adalah ibunya sendiri.


Ansa memberikan handphone-nya kepada ayah. Lalu ayah membuka kunci layar dan terlihatlah kedua netra beliau yang terbuka lebar.


"Apa ini?! Ini foto siapa, Sa?!" bentak ayah.


Ansa hanya meringis dan menunduk. Itulah kebenarannya, Pa. Mama harus siap dengan konsekuensinya ya! batinnya.


"Mama! Ini fotomu 'kan? Hah, hah. Argh!" bentak beliau lagi, lalu segera bangkit dan pergi dari ruang keluarga.


"Ansa! Kamu ...," bentak ibu yang hanya sedetik. Detik selanjutnya beliau melangkah pergi meninggalkan Ansa di ruang keluarga.


"Huhu, huhu," tangis Ansa pecah. Dirinya bersimpuh dan menundukkan kepala di sofa.


***

__ADS_1


__ADS_2