
...“Dia dan aku, akan memulai kisah ini....
...Kisah cinta,...
...Diiringi kehangatan dan tawa canda."...
Di rumah Jaro,
Mereka berdua disambut dengan tatapan tajam dari ibunya. Deniz menggenggam tangan Jaro, tapi Jaro mengangguk dan melepaskan genggaman kakaknya.
"Kalian dari mana aja? Kenapa baru pulang? Dan kenapa kalian pergi ke sanggarnya bu Roro?" cecar ibu kepada kedua anaknya tanpa senyuman.
"Tadi aku yang mengajak Mas Deniz ke sana, Bu. Aku bertemu dengan salah satu temanku di sana. Tempatnya keren, Bu! Aku jadi ingin ke sana lagi. Kapan-kapan Ibu juga harus ikut kami ke sana ya?" dusta Jaro, ditambah senyum manisnya untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
"Oalah, gitu. Besok Ibu antar kalian ke rumah bu Roro ya? Biar kalian dimasukkan ke sanggar itu," jawab ibunya.
"Oh, ngga Bu. Aku ngga mau menari. Jaro yang ingin ke sana," ucap Deniz.
"Iya, Bu. Aku saja yang masuk ke sana. Tapi, kayaknya bukan menari saja 'kan? Apakah ada latihan alat musiknya juga?" tanya Jaro.
Ibunya segera menjawab, "Iya, di sana ada tari, musik, teater, band, pokoknya tentang seni. Deniz, kenapa kamu ngga ikutan juga? Kamu kan pintar melukis."
Deniz tetap menggelengkan kepalanya. "Ngga deh, Bu. Aku fokus sekolah aja. Bu, aku mau ke kamar ya?"
"Eh iya! Ya sudah, kalian cepat ganti baju," titah ibunya kepada kedua anaknya.
Di sanggar,
Ansa telah selesai latihan dengan teman-temannya yang dibimbing oleh kakak-kakak pembimbing mereka. Sebelumnya, Ansa telah berhasil kabur dari ibunya. Bahkan Bibi Ning merasa lega karena Ansa berhasil kabur dari ibunya.
"Tapi Ansa sayang, jangan diulangi lagi ya? Karena yang tadi itu adalah salah. Biasanya kalau salah itu, bisa menimbulkan perasaan was-was, ngga tenang, dan takut, benar 'kan?" tutur Bibi Ning dengan suara lembutnya.
Ansa menunduk dan matanya terasa panas. Ia mencoba menahan tangisnya. Bagaimana ini? Apakah aku harus pulang? batinnya yang mulai cemas.
Sanggar mulai sepi, semua telah pergi meninggalkan sanggar ini. Bibi Ning menghampiri Ansa yang masih duduk bersila di lantai dan menyandarkan punggungnya.
"Sayang, kok belum pulang?" tanya Bibi Ning.
"Aku ... aku takut Bi’ sama mama," lirih Ansa.
Bibi Ning mengusap pucuk kepala Ansa dan tersenyum. "Ansa tetap harus pulang dan minta maaf ke mama. Bibi yakin pasti mama memaafkan mu."
__ADS_1
"Perlu ku antar?" tanya seseorang di belakang Bibi Ning. Membuat mereka menoleh ke sumber suara.
"Boleh, Nak. Sepertinya saat ini Ansa memang butuh teman untuk pulang," jawab Bibi Ning.
Ansa menatap Ranu yang berdiri di belakang Bibi Ning. Lalu beliau membantu Ansa untuk berdiri. "Hati-hati di jalan ya!" pinta Bibi sembari mencium kening Ansa.
Ranu mengajak Ansa ke motornya. Ia menyerahkan helm kepadanya. "Mas, aku ngga mau pulang. Aku mau ke rumahmu aja," ucap Ansa dengan wajah memelas.
"Jangan gitu, Sa. Kamu tetap harus meminta maaf kepada orang tuamu karena bolos sekolah hari ini. Nanti aku bantu minta maaf di depan orang tuamu deh, oke?" tutur Ranu dengan suara lembutnya.
Membuat Ansa menjadi agak tenang. Mas Ranu berbeda dari yang tadi. Ternyata suaranya juga menenangkan.
Ansa mengangguk dan segera naik ke atas motor. Ranu segera tancap gas menuju rumah keluarga Hardiyata.
Selama di perjalanan, Ansa memeluk erat Ranu. Baginya, ini pertama kalinya ia naik motor.
Saat berhenti sementara di lampu merah, Ansa mengomel kepada Ranu. "Mas! Aku kedinginan!" bisiknya dengan memukul punggung Ranu.
Sehingga mereka berhenti di sebuah toko pakaian.
"Mau apa kita ke sini, Mas?" tanya Ansa yang bingung.
"Ayo masuk, Sa." Ranu tak menjawab dan malah menarik tangan Ansa masuk ke toko.
Ansa bingung dan sebenarnya ia tak terlalu suka memakai jaket. Buat apa ini? Aku lebih sering menaiki mobil, suhu di mobil sudah cocok untukku, batinnya.
"Ngga usah, Mas. Ayo pulang," ajak Ansa.
"Ngga, sayang. Ayo pilih dong. Biar kalau jalan sama aku, kamu ngga kedinginan lagi," tutur Ranu dengan muka memelas.
Ansa tak bisa menolak, atau mereka akan semakin lama di toko ini. Akhirnya Ansa memilih mantel berwarna coklat.
Ranu mencoba memastikan. "Yakin warna cokelat, Sa? Ini loh, yang warna kuning bagus loh. Oh! Atau yang biru ini juga cocok dengan bajumu."
"Mas, yang nantinya pakai mantel ini siapa?" tanya Ansa yang mulai lelah berdebat.
"Kamu. Tapi nanti saat bareng aku, mungkin aja kita bisa kembaran, Sa. Haha!" jawab Ranu dengan gelak tawa.
"Memangnya kita anak kembar?! Ya sudah deh! Mas mau aku pakai mantel warna apa?" Kali ini Ansa menyerah.
Tadi menyuruhku memilih warnanya sendiri. Sekarang protes kenapa aku milih warna kayak gitu. Minta disentil hatinya, ih! ucap Ansa dalam hati.
__ADS_1
"Hm, aku punya jaket warna navy sih. Biru aja ya?" tanyanya.
Segera Ansa jawab, "Yes, Sir!" Ia berbisik dengan wajah kesal. Ranu dengan senyum lebarnya segera pergi ke kasir.
Di luar toko, Ansa memberitahu bahwa setelah ini ia akan mengganti uang Ranu.
"Hei, ngga usah. Anggap aja itu hadiah ulang tahunmu yang terlewat, hehe," ucap Ranu.
"Kamu cocok pakai itu, Sa. Kalau memang kamu keluar dengan celana pendek, tolong pakai itu ya?" pinta Ranu.
"Kenapa? Mas ngga mau aku memamerkan kaki cantikku ini?" ucapnya dengan rayuan maut.
"Iya, kamu terlalu indah. Aku ngga mau ada yang menyukaimu, selain keluargamu dan ... aku," lirih Ranu padanya.
Selama perjalanan, Ansa menahan perasaan bahagianya dengan memikirkan reaksi orang tuanya yang mungkin akan memarahi dirinya habis-habisan.
Bagaimana ini? Sekarang aku mendapatkan kebahagiaan dari Mas Ranu. Berarti selanjutnya aku akan mendapat kesedihan. Ah, mau ngga mau, setelah ini aku harus menghadapi amarah Mama dan Papa. Tak bisa kah, hidup ini hanya berisi kebahagiaan saja? pikirnya yang semakin mempererat pelukannya ke pinggang Ranu.
Aku ngga suka cherophobia ini, batinnya sembari meneteskan air mata di balik kaca helm yang ia kenakan.
Sampai di rumah Ansa,
Ketika mereka sampai di rumah, Ansa mendapat pelukan khawatir dari orang tuanya.
"Ansa sayang!! Kamu ke mana aja? Mama, Mama khawatir sayang, huhu!" ucap ibu dengan memeluk erat putri semata wayangnya.
Ansa maupun Ranu terkejut dengan reaksi dari Bu Roro, bahkan Ayah Hardi juga mengusap-usap pucuk kepala Ansa. Ranu hanya tersenyum melihat pemandangan keluarga Hardiyata tersebut.
"Sayang, sayang. Kalau ada masalah di sekolah, langsung cerita ke Mama atau Papa ya. Walaupun kamu melihat kami sibuk, ngga apa, cerita aja," titah ibu dengan sesegukan.
"Iya Ansa. Telepon kami jika kamu memang ada masalah di sekolahmu. Papa dan Mama ngga akan marah, justru senang jika kamu menelpon," tambah ayah dengan memegang dagu Ansa.
Ansa hanya mengangguk dan membalas pelukan ibunya. "Maaf. Ansa minta maaf Ma, Pa. Huhu."
Ibu mengusap-usap punggung anaknya. "Setelah ini, Ansa bakal cerita ke Mama dan Papa ya?" ucap beliau dengan sesegukan.
"Kamu, Ranu ya? Anak sulung pak Widagda?" Kini ayah beralih ke seorang lelaki yang berdiri di depan pintu.
Ranu menyalami ayah. "Iya, Om Hardi. Saya Ranu Widagda," ucapnya dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Oh, haha! Ayo, Nak Ranu. Silakan masuk," ajak ayah kepada Ranu untuk duduk di ruang tamu. Ansa dan ibunya juga duduk di ruang tamu sembari menghapus air mata mereka.