
Di sekolah,
Ansa memasuki kelasnya dengan wajah lemas, pikirannya masih berputar-putar membayangkan kejadian kemarin. Dia terus menunduk, sedang tak ingin tersenyum ramah kepada siapapun.
Jaro dan Deniz baru turun dari mobil mereka, dan bel masuk kelas berbunyi. Mereka segera memacu langkah kaki mereka dengan berlari sekencang-kencangnya, menuju kelas masing-masing.
Di kelas,
Jaro melangkah masuk, dan disambut oleh tatapan tajam milik gurunya. Waduh! Miss inggris sudah masuk! batin Jaro sembari sedikit menyeringai malu.
Selama pelajaran, Miss inggris menjelaskan materi tentang beberapa tenses selama hampir dua jam. Diakhiri dengan tugas membuat cerita dialog menggunakan bahasa inggris.
”Hari Kamis, tolong kalian membuat dialog berdua dengan teman kalian. Tapi sebentar ...," tutur beliau sembari menghitung jumlah murid di kelas ini. "Oh pas! Jadi tolong buat dialog dengan teman kalian, harus laki dan perempuan ya. Terserah tentang apa, yang penting kalian menggunakan tenses di dalam dialog yang kalian buat," lanjut beliau.
"Ro! Woi! Bilangin ke teman sebelah mu, aku mau satu kelompok dengannya," bisik Mei.
"Mei, kamu ngga mau berpasangan dengan Jaro?" tanya Ansa.
__ADS_1
Mei menggelengkan kepalanya. "Ngga, beb. Aku ingin lebih mengenal lagi murid-murid yang ada di sini. Supaya mereka menjadi temanku, dan tambah banyak yang membeli biskuit ku, hihi," jelasnya.
Oh, jadi itu strateginya untuk berbisnis ya? ucap Ansa dalam hati.
Mei kembali mengganggu Jaro dengan mendorong-dorong punggung Jaro. "Ish, Ro! Bilangin ih!" bisiknya yang sangat berisik.
"Iya!" bisik Jaro sembari menoleh ke belakang. "Yon, kamu mau ngga, satu kelompok dengan yang di belakangmu itu?" tanya Jaro.
Dia ikut membalikkan badannya dan melihat ke arah Mei. "Boleh. Ayo kita jadi satu kelompok," jawabnya.
"Oke! Berarti, Ansa dengan Jaro ya? Eh, nama panggilan mu siapa?" cecar Mei dengan cepat.
Terdengar teman di samping Jaro menjawab, "Namaku Yono. Kalau kamu, Mei 'kan?"
"Iya, Yono. Oke! Kalau gitu nanti sore kita mulai buat ya! Tapi, enaknya kita kumpul di mana ya?" ucap Mei.
Jaro menjawab pertanyaan Ansa, "Nanti sore saja. Eh, tapi nanti kamu ke mana, Sa? Ada latihan modelling lagi ngga?"
__ADS_1
"Ngga ada Ro, dan mungkin ngga akan pernah lagi. Aku capek latihan di sana," lirihnya. Lalu Ansa kembali bersuara, "Eh, gimana kalau nanti kita ke rumah Bibi Ning?" bisiknya.
"Maksudmu sang—" balas Jaro, tapi dihentikan oleh Ansa.
"Shh! Iya itu, Ro. Harusnya nanti sore aku pergi ke tempat les, tapi aku akan menukarnya dengan besok. Jadi, nanti kita bisa bahas dialog dan De Rosa. Oke?"
"Tapi, kenapa kayak gitu?" tanya Jaro yang penasaran.
Ansa hanya menggelengkan kepala. "Nanti sore aku jelasin, Ro."
Saat istirahat,
Mei menarik tangan Ansa, dan mereka ke luar dari kelas. Sesuai janjinya, Mei telah membawa sekeranjang biskuit dengan bentuk angsa untuk teman barunya tersebut. Ya! Pastinya untuk Ansa.
"Ini Sa! Kamu ambil dua, ya! Nanti di kantin, kamu pegang dua biskuit di tanganmu, terus diangkat. Aku bakalan bilang kalau aku sedang bersama model muda yang berbakat!" tutur Mei sembari terus melangkah.
__ADS_1
Ansa hanya mengangguk dan tetap waspada terhadap jalanan yang dipenuhi oleh para murid, sama seperti mereka berdua. Langkah kaki mereka dipercepat supaya menggunakan waktu dengan efektif dan efisien.