
Hari Minggu,
Ansa dan ayah duduk berhadapan di meja makan. Suasana hening sejenak menyelimuti mereka berdua. Namun semenit kemudian, ayah bertanya mengenai latihan modelling.
“Sa, setelah ini Papa yang akan mengantarmu ke perusahaan modelling ya. Papa sekalian akan pergi ke kantor,” ujar ayah.
“Ngga mau, Pa. Aku berhenti latihan modelling. Lagi pula sudah ngga ada mama di sana.”
Tok tok!
Pembantu segera pergi untuk menyambut tamu di depan pintu rumah. Beberapa menit kemudian, pembantu meminta ayah untuk menemui tamu. “Non Ansa juga ikut ya. Tamunya adalah asistennya nyonya Roro,” ucap pembantu tersebut.
Mereka melangkah pergi dari meja makan, dan menuju ruang tamu. Sampai di sana, pandangan Ansa bertemu dengan senyuman hangat dari Ria, asisten ibunya. Namun Ansa langsung menunduk, sepertinya dia mengerti apa niat asisten tersebut datang ke rumah ini.
“Saya ingin menjadi asisten Ansa. Karena Ansa selalu mengingatkan saya kepada mendiang bu Roro. Dan, saya ingin terus membalas budi kepada mendiang bu Roro,” jelasnya.
Ayah dan Ria menoleh kepada Ansa, menunggu jawaban Ansa. Membuat Ansa menegakkan kepala untuk menyembunyikan rasa kagetnya. Aku harus jawab apa? batinnya.
“Sa, Ria masih mau setia menemanimu. Kamu tetap latihan modelling ya?” pinta ayah.
“Ngga, Pa. Maaf. Aku berhenti latihan modelling. Maaf ya, Mbak Ria.”
Ria mendekati Ansa, lalu memegang kedua bahu Ansa. “Sa, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu mungkin takut dengan anggapan orang-orang di sekitar, takut dengan gosip yang beredar, yang akan membuatmu jatuh. Tapi, itulah yang namanya menjadi populer. Akan ada banyak kritik yang bermunculan, Sa.”
Bahkan dia bisa menebak isi pikiranku, huf, ucap Ansa dalam hati.
“Mangkanya ada asisten yang siap membantu, men-support, dan menemani para artist-nya. Ayo, Sa. Ayo kita berjuang bersama. Ngga perlu takut,” lanjut Ria.
Kata-kata dan bujuk rayu milik Ria telah berhasil meluluhkan hati Ansa. Dia menganggukkan kepalanya dan mengiyakan ajakan Ria.
__ADS_1
Di rumah Jaro,
Saat membuka pintu kamar, Deniz dikejutkan oleh lemparan buku yang nyaris mengenai dirinya. Kedua netranya melotot ke arah sosok yang berdiri tak jauh darinya.
"Woi!!!" pekiknya.
"Mas! Cepat jawab jujur!!" Sosok tersebut adalah Jaro yang langsung mendekat dan mencengkeram kerah kaos Deniz. "Kamu yang menghabisi bu curang itu 'kan? Benar kan?!!"
"Le-lepas Ro. A-akh, lepas!!" Kekuatan Deniz yang lebih besar mampu melepas tangan Jaro yang mencengkeram kerahnya.
Deniz mengusap-usap lehernya, sembari mengatur nafas. Tinggi badan mereka mulai sejajar, walaupun tubuh Deniz lebih berotot daripada Jaro. Mereka berdua saling menatap tajam dan mengerutkan dahi.
"Kenapa kamu menuduhku seperti itu?! Aku ngga pernah mau berurusan dengan bu curang itu, Ro!"
"Pembohong!!" Jaro mendorong tubuh Deniz hingga tersungkur ke lantai.
"Waktu itu, kenapa Mas Deniz pulang ke rumah lebih awal?" tanya Jaro.
"Ibu yang menyuruhku untu--"
"Haduh ya ampun!! Ibu lagi! Itu cuma alasan, ya kan? Supaya kamu bisa bersembunyi dan menuduh ayah, 'kan?!!" bentak Jaro.
"Bisa kasih aku kesempatan untuk bicara ngga?!!"
"Ngga! Yang bisa merusak CCTV, kabur dengan Orbifly, mendorong bu curang itu cuma kamu, Mas!"
"Bukan aku, Ro. Bahkan aku ngga tahu alamat rumah bu curang itu!"
Oh ya. Yang tahu rumah Ansa di keluarga ini cuma ibu, aku, dan pasti ayah. Walaupun ayah ke sana secara diam-diam, pikir Jaro.
__ADS_1
"Hahaha!" Tawa Jaro menggema, seakan mengejek kakaknya.
"Ada apa?" tanya Deniz.
"Aku bukan lagi Jaro yang bisa kamu bohongi!! Mas pasti bisa melihat alamat bu curang itu dari riwayat kunjungan!"
"Iya, bisa seperti itu. Tapi apakah kamu bisa mengecek data scan dari kartu khusus si pelaku itu? Ngga kan?"
Pertanyaan Deniz membuat Jaro bungkam. Dia baru ingat dengan liburan dua tahun yang lalu ke rumah nenek. Saat itu, ayah menempelkan kartu khusus milik beliau sebagai identitas pemakai Orbifly. Walaupun akhirnya yang mengendarai adalah kedua anaknya, karena Deniz masih belum berumur 17 tahun.
"Ta-tapi ... data itu sangat pribadi, ngga ada yang bisa mengetahuinya," lirih Jaro.
"Oh ya? Aku bisa meretasnya dengan bantuan dari temanku." Deniz mengangkat dagunya. "Aku akan berusaha mencari pelakunya, Ro."
Jaro menghembuskan nafasnya. "Polisi harusnya bisa mencari tahu data pelaku yang mengendarai Orbifly itu! Bukankah mereka boleh melihatnya saat ada kasus seperti ini?"
"Hm ... iya juga sih. Tapi, pasti mereka ngga mudah mendapatkannya. Butuh waktu."
Jaro memutuskan untuk pergi dari hadapan kakaknya. Pikirannya semrawut, sama seperti Ansa.
Sore hari,
Jaro dan Ansa sedang berdiri di lantai teratas, di dekat Orbifly masing-masing. Dengan pikiran yang melanglang buana, mereka memikirkan cara untuk saling mengejutkan satu sama lain. Sebuah kejutan untuk saling balas dendam.
Jaro menempelkan handphone-nya ke telinga kanannya. "Halo. Aku butuh bantuan mu dan geng mu. Besok tolong sambut Ansa di kelasku ya."
"Halo, Mei. Aku sudah siapkan kado spesial untuk Jaro. Besok kita jadi menunggu di sana, 'kan?" tanya Ansa melalui telepon.
***
__ADS_1