Cherophobia Swan

Cherophobia Swan
Kalang Kabut_2


__ADS_3

Di sanggar,


Ansa segera turun dari mobil, tanpa bersuara sedikitpun kepada sopirnya. Setelah turun, ia melihat suasana di sanggarnya yang sangat sepi.


Ansa melangkahkan kakinya perlahan, sembari menarik dan membuang nafasnya. Air mata di wajahnya telah mengering sedari tadi. Ia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan dirinya.


Yang dirinya tahu, ia hanya butuh ketenangan, walaupun nantinya ia akan mendapat amukan dari ibunya. Tak apa, inilah konsekuensi dari kenakalannya.


Sanggar ini telah diwariskan turun temurun dari zaman neneknya yang sangat lihai menari, bermain teater, menyanyikan lagu, memainkan alat musik, dan pemujaan. Namun saat ini, pemujaan tersebut tak lagi dilakukan. Di sini sudah tak ada baki yang berisi sajen. Semua hal yang berbau tradisional, telah ditambah dengan hal yang lebih modern.


Yang merasakan adanya campuran tradisional dan modern adalah Ansa dan kawan-kawan seumurannya. Sedangkan pencetus ide untuk memasukkan hal-hal yang modern tersebut adalah Ibu Roro, ibunya Ansa.


Sanggar tersebut terdiri dari pelataran yang berlantai dan beratap kayu, serta bangunan-bangunan lain yang berisi alat musik maupun alat lukis.


Pelataran memiliki ukiran-ukiran indah di tiang penyangga atapnya, serta menyambung dengan rumah pengurus sanggar ini.


Sama seperti Jaro, Ansa terkenal di kalangan orang-orang yang sering mengunjungi sanggar ini. Ia dikenal sebagai anak dari pemilik sanggar ini, tapi mereka semua lebih suka memanggilnya dengan nama "Angsa" karena kebiasaan yang latah terhadap ucapan orang lain.


Ansa berlari ke arah pengurus sanggar yang sedang duduk bersantai sembari menyulam. "Bibi Ning!!" pekiknya yang telah melepas alas kaki dan berlari menyapu pelataran.


Sampai di depan pintu, Ansa menenggelamkan kepalanya di paha Bibi Ning dan kembali meneteskan air matanya.


"Loh? Ansa sayang, kok kamu di sini? Kamu ngga sekolah?" cecarnya dengan suara seraknya.


"Aku, a-aku bo-los, Bi," jawabnya dengan terbata-bata, disertai sesegukan.


Bibi Ning mengangkat kepala Ansa dan memegang kedua pipinya. "Sudah ... Ansa yang Bibi kenal, adalah Ansa yang kuat dan bertanggung jawab. Walaupun mama dan papa Ansa sering tak bersamamu, sebenarnya mereka ingin mengajarimu tumbuh mandiri, Nduk."


Ansa mengangguk, dan dirinya seakan tersihir dengan ucapan lembut yang keluar dari mulut beliau. Aku merasa tenang di sini.


"Besok, jangan bolos lagi ya? Sayang sekali kalau kamu ngga menyempatkan diri untuk belajar di sekolah. Ansa tahu sendiri kan, di sini banyak yang ngga melanjutkan sekolahnya ...," pinta Bibi Ning sembari memberinya nasihat.


"Mereka berpikir, hanya ini yang bisa mereka lakukan untuk mendapatkan uang, untuk membeli kebutuhan mereka. Mereka ngga sepertimu, Nduk. Kalau Ansa kan masih ada ayah dan ibu yang mencari uang, pembantu yang menyiapkan keperluan mu setiap hari, dan kita seperti para guru yang mirip di sekolahmu ... yang akan mengajari dan mengingatkanmu, Angsa." sambung Bibi Ning.

__ADS_1


Ansa hanya memanggutkan kepalanya, tanda setuju terhadap semua nasihat dari Bibi Ning. "Maaf Bi, Ansa masih terlihat cengeng dan—" lirih Ansa yang dipotong oleh Bibi Ning.


"Kamu capek ya? Mungkin saja orang tua Angsa lebih capek lagi ... mangkanya kamu sering mendengar mereka meluapkan amarahnya. Sekarang, coba lihat Ansa. Ansa tadi nangis, atau marah?"


"Dua-duanya, Bi," jawabnya dengan singkat.


"Iya ... sabar ya, Angsa kuat kok. Bibi sering lihat angsa yang jalan atau lari. Eh! terus menyebur ke kali dan hilang! Terus Bibi dekati angsa itu, tiba-tiba dia muncul. Lalu ia berenang dengan santai, tanpa beban, tanpa khawatir tenggelam," tutur Bibi Ning seakan sedang berdongeng.


Ansa meminta bantuan Bibi Ning untuk menumpang ke toilet dan berganti baju. Beliau mengiyakan dan melepasnya pergi masuk ke kediaman beliau.


Beberapa menit kemudian, Ansa telah memakai hotpants dan kaos lengan panjangnya. Ia terpaksa memakai bawahan seperti itu, karena pemberian dari ibunya.


Di atas pagar pembatas pelataran tersebut, Ansa duduk sembari berpegangan pada salah satu tiang.


Tanpa rasa khawatir? Apa bisa? Padahal aku memiliki rasa khawatir yang berlebihan, apalagi jika mendapat rasa senang sampai ke hati, maka bersiaplah dengan rasa duka yang menusuk hingga ke hati juga. Aku ngga tau cara menghilangkan cherophobia ini. Pikirannya begitu riuh.


Fobianya ini masih ia bisa atasi dengan berkunjung ke rumah keduanya, yakni sanggar. Ia bisa menenangkan dirinya dengan hiburan seni di sini, tanpa memikirkan orang tuanya.



Jaro dan Deniz telah berada di dalam mobil. Mereka mulai melacak keberadaan ayahnya. Sopir mereka masih menunggu aba-aba dari kedua majikannya tersebut.


Tring!


Sistem pelacak telah menemukan posisi ayahnya. Mereka sama-sama membaca perlahan dengan suara lantang. "Bun-ly-ho-tel?"


Jaro mengerutkan dahinya karena dirinya tak paham. Berkebalikan dengan Deniz yang lumayan paham dengan istilah kotor seperti itu. "Pak!!! Segera ke Bunly!!" pekik Deniz.


Sopir segera tancap gas dengan perasaan panik. "Tuan Deniz, memangnya ada apa? Kok kita mau ke sana? Itu bukan tempat untuk anak kecil, Tuan," tutur sopir dengan hati-hati.


"Mas, itu tempat apa?" tanya Jaro, membuat Deniz semakin bingung untuk merangkai jawaban yang sesuai untuk adiknya yang masih polos.


"Bun untuk bunny, Ly untuk dolly. Ah, sudah Ro! Lupakan!" bentak Deniz kepada adiknya.

__ADS_1


Jaro masih tak paham dengan penjelasan dari kakaknya. Dan melihat kakaknya yang panik disertai cucuran keringat, Jaro semakin mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh.


"Mau apa dia ke sana? Ba*ingan!" gumam Deniz yang terdengar oleh Jaro.


Memangnya tempat itu menyeramkan ya? Kalau iya, harus di-screenshot! pikir Jaro.


"Mas—" panggilnya yang terpotong oleh suara handphone yang telah melakukan screenshot pada layarnya.


Barulah Deniz menoleh kepada Jaro. "Apa?"


Jaro menggelengkan kepalanya. "Hehe, itu sudah Mas lakukan. Ma-kasih Mas."


"Aku yang berterimakasih padamu, Ro. Harusnya aku percaya sejak saat kamu bilang kalau ayah sedang melakukan kecurangan," balas kakaknya.


"Kecurangan? Memangnya ayah lagi ujian sekarang?" tanya Jaro.


Deniz segera menjawab, "Iya. Sejak menghadapi ujian dengan hidup bersama kita, ayah justru mengintip jawabannya di kertas lain. Jahat ya? Padahal bisa loh, memakai cara mengingat materi sesuai kemampuan kita. Tapi entahlah, kenapa ayah justru curang."


Hanya sebuah kebingungan yang di dalam pikiran Jaro. Ujian? Ayah curang saat ujian? Aku tetap ngga mengerti, padahal ayah yang mendirikan sekolah, tapi kenapa masih ujian hingga masa tuanya ini?


"Pak!!! Berhenti dulu!!" pekik Deniz yang mengagetkan sang sopir dan membuat sopir membanting setir mobil ke arah kiri.


Mobil terparkir secara dadakan, membuat penumpangnya tersentak ke depan.


"Tuan Deniz! Saya sedang menyetir! Ngga bisa ka—" Sopir merasa kesal kepada majikannya.


Namun Deniz kembali memberitahu. "Ayah bergerak pergi dari Bunly! Pak, Pak! Tolong ikuti ini ya! Ini, ini. Taruh handphone saya di depan Bapak," titahnya yang segera dilaksanakan oleh sopirnya.


Jaro mulai terlihat ketakutan, jantungnya masih berdegup kencang, mungkin lebih parah daripada saat dirinya melihat gadis pujaannya.


Bahkan dirinya ikut membentak sopirnya. "Ayo jalan Pak!" Setelah itu, ia meneteskan air mata.


***

__ADS_1


__ADS_2