
Tarian dimulai dari 3 penari dengan piring di kedua telapak tangannya. Mereka menari dengan pelan, sembari membolak-balikkan piring tanpa terjatuh. Senyum tak tampak di wajah mereka, justru pelototan mata menjadi andalan dalam tarian ini.
I was born a fool~
Broken all the rules~
Seeing all null~
Denying all of the truth~
Tiga penari tersebut segera meletakkan piring di sisi yang aman. Lalu muncullah 2 penari lain dengan selendang yang terikat di pinggang. Jadilah 5 penari tersebut menarik dengan elok. Tempo menarinya semakin lama, semakin cepat.
Everything has changed~
It all happened for a reason~
Down from the first stage~
It isn't something we fought for~
Tempo menari semakin cepat, karena 5 penari cantik tersebut ditambah oleh 2 penari kekar. 2 penari tersebut masuk dengan cara berbeda, yakni dengan meroda dan langsung mengikuti gerakan kelima penari cantik. Membuat semua penonton mulai bersorak.
Never wanted this kind of pain~
Turned myself so cold and heartless~
But one thing you should know~
Ketujuh penari tersebut segera melingkar saat musik terdiam beberapa detik. Detik selanjutnya, mereka serentak duduk bersila dan ternyata mereka sedang mengelilingi satu perempuan yang masih membelakangi penonton.
Saat mereka duduk dan musik kembali bersuara, perempuan tersebut membalikkan badannya. Memamerkan kemolekan tubuhnya, merah matanya yang lebar seakan dirinya sedang marah, ditambah kedua tangannya yang melambai seakan ingin mencengkeram dengan lembut.
Jaro terkejut saat perempuan yang berada di tengah tersebut membalikkan badannya, sembari melotot dengan lensa mata berwarna merah.
Bukan hanya Jaro, para penonton juga bersorak "Wuaa!!" kepada penari perempuan di tengah tujuh penari yang mengangkat kedua tangannya masing-masing sembari menggerakkan seluruh jemari.
Ketujuh penari terlihat seperti api yang mengelilingi satu penari yang menggerak-gerakkan mata lebarnya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
“Cak cak cak cak!”
Jaro mengenali perempuan yang berada di tengah itu. Bukankah, itu Ansa? pikirnya.
Kowe ra iso mlayu~
(Kamu tak bisa lari)
Soko kesalahan~
(Dari kesalahan)
Ajining diri ono ing lathi~
(Kehormatan diri berada di mulut / tutur kata)
Ya! Perempuan itu adalah Ansa. Sebelum tempo musik berubah menjadi cepat, Ansa keluar dari lingkaran ketujuh penari dan melangkah maju ke arah penonton.
Saat tempo musik menjadi cepat, Ansa dan ketujuh temannya menari dengan tarian modern. Mereka memang menggabungkan tarian tradisional dan modern. Nantinya mereka akan memperkenalkan sanggar ini lewat pentas seni, yang salah satunya berisi tarian ini.
Para kedelapan penari menunduk sopan sebagai ucapan terima kasih kepada penonton. Lalu mereka tersenyum lebar, sembari mengatur nafas.
Ranu melangkah maju dengan tepukan dari kedua tangannya. Di mata para junior, Ranu terlihat menyeramkan karena parasnya yang serius, walaupun sedang tersenyum.
"Bagus, bagus para penari!" ucap Ranu dengan suara beratnya. Ia juga menyebutkan nama-nama panggilan penari tersebut dengan tepat.
Ansa hanya menunduk, karena menahan tawanya saat Ranu sedang serius seperti saat ini.
Pasti dia hanya berdrama, biar semuanya takut. Dasar singa jinakku, hihi, batin Ansa yang masih berusaha menahan tawanya.
Ranu memberikan komentar kepada para penari tersebut, langsung di depan semua penonton.
Jaro tak lagi melihat Ansa maupun mendengar ocehan Ranu. Ia memilih memalingkan wajah, dan pandangannya beralih ke bangunan-bangunan yang belum ia kenali.
Ansa melihat ke arah penonton. Ia merasa senang saat melihat senyuman para penonton di hadapannya sekarang. Sesaat kemudian, raut wajahnya menjadi cemas. Keringatnya yang telah mengering, kembali bercucuran dan ditambah tangannya yang dingin.
Jadi, apakah dia yang waktu itu melihatku bersama mas Ranu? Iya, wajahnya sangat mirip saat dilihat dari samping! Haduh, gimana ya? Ansa menjadi sangat cemas dan tak fokus terhadap kritikan dari Ranu.
__ADS_1
Setelah pentas tari,
Tris mengajak Jaro untuk pergi ke bangunan-bangunan yang masih belum ia kenali. Seakan hari ini, Tris menjadi pemandu wisata yang mengantar Jaro berkeliling sanggar ini.
Pertama, mereka memasuki studio musik. Di dalamnya ada beberapa orang yang menyambut mereka berdua.
"Ini alat-alat musik yang tradisional. Kalau yang modern, ada di dalam sana, Jaro. Dan itu kakak pembimbing di studio musik," tutur Tris sembari mengajaknya berkenalan dengan kakak pembimbing.
"Sore, Kak—" sapa Jaro yang terputus.
"Sore! Namaku Cokro. Aku sebagai pembimbing di alat musik tradisional. Kalau kamu?" ucap Cokro dengan cepat.
"Saya Jaro, Kak Cokro," jawab Jaro.
"Oh, Jaro ya. Di sini, kamu ingin belajar apa?" tanya Cokro lagi, kini lebih ramah.
"Saya ingin belajar musik dengan gitar, Kak!" jawab Jaro dengan lantang.
"Oh gitu. Tris, tolong antarkan Jaro ke sana. Kayaknya si Nick masih mengajar anaknya main piano," titah Cokro kepada Tris.
Tris mengangguk dan segera mengajak Jaro melangkah menuju ruangan selanjutnya. Ruang alat musik tradisional dan modern dipisahkan oleh pintu raksasa yang saat ini tengah terbuka lebar.
Jaro sangat terpana, matanya terbuka lebar ketika melihat dinding di ruangan studio musik dipenuhi oleh gambar notasi balok.
"Tris! Jaro!" panggil seseorang dari belakang mereka berdua.
Sebelum mereka bertemu kakak pembimbing yang lain, ada seseorang yang memanggil mereka. "Hei! Hah, hah, huf. Cepat sekali jalan kalian," protesnya.
"Apa sih, Sa? Aku sedang memperkenalkan sanggar ini kepada Jaro. Memangnya ngga boleh?" balas Tris.
"Owalah. Em, i-itu Tris, Ro. Aku mau mengobrol sebentar dengan Jaro," ucap Ansa yang semakin lirih.
"Oh, boleh. Silakan," Tris mempersilakan Ansa untuk mengobrol dengan Jaro. Namun Ansa menarik tangan Jaro dan mengajaknya keluar dari studio.
__ADS_1