
Kedua manusia ambisius ini masih populer di kalangan warga Metropolitan.
Jaro memang tidak terlalu fokus lagi ke sekolah. Dia membagi fokusnya untuk nge-band di sanggar, kunjungan ke sekolah lain sebagai Duta Mandraguna, dan olimpiade.
Jaro pernah mendapat juara terbaik pasangan Duta Mandraguna, bersama Isyana. Banyak gosip beredar bahwa mereka sangat cocok dan berjodoh. Namun Jaro tak terlalu peduli, dia lebih peduli dengan misi balas dendam.
Sedangkan Ansa masih dikenal sebagai model yang memukau. Cara berjalan catwalk di panggung, kadang tak sengaja terbawa saat dirinya melangkahkan kaki di lorong-lorong kelas.
Ditambah dengan kelihaiannya menari dan menjadi juara olimpiade, membuatnya semakin terkenal.
Gosip pun tak bisa lepas dari dirinya. Pemain film, pemusik, desainer dan beberapa seniman lainnya pernah dikabarkan dekat dengan Ansa. Padahal dirinya hanya sedang diajak mengobrol masalah pekerjaan saja, tak lebih.
Selain kabar tentang kelebihannya, adanya gosip tentang dirinya yang disamakan seperti ibunya pun juga mencuat ke publik. Ansa sempat membicarakan gosip tersebut bersama asistennya, Ria.
Seperti yang terjadi malam ini, di ruang pribadi Ansa.
Ruang pribadinya terletak di lantai 8, yang merupakan ruang pribadi mendiang ibunya. Dinding bercat putih, meja yang diisi barang-barangnya, kursi yang bisa berputar 360 derajat, beberapa sofa, pendingin ruangan, dan jendela lebar yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit.
Ansa baru saja menyelesaikan sesi pemotretan. Dengan dress merah selutut dan tanpa lengan, dirinya duduk bersandar menghadap Ria.
"Mbak, aku sudah dewasa. Aku sudah tahu tentang gimana kelakuan mama sejak dulu." Ansa menghela nafasnya.
"Sekarang cerita dong, Mbak. Apakah mama bertindak seperti itu karena tuntutan pekerjaan, atau kemauannya sendiri?" tanya Ansa.
"Antara keduanya, Sa. Karena klien yang membeli jasa kami, terkadang agak manja," jawab Ria.
Brakk!
Ansa bangkit dengan bantuan kedua tangannya yang menempel di atas meja. Dia menggebrak meja karena kesal terhadap jawaban Ria.
"Jadi kalian dulu memaksa mamaku untuk menerima klien yang manja seperti itu? Supaya mamaku mendapatkan gosip yang menyakitkan itu?!" cecar Ansa.
__ADS_1
"Lalu dengan pemilik sekolah Mandraguna, apa yang kalian lakukan?! Kalian justru senang saat mengetahui bahwa artist kalian dijual ke orang menjijikkan itu!!" lanjut Ansa.
Mulut Ria agak bergetar saat mulai bercerita. "Model kami di sini memang sering mendapatkan penghasilan dari klien-klien yang membutuhkan jasa kami."
"Jasa yang kami berikan adalah model-model cantik yang bisa mempromosikan jualan klien kami. Jadinya bisa disebut brand ambassador gitu ya."
"Untuk pemilik sekolah Mandraguna ... sebenarnya itu adalah cerita lama, Sa. Mereka memang punya hubungan spesial sejak Roro masuk di perusahaan ini. Tapi mereka sangat pandai sembunyi-sembunyi, untuk menjaga image masing-masing."
Ansa memilih bungkam, tetapi membuka telinganya lebar-lebar. Jadi sebelum mama bertemu papa, mereka sudah bersama ya, batinnya.
"Beberapa tahun kemudian, kabar pernikahan Roro mulai tersebar. Saya kira dia menikah dengan pemilik sekolah itu. Eh, ternyata dengan pengusaha Tech Farm itu."
"Roro ngga pernah cerita apapun ke saya tentang hubungannya dengan pengusaha itu, Sa. Setelah 6 tahun menikah, waktu itu saya masih belum mendengar kabar mereka yang memiliki momongan." Ria telah selesai bercerita.
"Mungkin mama masih mencintai kariernya. Mangkanya menunda memiliki anak," lirih Ansa.
"Tapi saya sempat mendengar kabar burung tentang pernikahan mereka. Bahkan Roro tak merasa senang dengan pernikahannya sendiri ...."
Ibu Liana mengetuk pintu ruang kerja dan meminta izin untuk masuk. Kedua anaknya mengiyakan permintaan ibunya.
Di dalam ruangan tersebut, ibu mendekati Jaro. Beliau berbisik tentang olimpiade, dan Ansa.
"Minggu depan olimpiadenya akan dimulai. Tolong Ro, kalahkan dia," pinta ibu.
Jaro membuang mukanya. "Aku sudah memikirkan caranya Bu. Tenang saja." Dia kembali fokus ke bukunya.
"Tenang, tenang. Ibu ngga tenang. Kamu terus saja kalah darinya, Ro. Coba cari tahu, apa yang membuatnya terus saja mendapat juara ...."
"Oh, atau kamu sebaiknya keluar dari sanggar saja? Ibu lihat, kamu semakin tak fokus ke olimpiade karena kamu lebih suka ke tempat itu. Dan juga kamu terus saja bermesraan dengan partner dutamu," keluh ibu.
__ADS_1
Jaro mengerutkan dahinya. "Ngga gitu, Bu. Aku juga fokus ke olimpiade. Boleh kan, kalau aku istirahat dengan menyalurkan hobi ku di sanggar?"
"Untuk yang duta itu ... aku hanya menganggap Isyana sebagai partner kerja, Bu. Ngga lebih," lanjutnya.
"Tapi kenapa kamu masih saja kalah sih?" protes ibu.
"Dia lebih tak waras dari aku, Bu! Entah otaknya dibuat dari apa, atau mungkin dia menjaga makanannya. Aku ngga tahu," dalih Jaro.
"Kamu benar-benar ngga tahu kelemahannya? Dia takut apa gitu, atau dia punya aib apa gitu selain dia dimiripkan seperti ibunya yang menjadi penggoda?" cecar ibu.
"Ngga tahu, Bu. Aku bukan fans-nya yang terus mengikutinya," dusta Jaro.
Beberapa menit setelah berdebat, ibu melenggang pergi. Suasana di dalam ruang kerja kembali sunyi.
Jaro melirik ke arah kakaknya yang sedang fokus membaca buku di dekat jendela.
Huf, syukurlah mas Deniz menggunakan earphone-nya. Mungkin tadi dia tak mendengar obrolanku dengan ibu, batin Jaro.
Deniz telah memasuki jenjang perkuliahan di kampus Intence (Intelligence and Technology Advancement University). Inilah tahun keduanya berkuliah di sana, di kampusnya yang tak terlalu jauh dari rumah keluarga Daghiawi.
Jaro kembali lagi ke bukunya. Tapi beberapa menit kemudian, pikirannya kembali melayang ke rencananya untuk membuat Ansa jatuh.
Bukan jatuh cinta, tapi jatuhnya harga diri Ansa.
Pasti bisa! Dia akan malu, lalu satu sekolah akan membencinya! batin Jaro.
***
.
.
__ADS_1
.
Until now -> 50.243 words