
...“Inilah caraku!...
...Pemikiran terhadap fobia bahagia telah aku hilangkan....
...Dengan selalu mendekat kepada Allah SWT....
...Kalau kalian, gimana caranya?”...
Empat tahun kemudian,
Seorang pria berkacamata hitam dengan setelan kaos dan jaket yang sama-sama navy serta dipasangkan dengan jeans hitam, sedang melangkah keluar dari bandara. Dirinya segera menuju mobil jemputannya.
Di sisi lain, Ayah Awi sedang menerima tamu wanita yang berhijab warna pink. Beliau tersenyum dan membiarkan tamunya menuju kamar untuk meletakkan barang-barangnya.
Setelah itu, mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Ansa, gimana kuliah di pesantren? Lancar-lancar aja, 'kan?" tanya Ayah Awi.
Wanita berhijab pink itu adalah Ansa. "Alhamdulillah, Yah. Lancar ... dan ilmu yang saya dapatkan ternyata lebih dari yang saya duga."
"Mungkin bentar lagi dia akan sampai. Dia juga sudah wisuda kemarin, terus cepat-cepat pesan tiket balik ke sini! Haduh, dasar anak itu," ujar ayah.
"Ayah ... gimana keadaan ibu?" tanya Ansa dengan perlahan.
"Ibu sudah stabil. Ayah sering menemuinya, dan seiring waktu, dia mulai tersenyum."
Suasana sejenak hening, mungkin karena mereka yang tak bertemu selama empat tahun ini.
"Ansa, setelah ini kamu akan bekerja atau melanjutkan sekolah? Atau di rumah aja?"
"Sepertinya, saya akan bekerja di perusahaan papa, Yah."
__ADS_1
"Iya."
Tok tok!
"Pakeett!" teriak seseorang dari pintu rumah Daghiawi.
"Eh? Paketmu, Ansa?" tanya Ayah Awi.
"Ngga, Yah. Saya ngga memesan apapun ke sini. Mungkin punya Ayah," jawab Ansa.
Ayah Awi dan Ansa segera melangkah menuju pintu. Kurir paket tersebut tak berhenti berteriak, "Paket!!"
Apaan sih, songong banget sampai teriak-teriak gitu! batin Ansa.
"Ehh, dasar anak ini! Ngga salam malah teriak jadi kurir paket! Sini peluk Ayah!" protes ayah.
Lah, kok Ayah malah memeluk kurirnya? Memangnya Ayah kenal? Ansa semakin penasaran.
Ansa mengerutkan dahi karena kaget dipanggil seperti itu. Membuat dirinya menoleh ke kurir aneh tersebut.
"Sini sini!" Ajakannya membuat Ansa tersenyum lebar dan berlari ke arahnya.
Tak bisa ditahan, bahkan tak peduli dengan rasa malu kepada ayah, Ansa memeluk erat suaminya yang tadi berpura-pura sebagai kurir paket.
"Dasar ih! Malah jadi kurir yang godain aku!" Ansa menepuk pelan punggung suaminya.
"Maaf, maaf. Biar surprise gitu loh! Hihi!" jawab suaminya, Jaro.
Jaro melepaskan pelukan mereka. Lalu meminta beberapa pelayan untuk membantunya membawa barang-barangnya.
"Yah, Sa. Ini buat kalian. Terus yang ini nanti buat mas Deniz, papa Hardi, mama Ais, dan Yono," jelas Jaro.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Ansa.
"Buka aja."
"Ngga zonk?"
Jaro memasang wajah miris. "Aduh, ngga Sa. Kalau yang ini beneran oleh-oleh kok. Ayah juga langsung buka aja ya."
Lalu Jaro berpamitan untuk ke kamar dan mandi karena gerah setelah menempuh perjalanan cukup lama. Sedangkan Ayah Awi dan Ansa sibuk melihat hadiah dari Jaro.
"Ayah dikasih gantungan kunci dan kaos tulisan negara sana, hehe," ucap ayah.
"Kalau saya dikasih long dress dengan hijabnya, Yah." Ansa membalas senyuman beliau.
"Syukurlah."
Beberapa menit kemudian, mereka berkumpul di meja makan untuk makan siang bersama. Jaro tak melepas pandangannya dari Ansa yang telah membuka hijab, tapi masih memakai long dress pink-nya.
"Ngga panas pakai kayak gitu, Sa?" tanya Jaro.
"Awalnya, iya panas. Tapi kalau sudah biasa, ya biasa."
Jaro mengangguk dan kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut.
"Terus kamu, kenapa ngga pendekin rambut? Suka banget gondrong ya?"
Jaro mengibaskan rambutnya ke wajah Ansa. "Ihh, dasar!" protes Ansa.
Jaro hanya tersenyum dan terus mengunyah makanannya.
__ADS_1